Home / Artikel / Senja Kala Bisnis Retail Indonesia?

Senja Kala Bisnis Retail Indonesia?

 
Bulan Juli ini dibuka dengan kabar yang agak sendu. Hangat dibicarakan mengenai PHK besar-besaran yang akan dilakukan oleh sebuah perusahaan retail modern di Indonesia. Sampai hal itu terjadi, kita masih berharap hanya kabar burung saja. Karena dampaknya tentu tidaklah menyenangkan.
 
Namun afdol sekali jika kita tetap mewaspadai. Karena bisnis ritel merupakan salah satu indikasi kondisi ekonomi suatu negeri. Harusnya, pemerintahlah yang mengambil peran terbesar agar hal ini tidak terjadi. Sayangnya, pemerintah bisa apa sekarang? Tampaknya, para pebisnis ritel harus berjuang sendirian. Semoga saja kita semua berhasil keluar dari krisis yang membelit ini.
 
Artikel ini tidak membahas sisi peran pemerintahnya. Karena sebagai rakyat, kita sudah cukup menitipkan mandat. Tinggal pemegang amanah pemerintahan saja; mau mengabdi buat rakyat apa tidak. Lagi pula, saya tidak memiliki kapasitas sebagai regulator. Jebih baik kita fokuskan pembahasan pada peran pelaku industri saja ya.
 
Salah satu kebiasaan buruk kita adalah; suka buru-buru memvonis sesuatu tanpa kajian terlebih dahulu. Dalam kasus PHK retail ini misalnya; terbetik berita bahwa hal tersebut disebabkan oleh beralihnya pelanggan super-market ke mini-market yang saat ini makin menjamur. Saya rasa, dugaan ini masih terlalu dini.
 
Walaupun benar jika mini-market semakin banyak. Dan tentu ada efek pada pola belanja masyarakat. Tetapi, kita masih terjebak permainan dengan lawan yang kelihatan. Padahal, ancaman terbesarnya mungkin justru datang dari lawan yang tidak kelihatan. Kita, masih mengabaikan pola belanja ‘alternatif’ yang lebih fundamental; Online shopping.
 
Para pelaku bisnis retail hendaknya tidak menganggap sepele online shopping. Karena dia memiliki kemampuan untuk mengubah pola belanja secara dramatis. Sebaliknya, justru harus segera mengambil langkah-langkah inovatif untuk memastikan bahwa bisnis mereka dimasa depan akan tetap sustain.
 
Terlalu ceroboh jika pelaku bisnis retail menilai bahwa online shopping kecil pengaruhnya. Hei. Apa yang ‘sekarang’ kelihatan, barulah percikan kecil seperti lompatan energi pada busi. Yang pada saatnya nanti akan mampu menyalakan mesin sebuah mobil formula satu. Jika sudah sampai di titik itu, bakal terlambat bagi peritel lama untuk menyelamatkan bisnisnya.
 
Para ahli menejmen sudah mengingatkan bahwa disrupsi yang ditimbulkan oleh model bisnis baru itu berkembang secara eksponensial. Bukan linear. Jadi, hampir sulit memperkirakannya, jika hanya menonton. Lihat saja bagaimana bisnis taxi kita ambruk hanya dalam hitungan bulan setelah online taxi merebak.
 
So wahai peritel, mari pahami bahwa dunia bisnis kita memang sedang BERUBAH secara drastis. Kita sedang menuju ke arah yang dikendalikan oleh para millenial. Dan dunia kita, akan di penuhi oleh customer dari kalangan mereka. Sia-sia jika kita masih memaksakan cara-cara lama.
 
Maka apa yang harus kita lakukan? Play with them. Think and act like them. Dan buat inovasi yang bakal sesuai dengan zaman mereka. Sebab, that is the only way to sustain your business in the new world. Apakah zaman itu sudah dekat? Faktanya, mereka sudah mulai punya uang sendiri. Dan sebentar lagi, mereka menggantikan posisi-posisi yang saat ini diduduki Gen Xers.
 
Para peritel mesti mulai bereksperimen dengan inovasi disruptif. Ini bukan omong kosong. Amazon yang dulu menghancurkan bisnis toko buku itu contohnya. Sudah mulai menjadi peritel sekarang. Tapi dengan model bisnis yang berbeda dengan WalMart.
 
Bahkan awal tahun 2017 ini, Amazon sudah bereksperimen dengan konsep ‘walk and go’. Dimana customer masuk ke toko, ambil barang. Lalu pulang tanpa harus antri di kasir. Kenapa? Karena sistem pembayaran sudah terintegrasi dengan smart phone customer. Jika ini jadi diimplementasikan, bakal mengubah cara belanja kita selama ini.
 
Lalu. Apa yang akan Anda lakukan untuk menyelamatkan bisnis Retail di Indonesia? Well. Bergantung pada mindset para pelaku retail itu sendiri. Komitmen seperti apa yang mereka miliki untuk melahirkan inovasi yang bakal kembali membuat model bisnisnya sesuai dengan karakter customer baru mereka?
 
Jika mereka mau berubah. Bekerja keras melahirkan inovasi baru, maka mereka akan bertahan. Namun jika mereka hanya terpaku pada cara yang itu-itu saja, maka boleh jadi; mereka akan memasuki masa senja kala dalam bisnis retailnya. Kita tunggu saja.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment