Home / Artikel / Tabik Bagi Pekerja Perempuan

Tabik Bagi Pekerja Perempuan

 
Dalam perjalanan menuju ke kantor pagi ini, saya diingatkan lagi tentang betapa mengagumkannya para pekerja perempuan. Setelah SIBUK dengan pekerjaannya di rumah. Mereka melanjutkannya dengan kesibukan kantor.
Di mobil omprengan yang saya tebengi pagi ini ada 6 penumpang. Lelaki, hanya saya sendiri. Lima lainnya para pekerja perempuan. Masya Alloh. Memang Alloh menciptakan perempuan untuk menjadi mahluk yang kuat menanggung beban yang sangat banyak.
Bahkan sampai sekarang, saya belum bisa memahami. Bagaimana para lelaki seperti kami bisa mengurusi anak-anak dan berbagai tugas rumah sebanyak itu, kemudian berangkat ke tempat kerja seperti mereka. Para pekerja lelaki yang hanya ‘kerja kantoran’ seperti kami sering merasa keteteran.
Tiga dari 5 pekerja perempuan di mobil itu tidur sepanjang perjalanan. Dari ‘nyenyaknya’ tidur mereka. Bisa saya bayangkan betapa lelahnya mereka. Yang dua lagi, tidak tidur bukan karena tidak lelah juga saya rasa. Tapi karena mereka saling kenal. Sehingga bisa mengobrol sepanjang perjalan. Sedangkan saya, ngobrol dengan Anda melalui tulisan ini.
Di kantor, kita tahu bagaimana para pekerja perempuan bekerja. Yang jadi sekretaris, lebih sibuk pak pik pek dibandingkan bossnya sendiri yang laki-laki. Di kubikal, para pekerja perempuan sering menangani lebih beragam penugasan dari pada pekerja laki-laki. Kalau kita teliti, lebih banyak item pekerjaan yang ‘disentuh’ pekerja perempuan daripada pegawai lelaki.
Lalu bisakah Anda bayangkan betapa besarnya energi yang perempuan sumbangkan kepada kehidupan kita? Di rumah, maupun di kantor kita? Sekali waktu saya pernah naik bus Trans Jakarta sekitar jam 7 malam. Masya Alloh. Penumpang dalam bis yang berdesak-desakan itu mayoritas pekerja perempuan. Sebagian besarnya berdiri.
Dalam sebulan. Saya naik bis TJ hanya satu atau dua kali. Tapi para pekerja perempuan ini menjalaninya setiap hari. Pergi dari rumah pagi sekali. Dan jam 7 malam masih harus berdempetan dalam bis sambil berdiri. Itu pun masih ngurusin pekerjaan. Melalui gadgetnya mereka ‘mengendalikan dunia’.
Pekerja perempuan didepan kanan saya chatting tentang komplain pelanggan yang belum terselesaikan. Isi chattingannya itu seperti kita sedang rapat. Dengan tangan kiri yang sesekali menggelatung di pegangan bis, jari jemarinya sedemikian cekatan mengetik huruf demi huruf. Tak tahu saya, dimana ada kursus mengetik secepat itu.
Pekerja perempuan disebelah kiri saya chatting dengan suaminya. “Papa sudah makan apa belum?” Duh. Meleleh hati saya. Mereka masih memikirkan suaminya. Padahal, dalam bis yang padat seperti itu para suami belum tentu ingat pada istrinya. Saya. Nggak kepikiran apakah istri saya sudah dinner atau belum. Yang ada dalam benak ini hanya kepenatan dan keinginan untuk segera sampai di tujuan.
Perempuan pekerja yang berdiri di depan saya menggeser posisinya. Hingga layar smart phonenya kelihatan. Dia sedang cetting dengan seseorang bernama ‘Ayah’. Pesan yang diterimanya berbunyi begini; “Jangan lupa beli ketoprak didepan komplek ya…”
Dulu ketika masih jadi workaholik. Saya juga menyaksikan para pekerja perempuan masih bekerja walau sudah jam 11 malam. Dengan bedak yang sudah mulai pudar. Mereka masih menangani pekerjaan dengan sabar.
Masya Alloh. Betapa indah dan kokohnya perempuan yang diciptakan Alloh. Hingga kesibukan 24 jam tidak bisa menghabiskan baterainya. Sebagai lelaki, saya tak pernah henti mengangumi mereka. Sehingga mungkin saya tak bisa berhenti menuliskan kesaksian.
Tapi tak usahlah saya tuliskan lagi. Sebentar lagi saya sampai di tujuan. Mobil omprengan sudah masuk jalan Sudirman. Saya harus turun di BRI. Kemudian berjalan sedikit ke GKBI. Pekerjaan yang sudah seminggu ditinggalkan sudah menanti. Saya akhiri artikel ini sampai disini. Teriring hormat dan tabik setulus hati. Untuk para pekerja perempuan diseluruh penjuru bumi.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment