Home / Artikel / Securing Job Security

Securing Job Security

 
Job security menjadi perhatian serius akhir-akhir ini. Seiring dengan semakin banyaknya pekerjaan yang menghilang. Dan semakin seringnya terjadi PHK. Lalu kita bertanya; apakah profesi yang saya geluti akan tetap ada?
 
Para pekerja profesional harus sadar atas apa yang terjadi dengan dunia yang terus bergolak baik secara politik, ekonomi, terlebih lagi pesatnya perkembangan teknologi. Bukan untuk menjadi gundah. Melainkan agar semakin waspada bahwa segala kemungkinan bisa terjadi kapan saja.
 
Lucunya kita masih berkelit dengan penyangkalan. Bahwa itu tidak terjadi. Dan tidak akan terjadi. PHK misalnya, sering dianggap mengada-ada. Bukan beneran ada. Padahal, preparing lebih baik daripada nyangkaling.
 
Kalau soal peran negara, saya salut pada pemerintah China. Mereka lakukan apapun demi menjamin rakyatnya mendapatkan pekerjaan. Bahkan ketika di negerinya sendiri kesulitan, mereka membuka jalan migrasi dan bekerja di negara-negara lain dengan mudahnya. Pemerintah Indonesia, perlu meniru kepedulian seperti itu terhadap masa depan pekerjaan rakyatnya sendiri.
 
Di tingkat individu, kita mesti belajar menyesuaikan diri. Memang tidak menyenangkan. Tapi ketidaknyamanan yang kita rasakan hanya bersifat sementara. Terjadi karena kita berada tepat di tengah zaman perubahan. Kita, terjepit persis di pusaran masa transisi antara zaman lama dan zaman baru.
 
Perubahan sendiri saja berasa nggak nyaman. Apalagi jika dikombinasikan dengan masa transisi begini. Pasti perih. Satu hal yang perlu kita camkan bahwa; hilangnya sebuah profesi dalam suatu industri, akan digantikan dengan munculnya profesi baru. Bahkan industri yang sepenuhnya baru. Tugas kita adalah memastikan agar kompatibel dengan profesi dan atau industri baru itu.
 
Penampilan driver taksi online kali ini menarik perhatian. Rapi, kelimis, kalem. Dia bukan sembarang orang, demikian saya membatin.
 
“Maaf kalau ada yang kurang pak,” dia membuka pembicaraan. “Kenapa rupanya?” Saya merespon.
 
“Maklum baru satu bulan pak.” Jawabnya. Ah, biasalah. Kan new kids on the block selalu ada. Nyantai aja. “Korban PHK, pak…” tambahnya. Kalimat itu membuat syaraf kesadaran saya aktif.
 
Saya mendengar ceritanya disela kemacetan trafik Jakarta. Sambil membayangkan betapa tidak mudahnya menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak direncanakan. Terlebih dari kondisi serba wah, berpindah kepada keadaan yang sebaliknya.
 
Saya bisa membayangkan situasi driver itu. Mantan manager di sebuh PMA. Dan saya tahu persis industrinya karena – tanpa sepengetahuan dia – saya pernah berkarir di bidang yang sama.
 
Itu adalah tipe industri dimana hotel bintang lima menjadi tempat yang agak membosankan. Bahkan di posisi tertentu, buku paspor cepet penuh. Lebih sering ketemu pramugari daripada anak istri. Saya tahu itu.
 
Perusahaan PMA tempat driver ini bekerja, punya 800an karyawan. Itu sebelum lebaran kemarin. Selepas lebaran, karyawannya tinggal 200an. Kemana? You tell me.
 
Kisah driver ini merupakan contoh nyata bahwa ketika sebuah profesi menghilang, akan muncul profesi lainnya. Tugas kita adalah memastikan bahwa kita, kompatibel dengan oportuniti baru. Sehingga walaupun kehilangan profesi lama; kita masih bisa menggeliat dengan lincah.
 
Kalau berkenan mendengar cerita mereka, Anda akan menemukan bagaimana shifting profesi terjadi. Ada yang secara sukarela. Ada pula yang terpaksa. Walau memang ada juga yang memilih diam saja. Antara lain karena gaji pada pekerjaannya dimasa lalu sudah tinggi. Puluhan juta sebulan. Maka kurang top kalau kerja recehan.
 
Tapi sebagai kepala keluarga, kita butuh nafkah. Walaupun pada awalnya yang baru ini tidak seindah yang lama; minimal bisa bertahan meski di titik terendah. Lalu, pelan-pelan mengatur strategi dan mengolah daya diri hingga kelak, bisa berdiri tegak lagi. Insya Allah.
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman.
Change Matter Learning Partner.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment