Home / Artikel / Waspada dan Berhati-hati Dalam Memaafkan

Waspada dan Berhati-hati Dalam Memaafkan

 
Kalau orang berbuat salah. Lalu minta maaf pada Anda. Apakah Anda bersedia memaafkannya. Tentu. Toh kita sendiri pun pernah berbuat salah. Maka maafkan sajalah. Tapi. Kalau orang itu melakukan kesalahan yang sama. Lagi. Dan lagi. Masih perlukah memaafkannya?
Tetap perlu dong. Tuhan saja maha pemaaf kok. Masa kita tidak mau memberi maaf. Tapi. Kepada orang yang gemar mengulangi kesalahan yang sama, harus ada tindakan lebih dari sekedar memaafkan. Toh percuma juga kalau dimaafkan kalau kembali berulang.
Orang itu sebetulnya lebih membutuhkan bantuan untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya daripada terus menerus dimaafkan. Lagi pula, kalau manusia memaafkan; tidak berarti pertanggungjawaban dia dihadapan Tuhan selesai kan? Memaafkan ya memaafkan. Hukum ya tetap dijalankan. Kasihan kan.
Lalu, bagaimana cara memberinya bantuan supaya tidak melakukan kesalahan yang sama pada kita? Pertama ya nasihat. Sepele. Tapi bernilai tinggi. Dalam pandangan Islam, menasihati tentang kebaikan itu merupakan ibadah. Kitab suci pun berisi nasihat kan?
Kalau tidak menurut juga dengan nasihat? Langkah kedua. Yaitu, menyadarkannya terhadap konsekuensi atas tindakannya. Kita tidak berhak menghukum orang lain. Tapi kita berhak menetapkan konsekuensi terhadap perilaku orang lain pada kita.
Contoh. Kalau orang itu tidak sopan ya jangan harap bakal digubris, kan gitu. Konsekuensi. Tidak sama dengan hukuman. Tapi konsekuensi memberi orang lain pilihan. Elo boleh aja kalau mau bertindak seperti itu, tapi beginilah konsekuensi yang bakal elo hadapi. Kira-kira begitu.
Kalau belum juga nyadar? Ya sudah. Tinggalkan saja. Walaupun terasa berat melakukannya.
Bukankah itu artinya kita tidak memaafkan? Oh, bukan. Kita tetap memaafkannya. Tapi kita tidak lagi menginginkannya. Sudah. Berpisah sajalah. Karena kehadirannya dalam hidup kita, bukan membawa kebaikan. Melainkan keburukan yang dia tidak ingin hentikan.
Tapi kan nggak enak?!
Iya. Namun perlu diingat. Bahwa Allah maha pemaaf dan kita memberi maaf. Allah maha tegas. Dan kita belajar menjadi pribadi yang tegas. Maka jangan takut melakukannya.
Rasulullah pun menasihatkan bahwa; salah satu dari 7 golongan yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tidak ada naungan selain dari Allah Azza Wajalla adalah; “Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Bersatu dan berpisah karena Allah.”
Soal saling mencintai saja sedemikian pentingnya menjadikan Allah sebagai landasan. Apalagi cuman sekedar berteman. Di fb. Di wa. Di berbagai media. Atau di dunia nyata. Tidak ada larangan untuk berteman. Tapi, mesti ada aturan main yang ditegakkan.
Jika kita menjadikan ‘keridoan Allah’ sebagai patokan pertemanan, maka kita tidak akan membiarkan teman kita melakukan tindakan tercela. Kita akan maafkan memang. Tapi kita nasihati dia. Kita sadarkan atas konsekuensi perbuatannya. Atau, kita tinggalkan saja dia agar perilaku buruknya tidak terulang kembali.
Lagi pula,  dengan siapa kita bergaul. Sedikit banyaknya menentukan sikap dan perilaku hidup kita sendiri. Dan faktanya, ada orang tertentu yang tidak mau berhenti dari perilaku buruknya. Kepada orang seperti inilah, kita mesti waspada. Walaupun kita memaafkannya.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment