Home / Artikel / Where To Start The Plan?

Where To Start The Plan?

 
Ada beberapa pertanyaan terkait artikel saya “I Have A Plan For You”.  Bagaimana memulainya? Apa maksudnya? Kumaha contoh kongkritnya? Untuk menghemat sumberdaya, saya rangkum saja disini responnya ya.
 
Sebenarnya, tidak perlu terlalu banyak berteori untuk melakukannya. Lakukan sajalah dengan ilmu leadership apapun yang sudah Anda miliki. Terserah ilmunya pakai madzhab yang mana. Toh bukan ‘aliran’ atau ‘sumber referensi’-nya yang paling penting. Melainkan implementasinya. Tapi tujuh langkah sederhana ini mungkin bisa membantu.
 
Sebelum mulai. Mari kita pahami lagi bahwa sebagai atasan, kita punya 2 misi. (Satu) untuk membangun keunggulan unit kerja kita, melalui (Dua) keunggulan individual orang-orang terbaik kita. Dari prinsip ini, maka lahirlah ‘I Have A Plan For You…’ itu. Where to startnya bisa mengacu pada tahapan berikut ini.
 
Pertama, pahami aspirasi anak buah Anda. Setiap pegawai bagus punya aspirasi untuk karirnya. Anda, tidak mungkin bisa membuat rencana yang tepat buat anak buah jika tidak paham apa aspirasi karir mereka.
 
Gimana caranya? Bicaralah. Bertanyalah. Dengarkanlah. Perhatikanlah. Maka Anda, akan paham apa aspirasi karirnya.
 
Kedua, berilah anak buah Anda wawasan tentang dinamika organisasi dibalik hirarki di perusahaan Anda. Anak buah, tidak selalu mengetahui; peluang karir apa yang ada di perusahaan. Makanya, mereka tidak selalu bisa melihat ‘sisi cerah masa depannya’ di perusahaan. Oleh karenanya, mereka perlu dibantu oleh atasan untuk melihatnya.
 
Gimana kongkritnya? Ada contoh menarik nih. Pekan lalu, saya memfasilitasi program training 2 hari bertajuk ‘Future Leader Development’ untuk talenta-talenta muda di sebuah perusahaan. Di hari pertama, mereka dibekali dengan career planning principles, what and hownya.
 
Malam harinya, senior leader di perusahaan mengajak peserta untuk membedah career opportunity apa saja yang ada di perusahaan. Ingat, banyak informasi penting yang hanya diketahui oleh kalangan terbatas loh. Contoh. Berapa banyak dan kapan menejer bakal pensiun. Atau posisi baru apa yang ada dalam strategic planning perusahaan, dan sebagainya.
 
Informasi-informasi itu dibuka secara gamblang kepada para talenta muda itu. Kita beri mereka asupan berupa peta pengembangan organisasi, peluang yang ada, lalu menantang mereka untuk meraihnya. Sampai mata mereka terbelalak, walau pun sudah cukup larut dalam dinginnya malam.
 
Ketiga. Set your initial plan. Yeah. Set your initial plan. Anak buah Anda itu, masih hijau. Maunya banyak, angan-angannya melambung, tenaganya besar. Tapi belum tahu mesti mulai dari mana. Sebagai atasannya, Anda yang harus mendampingi proses belajar itu. Dan sebelum itu, you have to posses the plan first. Biar nggak asbun bin kosongan.
 
Keempat, Ask them to develop their own plan. Minta mereka membuat rencana pengembangan karir mereka sendiri. Hijau. Tapi berpotensi.  Nggak tahu gimana caranya, tapi harus. Efeknya: bingung, tapi bakal bisa. Nggak apa-apa. Anda bantu saja dengan format, struktur atau kerangka sebagaimana yang Anda gunakan dalama tahap ketiga tadi.
 
Kelima, compare your plan with them. Duduk bareng lagi. Lihat dari berbagai sudut lagi. Saling melengkapi lagi. Lalu sepakati ‘what to do next’-nya.
 
Keenam, do the action plan. Kebanyakan gagasan gagal bukan karena jeleknya perencanaan. Tapi karena buruknya pelaksanaan. You want to build a great team? Help your people to grow as you both planned.
 
Ketujuh, evaluate and adjust. Tidak selalu sesuai dengan perkiraan kita kan situasi aktualnya. Maka stick to the plan itu bagus. Namun being agile juga sangat penting. Lagi pula, banyak jalan menuju satu tujuan. So adjust aja jika diperlukan. Done.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment