Home / Artikel / Mengambil Peluang dari Hamparan MEA

Mengambil Peluang dari Hamparan MEA

 

Perlu disadari bahwa hanya orang yang tidak memiliki daya saing yang menganggap MEA sebagai ancaman. Bagi yang handal, itu malah merupakan peluang yang sangat besar. MEA akan menjadi berita baik untuk masa depan karirnya. Kenapa?

 

Dulu, tidak banyak kesempatan berinteraksi dengan para profesional kelas dunia. Sekarang? Mereka bakal berseliweran. Sehingga kita, bisa leluasa melakukan benchmark. Sadar dimana posisi kita dibanding mereka. Belajar dari mereka. Dan mengembangkan keunggulan pribadi kita.

 

“Elo bisa ngomong begitu karena sudah nggak kerja lagi, Dang! Coba elo masih kerja, pasti ketar-ketir juga kan?!” Anda boleh bilang begitu.

 

Tapi Anda perlu tahu bahwa dalam bisnis kami – Training – ada banyak sekali pemain luar yang sudah dan tengah menyiapkan diri untuk masuk ke pasar kita. Bukan hanya para profesional saja yang terdampak MEA. Para trainer juga kena. Tapi, ada yang memandangnya sebagai ancaman. Dan ada yang melihatnya sebagai peluang.

 

Bagi saya pribadi, MEA lebih merupakan sebuah anugerah. Karena, kehadiran mereka akan mengubah wajah bisnis training di Indonesia. Mereka akan membangunkan kesadaran korporasi yang selama ini malas mentraining karyawannya. Market Training, akan berkembang.

 

Semua trainer Indonesia paham betul betapa sulitnya membangun budaya Pengembangan SDM di tingkat korporasi. Antara mau dan tidak. Atau sekedar jalan saja. Training akan menggaung dimasa mendatang. Seperti halnya sudah menjadi kebutuhan pokok di negara-negara maju.

 

Tapi itu artinya kita mesti bersaing dengan orang asing dong. Lah iya. Lalu kenapa takut bersaing jika kita punya keunggulan? Pertanyaannya; unggulkah kita?

 

Saya pernah dipanggil Presiden Direktur di sebuah perusahaan Jerman. Bossnya juga orang Jerman. Dan sebagai orang Jerman, beliau blak-blakan meragukan kemampuan saya untuk bicara di forum para pimpinan yang banyak ekspatriatnya.

 

Tapi akhirnya beliau memilih saya menjadi pembicara. Para Direktur, Senior Manager dan Komisaris hadir dalam forum itu. Setelah selesai acara, beliau menyalami saya dan mengucapkan ‘Danke Sehr’.

 

Beberapa hari kemudian, beliau mengundang saya ke kantornya. And you know what? Beliau memberi 2 project lainnya untuk level middle manager dan supervisor. Orang Jerman. To the point. Tapi tulus. Dan Trust.

 

Apa kaitan kejadian ini dengan para trainer asing? Ada. Dalam pertemuan itu, beliau blak-blakan kalau mendapatkan masukan dari teamnya yang membandingkan saya dengan trainer asing yang dihire dengan – tentu saja – kualifikasi dan standard ala Jerman.

 

Hanya kesadaran bahwa semua atas pertolongan Allah saja yang membuat saya tidak mabuk kepayang. Intinya, trainer Indonesia banyak yang sekelas dengan pembicara asing loh. Bahkan lebih bagus dalam aspek-aspek tertentu. Dengan catatan; bagusnya bukan kelas tukang klaim kosong doang.

 

Kehadiran para trainer asing juga akan menjadi pembanding harga bagi tariner Indonesia. Tak jarang perusahaan yang menganggap ‘mahal’ fee untuk trainer-trainer Indonesia yang bagus.

 

Kelak ketika para trainer asing datang, menejemen perusahaan akan sadar bahwa trainer Indonesia itu harganya lebih masuk akal dengan kualitas materi dan delivery skills yang minimal sebanding dengan trainer asing.

 

Ah. Kalau saya terus bicara soal ini, nanti artikelnya tidak lagi relevan dengan profesi Anda. Intinya begini. Ubah sudut pandang Anda terhadap MEA. Dari ancaman. Menjadi hamparan peluang. Maka mata batin Anda; akanĀ  membimbing Anda menuju peluang itu.

Catatan kaki:

Peluang itu banyak. Tapi, hanya orang yang percaya bahwa peluang itu ada yang bisa melihatnya. Orang yang melihat peluang itu juga banyak. Namun, hanya orang yang mengambil peluang itu yang mendapat manfaat dari keberadaannya.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment