Home / Artikel / Tunduknya Pekerjaan Sulit

Tunduknya Pekerjaan Sulit

 
Kita sering kagum pada orang-orang yang sedemikian terampilnya mengerjakan sesuatu. Padahal, kita dan kebanyakan orang lainnya menganggap hal itu sangat sulit untuk dilakukan.
 
Video tentang 2 pekerja perempuan pengemas snack itu misalnya. Menjadi viral karena kemampuan kerja mereka yang mengagumkan. Mereka seolah bisa ‘melihat’ dengan mata batin. Sehingga pekerjaan itu bisa dilakukan sambil merem sekalipun.
 
Banyak kaum profesional lainnya yang kemampuannya membuat kita berdecak kagum. Dihadapan mereka, seolah pekerjaan sulit itu tunduk dan bertekuk lutut.
 
‘Kok bisa begitu ya?’ Begitu kita sering bertanya. Dan setelah ditelaah dalam-dalam, ternyata mereka semua memiliki satu kesamaan. Kesamaan apakah itu?
 
Begini: Mereka mengasah diri sendiri untuk mencapai tingkat kemampuan dengan standar pribadi yang melampaui standar umum.
 
Untuk menjadi penjual teh tarik misalnya. Kalau sekedar bisa menyeduh teh, menambahkan gula, lalu mengaduknya dengan sendok. Maka sudah memenuhi standar umum untuk melayani pelanggan.
 
Tapi ada beberapa penjual teh tarik yang bukan hanya nyeduh, nggulai, dan ngaduk. Melainkan ‘menari’ bersama air teh yang ‘terbang’ meliuk kesana kemari tanpa setetes pun yang tertumpah.
 
Standar tinggi itu kemudian ditopang oleh komitmen untuk terus berlatih, dan ditunjang oleh fondasi bernama ‘menjalaninya dengan sepenuh hati’.
 
Sungguh tidak mungkin orang yang enggan berlatih bisa memiliki keterampilan tingkat tinggi. Dan sangat mustahil, orang yang kerjanya setengah hati mampu mencapai maqom paling puncak dari pola, sikap, dan cara, serta kualitas kerjanya.
 
Maka sekarang kita boleh menarik benang merah rahasia kehebatan mereka. Yaitu satu, menerapkan standar pribadi yang tinggi. Dua, berkomitmen untuk melatih diri sendiri. Tiga, menjalani setiap tahapan pekerjaan mereka dengan setulus hati.
 
Ketika berhasil menunjukkan ketiga kualitas pribadi itu, kemudian Tuhan memberikan titah kepada pekerjaannya; untuk tunduk dan patuh kepada orang itu. Sehingga ditangannya, pekerjaan sesusah apapun; menjadi sangat mudah. Dan dimata orang lain, cara bekerjanya terlihat begitu indah.
 
Ditangan mereka, bekerja menjadi seperti sebuah proses untuk menghasilkan sebuah karya seni. Dan cara kerjanya bagaikan pagelaran kesenian yang menawan hati. Sehingga orang datang bukan sekedar untuk membeli. Melainkan untuk menonton sebuah pertujukkan. Dan bagi orang itu, pekerjaan adalah sebuah kegiatan, yang membahagiakan.
 
Semoga, kita dikaruniai tiga kemampuan itu ya. Agar kelak, Allah berkenan menundukkan pekerjaan sulit itu dihadapan kita. Sehingga kita, memandang pekerjaan ini bukan sekedar ladang nafkah. Melainkan juga sarana, untuk menjadikan hidup kita lebih indah. Insya Allah.
 
Catatan Kaki
Segala sesuatu pekerjaan yang sulit akan menjadi tunduk dan mudah apabila kita belajar dan berlatih terur menerus, sesuai dengan pepatah “Sekeras-kerasnya batu jika terkena tetesan air setiap hari lama-lama akan tergerus atau berlekuk bahkan bisa habis terkikis. Kita ibarat tetesan air, jika tanpa putus asa maka rintangan(batu besar) yang sangat berat pun bisa ditaklukkan. Dengan keyakinan kuat dan tak kenal lelah maka sukses akan dituai dan harus disertai rasa syukur agar setiap tetesan air diberkahi”. Semangat Terus , Terus Berkarya demi Bangsa Indonesia dan Jadilah Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman (Edited By Lukman Hakim)

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment