Home / Artikel / Spirit Anti Main Stream

Spirit Anti Main Stream

 
Main stream itu sebutan bagi pola perilaku atau pemikiran masyarakat pada umumnya. Maka anti main stream bermaka pemikiran, keputusan, atau tindakan yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya.
Perlukah menjadi pribadi anti main stream? Perlu. Walau pun tidak harus dalam segala hal. Kenapa? Karena hal itu pasti menjadi faktor diferensiasi yang signifikan. Dan, membuka peluang terbangunnya keunggulan.
Orang-orang yang anti main stream cenderung ‘agak beda’. Tapi, bukan ASAL BEDA. Perbedaannya harus positif dong. Blue Ocean Strategy merupakan salah satu contoh aplikasi anti main stream dalam menejemen.
Dalam konteks pribadi? Orang-orang cerdas sering anti main stream. Agen perubahan, wajib punya karakter anti main stream. Kantor Anda, tidak akan mengalami perkembangan istimewa jika tidak ada spirit anti main stream didalamnya.
Saya misalnya. Berkarakter anti main stream. Cara saya kuliah. Cara saya membangun karir. Cara saya memfasilitasi training di kelas. Bahkan cara saya menikah. Saya nggak yakin ada orang yang menikah pake cara saya. ‘I did it maaaaay weeey….,’ begitu kata Frank Sinatra.
Anda, termasuk anti main stream juga? Cobain kalau belum. Dengan begitu Anda bisa standout from the crowd. You can be you. Not just like any body else. Tapi ya itu tadi. Tantangannya pasti banyak.
Karena berbeda dengan pola pikir kebanyakan orang, maka orang yang anti main stream sering dianggap aneh. Edan. Bahkan dituduh yang enggak-enggak. Jangan panik jika mengalami hal seperti itu. Nyantai saja. Dan fokus saja pada tujuan besar kita.
Ngomong mah gampang Dang! Elo sendiri berani bertindak nggak? Sekarang. Bukan yang dulu!
Baik. Saya beri Anda contoh nyata biar tidak menilai Anti Main Stream ini sebagai wacana omong kosong belaka.
Ketika kebanyakan orang memandang mobil sebagai simbol status, saya sebaliknya. Sejak tahun 2014 tidak ada STNK mobil atas nama saya. Hanya keperluan istri dan anak saja yang difasilitasi mobil. Memang mereka perlu itu.
Saya sendiri? Pakai motor sampai ke stasiun atau pool parkir umum. Lanjut pakai kereta, trans Jakarta, atau omprengan. Jika harus pakai mobil karena hujan atau pergi meeting, tinggal pesan taksi aja. Hasilnya? Lebih simple. Dan kualitas hidup tetap baik. Malah dalam aspek tertentu, lebih baik.
Ah, itu biasa Dang! Sudah basi juga! Yang signifikan! Yang terbaru!
Oke. Ketika kebanyakan orang dari daerah justru berebut masuk ke Jakarta, saya malah memindahkan anak-anak ke Pontianak. Mereka kuliah dan sekolah disana.
Kenapa? Ada banyak pertimbangan, perhitungan, dan strategi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Kita, akan lihat hasilnya pada 5, 10 dan 15 tahun yang akan datang.
Gak usah pusing. Umur kita juga belum tentu sampai. Mari lihat prosesnya saja. Bahwa to take different direction with others is not easy. Berat malah. Baik secara internal, maupun eksternal. Tapi worth to try. Lakukan. Jika ingin perubahan dan perbaikan.
Tantangan internal termasuk proses pengambilan keputusan dengan stake holders khususnya istri, anak, ayah-ibu, mertua, saudara dan sebagainya.
Tantangan eksternal? Yang ini kadang ada lucunya juga. Ketika tahu bahwa semua anak kami pindah kota, sementara saya tetap berkarir di Jakarta; tiba-tiba dikalangan teman-teman istri saya berhembus isyu bahwa kami bercerai. Gleck!
Aspek yang satu ini, sungguh diluar perkiraan. Padahal, gue ini artis bukan. Pejabat bukan. Pesohor juga bukan. Tapi biarin saja. Selagi para gossiper itu sibuk kasak kusuk, kami terus bercinta-cintaan.
Intinya begini. Anti main stream merupakan benih bagi terjadinya perubahan. Baik di lingkungan terkecil keluarga kita, di komplek perumahan, dalam konteks perusahaan, bahkan dalam bingkai kebangsaan. Harus ada spirit anti main stream untuk membuat perubahan signifikan.
Ada harganya? Tentu. Perubahan kecil saja butuh pengorbanan. Apa lagi yang anti main stream kan. Pasti lebih besar lagi komitmen yang dibutuhkan untuk menjalankannya……

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment