Home / Artikel / Rindu Yang Telah Hilang

Rindu Yang Telah Hilang

 
Apa bedanya sesuatu yang masih ada pada kita dan yang sudah hilang? Kepada yang sudah hilang, kita merindukannya. Sedangkan kepada yang masih ada, kita menganggapnya biasa-biasa saja.
Pasangan hidup Anda, mungkin selama ini Anda anggap biasa saja. Sering sebel. Kesel. Ngedumel. Nanti kalau sudah kehilangan dirinya; barulah pada nangis bombay. Baru nyadar kalau dirinya ternyata tak tergantikan. Dapat penggantinya pun belum tentu sepadan dengannya.
Pekerjaan Anda itu. Mungkin melelahkan. Menyebalkan. Membosankan. Gajinya kecil. Bossnya pelit. Atasannya gak kompeten. Teman kantornya nyebelin. Suasana kerjanya bikin gerah. Anda. Bakal nyadar betapa berharganya pekerjaan itu, jika Anda sudah tidak lagi memilikinya.
Beberapa bulan lalu, saya menyingkirkan sekitar 7 atau 8 pot bunga kamboja jepang dari halaman rumah. Bosan setelah bertahun-tahun memandangnya. Lalu menggantinya dengan kangkung. Seger. Hijau. Dan bisa dimakan.
Panen pertama dan kedua, sangat menyenangkan. Panen berikutnya, tidak seksi lagi. Kemudian saya tidak tertarik lagi untuk merawatnya. Kangkung menua di dalam pot. Lalu tumbuh berbagai macam rumput. Halaman rumah saya berubah menjadi belantara belukar.
Sekarang. Saya kangeeen sekali kepada kamboja jepang itu. Setiap kali melintasi rumah orang yang punya bunga itu, hati saya serasa teriris. Menyesal telah menyia-nyiakannya. Saya sadar bahwa selama ini saya menyukainya. Hanya saja, saya tergoda tanaman lain ketika dilanda kebosanan bersamanya.
Sudah banyak sekali hal yang saya sia-siakan dalam hidup. Padahal, Tuhan sudah baik sekali menganugerahkan semua itu. Tetapi, sudah menjadi sifat dasar manusia untuk lalai kepada nikmat yang sedang meliputi dirinya. Dan baru sadar, kalau nikmat itu sudah direnggut darinya.
So my friend. First of all, pekerjaan kita. Mungkin tidak ideal. Tapi, jangan menunda sampai kehilangannya dulu untuk menyadarinya sebagai anugerah besar. Mari kita jalani dengan sebaik-baiknya. Dan setulus-tulusnya.
Dan satu lagi, keluarga kita. Sekalipun tidak selamanya asyik. Tapi, jangan menunda sampai kehilangan mereka dulu untuk menyadarinya sebagai anugerah terindah dalam hidup.
Karena rindu, tidak lagi ada gunanya bagi segala sesuatu yang sudah hilang. Apakah itu berkaitan dengan orang. Barang. Ataupun pekerjaan.
Catatan kaki:
Selagi ada disia-siakan? Nyeselnya nanti. Bukan sekarang.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment