Home / Artikel / Sandal Kulit Basah Kuyup

Sandal Kulit Basah Kuyup

 
Seorang pemuda masuk ke mushola di sebuah mall. Tidak biasa raut wajahnya. Bukannya cerah. Indah. Dan ramah sebagaimana layaknya orang yang hendak menunaikan ibadah. Yang ini. Cemberut. Seakan menahan kekesalan.
 
“Semoga nanti dia ngerasain juga deh,” gerutunya. Seakan tengah mendoakan seseorang mendapatkan pembalasan.
 
Gerutuannya terdengar oleh seorang kakek yang tengah duduk di pojok musholla. Dia tersenyum kearah pemuda itu. “Ikhlaskan saja anak muda….” demikian katanya.
 
Setengah kaget pemuda itu berkata;”Sudahlah Kek, jangan ikut campur.” Katanya. “Kakek tidak tahu apa yang baru saja saya alami…” tambahnya.
 
Diluar dugaan, sang kakek tahu persis penyebab kekesalannya. Pemuda itu memakai sandal kulit kesayangannya. Ketika hendak berwudlu, dia meletakkan sandal kulitnya. Lalu mengenakan sandal jepit milik musholla yang khusus disediakan untuk yang hendak berwudlu.
 
Begitu kembali dari tempat wudlu, dia mendapati sandal kulitnya sudah basah kuyup. Rupanya, seseorang telah menggunakan sandal kulit itu untuk mengambil air wudlu. Sendainya dia tahu siapa yang melakukan itu, sudah ditegurnya. Dan bakal diceramahinya sampai dia paham tata krama.
 
Bayangkan deh. Sandal kulit Anda basah. Bekas orang lain pula basahnya. Bagaimana rasanya mengenakan sandal kulit basah seperti itu? Rasa kesalnya bisa sampai ke ubun-ubun.
 
“Seharusnya orang itu mikir Kek…” telunjuknya menunjuk jidatnya sendiri. “Masak sih sandal kulit orang lain dipakai wudlu. Kan basah kek.”
 
“Engkau tidak boleh melakukan itu. Sedangkan orang itu boleh…” jawab sang Kakek.
 
“Lho, kok gitu?” Protes pemuda itu. “Gak adil banget.” Omelnya.
 
“Karena engkau sudah tahu, betapa tidak sukanya pemilik sandal kulit kalau orang lain meminjamnya untuk berbasah-basahan. Sedangkan orang itu belum mengetahuinya.”
 
“Sudah 2 kali kejadian ini saya alami Kek!” Pemuda itu setengah menghardik. Beberapa orang lainnya sampai mendengar hardikannya. Mungkin orang yang memakai sendalnya tanpa ijin itu pun mendengar juga. Tapi, tidak berani ambil resiko menghadapi orang yang sedang kesal begitu.
 
Kakek itu tersenyum. Lalu, “Tidakkah engkau ingin sandal kulitmu menemani terompah Bilal Bin Rabah di sorga?” Katanya.
 
“M-maksud Kakek?” Pemuda itu menatapnya. Orang-orang di musholla pada diam. Sambil mencuri dengar cerita sang kakek.
 
“Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau mendengar bunyi terompah Bilal di sorga. Tahukah engkau siapa Bilal itu?”
 
“Orang yang suka adzan di zaman nabi,” jawabnya. Benar. Bilal adalah sahabat Rasulullah SAW yang bertugas untuk mengumandangkan adzan. Agar kaum muslimin mengetahui datangnya waktu sholat.
 
“Bilal bin Rabah. Gemar menyeru manusia untuk sholat. Terompahnya ikut masuk ke sorga. Engkau anak muda,” kata sang Kakek. “Punya sandal kulit yang digunakan untuk berwudlu oleh seseorang yang hendak sholat.” Dia berhenti sebentar. Lalu,”Tidakkah engkau ingin sandalmu itu menemani sandalnya Bilal?”
 
Pemuda itu tercekat. Lalu. Dengan ragu dia berkata. “Tapi… itu kan terompah Bilal Kek… Sahabat Rasulullah.” katanya. “Masak sih sandal saya bisa masuk ke sorga juga?”
 
“Jika engkau ikhlas. Bergembira karena sandal kulitmu digunakan untuk berwudlu. Mintalah kepada Allah Azza Wajalla, agar diijinkan menemani terompah Bilal di sorga. Jika Dia menghendakinya, maka jadilah…”
 
Nasihat itu disambut dengan suara iqomah. Semua orang, bersiap untuk sholat berjamaah. Pemuda itu bergegas menuju ke barisan. Sekarang, dia tidak merasa kesal lagi. Bahkan diam-diam dia berharap. Sandal kulitnya menemani terompah Bilal. Di sorga. Kelak.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment