Home / Artikel / Sesungguhnya, Pekerjaan Ini Tidaklah Terlalu Buruk.

Sesungguhnya, Pekerjaan Ini Tidaklah Terlalu Buruk.

 

Pramuka mengajarkan kita untuk disiplinSeperti biasanya, pekerjaan hari ini melelahkan sekali. Rasanya, libur akhir pekan kemarin tidak berbekas apa-apa. Begitu menginjakkan kaki dikantor, seperti kembali kepada kepenatan yang tak ada habis-habisnya.

Rasa lelah itu bahkan sudah mulai sebelum mengerjakan apa-apa. Lelah hati. Kemudian disambung dengan lelah fisik yang mengiringi satu demi satu pekerjaan yang datang betubi-tubi.

Sambil melepas lelah, dia melongok ke jendela. Dilihatnya gedung-gedung angkuh perkantoran Jakarta. Mewah. Tapi rakus merogoh dompet para penghuninya. Mentereng. Namun didalamnya hilir mudik orang-orang yang pusing memikirkan tagihan kartu kredit.

 

Dari lantai itu, dia bisa melihat kebawah. Orang-orang berlalu lalang. Seolah megeskan bahwa yang sibuk itu bukan hanya dirinya. Orang lain pun sibuk. Bahkan sibuknya dibawah terik matahari. Bukan diruang ber-AC seperti dirinya.

 

Dilihatnya sebuah mobil box tengah parkir di area lodging. Tampak karung-karung besar seperti bergerak sendiri keluar dari truk. Saking besarnya karung itu sampai menutupi tubuh sang buruh panggul. Hingga nyaris tak terlihat dari atas, siapa yang memanggulnya.

 

Lelaki itu menarik nafas lega. Agak terasa ringan sekarang. Karena ternyata, bukan hanya dia yang bekerja keras. Bahkan orang lain harus memanggul beban berat seperti itu. Tidak seperti dirinya yang bekerja berat melalui otak dan jari jemarinya saja. Bahkan di ruang meeting, kerja beratnya hanya duduk mendengarkan ocehan atasan. Atau berdebat dengan kolega. Tak lebih dari itu.

 

Ia pun melanjutkan pekerjaannya. Tepat jam 6 sore, dia menyadari bahwa sebagian orang sudah mengosongkan ruang kerjanya. Tapi dia, masih berkutat dengan tumpukka tugas-tugasnya. Ketika jam sudah menunjuk angka 9, dia benar-benar merasa harus berhenti. Dibayar berapa memangnya sampai harus kerja tak kenal waktu seperti ini.

 

Ketika melangkahkan meninggalkan kantornya, dia berpapasan dengan satpam. Dan petugas kebersihan. Dia teringat bahwa mereka berdua adalah orang yang ditemuinya sudah berada dikantor itu sejak tadi pagi ketika dia tiba. Dan sekarang mereka masih disini?

 

Dalam hati dia bertanya. Memangnya dibayar berapa mereka sampai harus bekerja keras seperti itu? Tidak usah ditanya orangnya. Semua juga tahu kalau upah mereka tidak sebanding dengan bayaran yang diterima karyawan permanen kelas menengah seperti dirinya.

 

Hatinya miris. Tapi mulai menyadari betapa beruntung dirinya. Ia pun bergegas ke tempat parkir. Menghidupkan motornya. Lalu meluncur. Lancar perjalanan itu sampai… dia keluar dari pelataran gedung. Karena sesudah itu, seperti biasanya. Dia harus berhadapan dengan kemacetan.

 

Inilah salah satu hal menyebalkan bekerja di Jakarta. Disini, tidak jelas lagi jam berapa jalanan akan lancar. Jadi meskipun dikasih motor dari kantor, tidak terasa nyamannya. Dia harus membuang waktu rata-rata 2 jam saat berangkat kerja. Dan 2 jam lagi ketika pulang. Itu pun kalau beruntung. Kadang, bisa lebih dari itu. Andai saja bisa kerja dari rumah, begitulah angan-angannya.

 

Ketika jalanan mampet itu, klakson saling bersemprotan bak terompet tahun baruan. Di samping kiri dan kanan motornya ada 2 bis metromini yang ikut terjebak kemacetan. Seolah tengah mengawal perjalanannya. Kalau sudah padat begitu, tak ada sopir ugal-ugalan manapun yang bisa menelusup celah-celah jalan.

 

Didalam bis yang mestinya paling hanya muat 30 orang itu, mungkin ada 60 atau lebih orang yang saling berjejalan. Yang duduk kepantatin orang lain. Yang berdiri kejepit dan kebauan sengatan wangi ketiak penumpang lainnya. Belum lagi para pekerja perempuan. Hamil pula. Atau pas lagi datang bulan. Sesampai dirumah pun mungkin masih banyak hal yang harus mereka lakukan untuk anak dan suami mereka.

 

Tanpa disadarinya, disudut bibirnya tersungging sebuah senyuman. Hhmmmh..tidak terlalu buruk…. demikian dia bergumam.

Catatan kaki:

Kadang memang pekerjaan kita agak menyebalkan. Tetapi, jika kembali direnungkan. Sesungguhnya, pekerjaan ini tidaklah terlalu buruk.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment