Home / Artikel / Save The Best For Last

Save The Best For Last

 
Kita sering menyebut ‘husnul khatimah’. Akhir yang baik. Walaupun terminologi ini adanya dalam kepustakaan Islam, namun yang bukan orang Islam pun menginginkan ‘akhir yang baik’ kan? Silakan tanya kepada siapapun. Apakah mereka menginginkan akhir yang baik untuk segala sesuatu dalam hidupnya? Untuk keluarganya? Untuk anaknya? Pasti.
 
Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan sudah menanamkan sifat ‘mengharapkan husnul khatimah’ tersebut dalam jiwa setiap insan. Built in. Dimana derajat kepentingannya, seperti operating system dalam komputer.
 
Konsep husnul khatimah itu cocok bagi semua manusia. Betul kan? Ingat pertanyaan diparagraf pertama tadi? Maka bagi saya pribadi, konsep husnul khatimah dalam Al-Quran menjadi salah satu indikasi – dari sekian banyak indikasi lainnya – yang menunjukkan betapa sangat kompatibelnya ajaran Al-Qur’an dengan sifat mendasar manusia.
 
Lantas apa sebenarnya husnul khatimah itu? Sungguh sangat dalam makna yang dikandungnya. Namun makna paling dangkalnya adalah ‘save the best for last’. Inilah yang mendorong lahirnya konsepsi tentang harapan. Hope.
 
Kenapa Anda berharap? Karena Anda percaya bahwa esok akan lebih baik. Atau lusa. Atau diakhir nanti. Semuanya akan lebih baik. Kita semua. Tidak peduli apapun agama yang dianutnya, sama dihidupi dengan energi dari husnul khatimah.
 
Bahkan kita pernah mendengar orang bilang;”harapan adalah satu-satunya alasan yang membuat kita masih hidup hingga sekarang.” Buat saya, itu tidak sepenuhnya benar. Tetapi, tidak seluruhnya salah juga. Faktanya, ketika kita tahu bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik. Maka berjuang hingga ‘tetes darah’ penghabisan pun mau.
 
Tapi husnul khatimah itu tidak hanya berlaku dalam aspek yang kritis seperti itu. Bahkan dalam aspek paling sepele sekalipun. Masih ingat ketika kita suka menyisihkan lauk terbaik untuk suapan terakhir? Misalnya. Bahkan penggemar cerita silat paham bahwa ilmu tertinggi hanya dikeluarkan pada saat-saat akhir.
 
Nonton film juga demikian. Anda rela kalau lagi nonton terus filmnya dimatikan sebelum berakhir? Bisa copot kursi bioskop kan? We wanted the good ending of every thing. Kita menginginkan husnul khatimah. Dan konsepsi ini. Tertera dalam Al-Qur’an. Tapi untuk memahaminya. Kita harus mau membacanya. ‘Iqra’ istilahnya. Seperti Nabi Muhammad ﷺ pertama kali diperintahkan. IQRA! Bacalah.
 
Eh. Ngomong-ngomong soal film dan Iqra. Tonton deh film  “IQRO”. Dan jangan beranjak sebelum film itu benar-benar berakhir. Kenapa? Karena kebanyakan orang kalau nonton di bioskop suka langsung bubar begitu ada tulisan ‘Thanks To’ dan ‘Casting’.
 
Padahal, setelah itu. Ada adegan yang sangat menyentuh tentang ‘pluto’ dan ‘kupu-kupu’. Sebuah ending yang disediakan hanya untuk mereka yang bersedia ‘hang on’ sampai ‘tetes’ terakhir. Haaa… Anda yang sudah nonton mungkin tidak dapat momen itu ya.
 
Emang adegannya apa sih? Nonton lagi saja sana. Gak bakal saya ceritain. Karena bukan tentang film IQRO! tema bahasan kita kali ini. Melainkan tentang believe, bahwa: God may save the best for the last in my life. And yours.
 
Tuhan menyimpan hal terbaiknya pada episode paling akhir dalam hidup kita. Yang diperuntukkan bagi orang-orang yang merindukan. Dan mendambakan husnul khatimah.
 
Siapakah mereka itu? Orang-orang yang berdoa dengan sepenuh khusyuk dan harap;”Alloohumma Innaa Nas’aluka Bihusnil khaaatimah…” Fainsya Allohu aaamiiin…

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment