Home / Artikel / Saling Mendukung Aspirasi Dalam Karir

Saling Mendukung Aspirasi Dalam Karir

 

Jika posisi Anda sekarang sebagai staff, apakah Anda ingin jadi supervisor? Tentu dong. Orang yang sudah menjadi supervisor kepengen jadi menejer. Dan para menejer ingin menjadi direktur. Lantas, apakah Anda mendeklarasikan keinginan itu? Tidak.

 

Dalam budaya kita, hampir menjadi tabu kalau terbuka soal keinginan dalam karir. Makanya, kita tidak membicarakan aspirasi perkembangan karir kita kepada orang lain. Dipendem saja sendirian. Karena kalau bicara, nanti dikira ambisius. Padahal… iya.

 

Lho, masalahnya apa sih dengan ambisi? Tidak ada. Justru sebenarnya sehat, kalau di unit kerja kita terbiasa saling terbuka dengan aspirasi karir masing-masing.

 

Dengan keterbukaan itu, kita bisa saling membantu satu sama lain. Termasuk kalau incaran kita sama? Iya. Termasuk kalau kita bersaing untuk mendapatkan sesuatu.

 

Bagaimana mungkin kita saling membantu dengan pesaing? Hey. Justru lebih baik bersaing secara terbuka kan daripada diam-diam saja tapi saling telikung di belakang.

 

Ingatlah bahwa pada akhirnya, orang yang paling ‘pas’ yang bakal mendapatkan apa yang kita perebutkan. Dan yang namanya ‘pas’ itu bisa situasional. Tidak mutlak. Artinya, rezeki kita; nggak bakal ketuker.

 

Bahkan boleh jadi, rezeki teman Anda itu adalah rezeki Anda juga. Anda, kalau saling dukung dengan teman dalam meraih aspirasi karirnya, maka ada 2 kemungkinan. Anda yang dipromosi atau teman Anda yang mendapatkannya.

 

Kalau Anda yang menang. Maka sikap baik satu sama lain selama ini akan menjadi perekat kuat kerjasama dan kekompakan Anda dengan teman Anda yang sekarang mungkin menjadi bawahan Anda itu. Artinya, Anda bakal punya anak buah yang handal.

 

Bagaimana kalau yang berhasil justru teman Anda? Kalau Anda terbiasa saling mendukung dengan dia, maka keberhasilan dia dalam karir mungkin akan menjadi daya ungkit karir Anda juga. Dia tahu kualitas diri Anda. Dia tahu integritas Anda. Dan dia juga tahu kalau Anda layak mendapatkan lebih baik, kelak kalau ada kesempatan berikutnya.

 

Perhatikan deh. Orang sukses, cenderung membawa teman-teman kepercayaannya untuk mengelilingi kesuksesan dirinya. Jadi, kalau teman Anda sukses. Dan dimata dia Anda bisa dijadikan ‘tangan kanan’ bagi dirinya; dia kan tidak akan cari orang lain.

 

Toh itu juga yang akan Anda lakukan. Kalau Anda yang sukses. Anda pasti butuh orang-orang kepercayaan untuk menopang kesuksesan diri Anda. Dan Anda, tidak akan mau gembling memilih orang yang tidak dikenal kan. Anda akan memilih orang-orang yang selama ini sudah terbukti dapat menyokong Anda.

 

So my friend. Berhubungan dengan kolega satu team itu bukanlah sekedar sebuah pertemanan. Melainkan, sebuah usaha untuk maju bareng-bareng. Sehingga bisa saling mendukung satu sama lain. Agar kita sama-sama maju dalam karir.

 

Lagi pula, susah kan untuk menjadi pribadi yang baik sendirian? Kalau hanya Anda yang disiplin sendirian di kantor, percuma. Berat kerja Anda. Tapi kalau disiplinnya rame-rame. Enak. Kalau semangat bareng-bareng. Seru. Kalau saling ingetin satu sama lain. Asyik. Kompak. Betah.

 

Maka mulai sekarang. Belajarlah untuk saling terbuka dengan teman kerja Anda. Tentang karir seperti apa yang Anda inginkan. Lalu, saling dukunglah satu sama lain. Supaya kita, sama-sama berkembang. Walaupun waktu ‘panen’ bisa saja berbeda. Tapi intinya, kita. Dan teman kita. Sama-sama sukses dalam membangun karir.

 

Dengan demikian, kita ini bukan sekedar mendapatkan teman kerja. Tapi juga mitra, yang bisa saling mengandalkan. Saling mendoakan. Saling memberi masukan untuk melakukan perbaikan. Bukankah lingkungan kerja seperti itu yang kaum profesional seperti kita dambakan?

Catatan kaki:

Cape, kalau sama teman satu team saja kita masih harus saling sikut-sikutan. Mendingan berkolaborasi deh. Supaya perjalanan karir itu bisa ditempuh bareng-bareng. Kan enak kalau ada teman seperjalanan.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment