Home / Artikel / Salary Increment, Mau?

Salary Increment, Mau?

 
Tadi malam saya bermimpi. Tentang teman yang lagi bete. Karena, gajinya yang kecil banget. Intinya sih lagi galau. Mau terus kerja disitu nggak seru. Mau pindah juga belum dapat tempat kerja baru. Jadinya males-malesan deh sekarang.
Hanya mimpi loh itu. Tapi terasa seperti nyata sekali. Dan kalau dipikir-pikir, tema mimpi itu memang banyak terjadi. Apa lagi hari ini harga-harga terus melambung sangat tinggi. Boleh jadi gaji nggak sanggup lagi mengimbangi. Nyeseknya makin menjadi-jadi.
Pergulatan gaji itu merupakan gejolak nyaris tak berujung. Saya, misalnya. Sering ketemu dengan anak muda yang memilih untuk tidak bekerja daripada digaji alakadarnya. “Habis diongkos saja,” katanya. Naik helicopter kali ya gaji 3 juta habis diongkos.
Bukan hanya problem anak muda. Yang sudah golden age juga masih memikirkan hal yang sama. Gaji kecil. Tanya para menejer kenalan Anda. Bagaimana pendapatnya tentang gajinya. Lebih banyak yang merasa digaji kecil daripada yang menganggap gajinya sudah cukup besar.
Saya juga memulai karir dengan bayaran UMR. Demikian juga halnya para menejer bergaji tinggi itu. Sama dengan kebanyakan orang lainnya. Tapi apa yang membedakannya? Itu yang disebut increment. Lompatan. Bukan increase ya.
Kebanyakan karyawan mendapatkan salary increase. Setahun sekali. Dengan besaran sekitar 10 persenan. Di perusahaan asing bahkan hanya single digit saja. Salary increase. Sudah rutin. Setahun sekali pula. Itu juga kalau perusahaan lagi bagus bisnisnya. Saya tahu kalau beberapa perusahaan menunda kenaikan gaji karyawan. Bahkan memotong gaji BODnya.
Salary increament lain. Diberikan bukan hanya pada momen rutin tahunan. Dan nilainya nggak cuman belasan persen. Inilah yang menyebabkan mengapa diantara kolega yang kita kenal hidupnya semakin sejahtera. Dari imbalan pekerjaannya loh ya. Bukan sabet kiri kanan, apa lagi lewat penyalahgunaan jabatan.
Iya, tapi gimana caranya mendapatkan salary increment seperti itu? Demikian pertanyaan saya dua puluh tahun yang lalu. Kemudian saya mengamati mereka yang mendapatkan keistimewaan itu. Dari sekian banyak perbedaan yang mereka miliki, ternyata mereka punya beberapa persamaan.
Saya bahas tiga saja ya. Pertama, mereka bekerja tanpa mempermasalahkam bayaran. Iya. Dibayar UMR juga mereka oke aja. Lalu mereka fokus saja bekerja tanpa membuang waktu untuk mempertanyakan kenapa gue dibayar cuman segini. Khusyuk saja dalam bekerjanya. Berhasil.
Kedua, mereka berorientasi pada masa depan. Maksudnya begini. Mereka juga mengakui kalau harga-harga serba mahal. Gaji seperti air didaun talas. Nggak betah lama-lama di dompet kita. Mereka sadari itu. Tapi mereka melihat peluang adanya peningkatan yang signifikan di masa depan. Terus mereka fokus mengejar peluang itu. Berhasil.
Ketiga. Mereka sangat berkomitmen pada kualitas pelayanan dalam pekerjaannya. Melayani itu bukan hanya kerjaan waitres restoran atau front office loh. Hakekat pekerjaan kita adalah pelayanan. Dengan cara, jenis, dan pelanggan yang berbeda. Intinya sama. Melayani juga.
Ketika anak buah berkomitmen untuk melayani, maka atasannya pasti puas. Lalu sayang sama dia. Dan akhirnya dibantu untuk menapaki karir yang lebih tinggi.
Sebaliknya. Ketika atasan berkomitmen melayani. Maka anak buahnya pasti puas. Lalu disokong habis-habisan sama mereka sehingga menejmen menilainya layak untuk naik memikul tanggungjawab yang lebih tinggi lagi. Itu misalnya. Dan memang faktanya demikian.
Demikian antara lain kesamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang memperoleh salary increment. Masih ada lainnya. Tapi. Praktekkan dulu yang 3 itu saja. Supaya dapet salary increment. Mau?

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment