Home / Artikel / Tidak Cocok Dengan Atasan

Tidak Cocok Dengan Atasan

 
Apakah Anda merasa cocok dengan atasan Anda? Ternyata, banyak yang merasa sebaliknya loh. Dan ini, tidak hanya berlaku pada anak buah. Atasannya juga begitu. Lho, kok bisa? Lha iya. Karena seorang atasan pun punya atasan lagi. Lucunya, anak buahnya merasa tidak sreg dengan cara dia memimpinnya. Sedangkan dia sendiri pun merasa tidak cocok dengan cara atasannya yang lebih tinggi memimpin dirinya. Wajar nggak sih kalau situasinya seperti itu?
Dalam konteks bahwa kita masing-masing beda jiwa, beda kepala, beda pembawaan sehingga kita tidak bisa selalu sependapat; maka itu wajar. Saya tidak selalu sepakat dengan atasan saya. Demikian pula anak buah saya yang tidak selalu sepaham dengan saya untuk hal-hal tertentu. Seperti halnya juga Anda dengan anak buah dan atasan Anda. Wajar. Dalam konteks itu.
Situasinya akan menjadi tidak lagi wajar jika, ketidaksepahaman itu menimbulkan perselisihan antara atasan dengan bawahan. Bakal ribet jadinya jika demikian. Mana mungkin pula kita bisa bekerja dengan baik bersama seseorang yang sedang berselisih dengan kita kan. Tapi, begitulah faktanya. Di banyak perusahaan, hal semacam itu seperti sebuah hal lumrah saja. Padahal, tidak produktif dan merugikan semua pihak.
Orang mengatakan bahwa efek paling ringan dari kondisi seperti itu adalah; tidak terbangunnya ‘mutual respect’ atau sikap saling menghargai antara atasan dengan bawahan. Dan efek terburuknya adalah; seseorang akan keluar dari perusahaan lalu pindah ke perusahaan lain meskipun dibayar lebih rendah. Bahkan ada pula yang rela menganggur daripada harus bekerja dengan orang yang tidak disukainya.
Saya pribadi, tidak bisa menyatakan bahwa tidak terbentuknya mutual respect itu sebagai efek paling ringan. Boleh jadi malah yang paling berat. Kenapa? Karena, perusahaan bakal susah kalau para pekerjanya seperti itu. Atasan bakal susah karena anak buahnya tidak akan bekerja sungguh-sungguh. Anak buah juga susah karena atasannya tidak mungkin mau membantu karirnya. Teman-temannya susah, karena ikut terimbas masalah diantara mereka. Pelanggan susah karena kualitas pelayanan pun terhambat. Ah, udah deh pokoknya merembet kemana-mana.
Jadi, gimana dong jalan keluarnya? Sederhananya, begini; “Belajarlah untuk menjadi orang yang waras.” Kamsute opo? Maksudnya, berpikir dan bersikaplah secara dewasa. Ciri orang dewasa gimana? Kalau ada masalah, diselesaikan. Bukannya dipendam atau melarikan diri dari permasalahan. Pindah kerja hanya karena tidak cocok dengan atasan, misalnya. Berharap di perusahaan lain tidak ketemu dengan atasan macam itu? Waduh, terlalu ngarep. Nggak ada jaminan kalau di tempat baru nggak ada orang kayak gitu. Mungkin malah lebih parah.
Memendam ketidaksukaan juga nggak baik. Ente mau bekerja sambil perasaannya tertekan? Ya nggak dong. Mau, kerja sambil menggerutu? Mungkin dalam keadaan seperti itu pekerjaan Anda tetap selesai. Tapi, sikap seperti itu membuat Anda mengalami sakit secara mental. Jangan salah sangka, sakit secara mental tidak berarti gila loh. Tapi, Anda tidak mendapatkan ketenteraman batin selama menjalani pekerjaan itu.
Sedemikian pentingnyakah ketenteraman batin buat para pekerja keras seperti kita? Ya iyya dong. Emangnya Anda dibayar berapa, sehingga rela bekerja meski mengalami tekanan batin? Nggak bakal sepadan berapapun gaji Anda. Jika Anda tidak menikmati proses bekerja itu. Percayalah. Anda, butuh lebih dari sekedar uang sebagai upah kerja. Anda butuh pemenuhan fungsi-fungsi immaterial lainnya untuk bisa bahagia dalam bekerja. Bersungguh-sungguh menjalaninya. Dan akhirnya, mencatatkan prestasi dan pencapaian yang membuat diri Anda merasa puas.
“Iya, ngerti sih. Tapi atasan gue emang nyebelin banggeeeeetzzz…!” Gimana dong? Begini. Seburuk-buruknya kelakuan atasan Anda,  dia bakal butuh orang yang mampu menyokong kinerjanya. Kalau Anda bisa menjadi orang paling ‘diharepin’ buat kelarnya kerjaan dia, maka Anda jadi orang penting baginya. Meski polahnya kurang asyik, tapi dia bakal tetap menjaga Anda.
“Enak aja Dang. Dia bakal keenakan kalau gitu mah!”
Apa ruginya sih membahagiakan orang lain melalui bagusnya kinerja dan pekerjaan Anda? Nggak rugi sama sekali. Justru Anda punya kesempatan untuk menunjukkan bahwa; dalam kondisi yang paling tidak asyik sekalipun Anda masih bisa berperilaku bagus dan membukukan kinerja istimewa.
Jangan anggap enteng loh. Karena hal itu akan satu, menarik perhatian calon boss lain untuk ‘mengambil’ Anda. Dua, posisi sumber nafkah Anda aman karena Anda tidak tergantikan. Dan ketiga, postensi diri Anda tereksplorasi dengan baik sehingga kemampuan Anda semakin terasah. Itu loh yang menjadikan Anda lebih baik daripada orang lain selevel Anda yang selama hidupnya tidak pernah ‘dipaksa’ untuk mengerahkan seluruh kemampuan dirinya.
Jadi, bahkan atasan paling buruk pun bisa membawa dampak positif pada Anda. Karena, ini bukan soal bagaimana orang lain tersikap dan bertingkah kepada Anda. Melainkan soal bagaimana Anda, menyikapi tingkah polah mereka. Konversikanlah situasi yang Anda hadapi itu menjadi energi untuk meningkatkan kapasitas diri Anda. Kalau Anda bisa begitu, insya Allah; dengan siapapun Anda bekerja, Anda akan selalu menjadi yang terbaik. Dan, Anda pun akan mendapatkan efek yang paling baik. Insya Allah. Aamiin…
Catatan kaki:
Atasan yang buruk hanya berefek buruk kepada anak buah yang menyikapi keburukannya dengan sikap yang buruk. Bagi anak buah yang menyikapinya dengan baik, keburukan atasan tetap akan berbuah baik. Karena selama menjalani pekerjaan itu, dia akan selalu melakukan hal-hal yang baik.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment