Home / Artikel / Pianis Gelandangan

Pianis Gelandangan

 
Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah video tentang seseorang yang memainkan piano. Indah sekali permainannya. Sampai orang pada berkerumun menyaksikannya. Namun. Ada satu hal yang membuat saya tertegun. Pemain piano hebat itu adalah seorang gelandangan.
Saya tidak mengasihani orang itu. Mungkin dia tidak butuh belas kasihan. Beberapa sen sumbangan dari orang yang melintas di trotoar itu pun sudah membuatnya senang kelihatannya. Saya. Justru mengasihani diri saya sendiri.
Jangan-jangan. Saya seperti orang itu. Sudah dianugerahi Ilahi dengan talenta yang tinggi. Tapi tidak mampu mendayagunakannya sehingga talenta itu hanya menjadi hiasan yang tidak banyak menolong hidup saya. Dengan semua pencapaian saya hari ini, benarkah sudah saya dayagunakan potensi diri dan kesempatan yang saya miliki?
Demikian saya bertanya pada diri sendiri. Dan rasanya. Sepi. Kalau hanya merenunkannya seorang diri. Maka sekarang saya mengajukan pertanyaan yang sama kepada Anda. Dengan potensi diri dan kesempatan yang Anda miliki; bukankah pencapaian Anda harusnya sudah jauh melampaui apa yang Anda raih hari ini?
Saya sungguh tidak tahu jawabannya. Mungkin tak seorang pun tahu itu. Bukan karena terlalu sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata. Melainkan karena realitas itu bukanlah jargon. Sehingga frase ‘Anda pasti bisa!’, tidak lagi cocok untuk dijadikan kunci jawaban.
Kurang optimalnya raihan pencapain kita hari ini, boleh jadi merupakan buah dari terlalu banyaknya kita menelan kata-kata mutiara. Padahal, realitas lahir lebih banyak dari tindakan. Bukan perkataan.
Pemain piano hebat itu misalnya. Betapa banyak komentar orang ditujukan kepadanya. ‘AMAZING’. ‘WONDERFUL’. Atau ‘Why don’t he play for an orchestra…?’
Saya tersadar bahwa. Kata-kata itu tidak akan mampu mengubah keadaan sang pianis. Seperti halnya juga kata-kata tidak bisa mengubah kehidupan kita. Bukan berarti kata-kata tidak penting. Tapi kata-katanya, secukupnya saja. Selebihnya, berkaryanya.
Faktanya, kata-kata yang terlalu banyaklah yang membuat kita terkungkung berjuta alasan. Kata-katalah yang membuat kita berdebat. Dan kata-katalah yang membikin kita berhenti dari apa yang kita kerjakan.
Dulu kita mengira bahwa jika kita menjadi ahli pada bidang kita. Maka kita akan sukses dengan sendirinya. Setelah menyimak video tentang pianis itu, semakin nyata bahwa padangan lama kita tidak seutuhnya benar.
Bahkan di kantor kita. Banyaaak sekali kolega yang serba bisa. Banyak pula teman yang berpengalaman. Terampil. Cekatan. Nyaris tiada tandingan. Namun karir mereka tidak berkembang. Emh. Maaf. Maksud saya, namun karir kita tidak berkembang.
Jadi ternyata. Setelah memiliki keterampilan yang tinggi. Ada hal lain yang kita butuhkan. Lalu saya bertanya lagi, apa yang kita butuhkan lagi itu? Mungkin jawabanya bukan hanya satu. Namun yang jelas, ada satu pesan yang ditunjukkan oleh pianis hebat itu. CARA KITA MENJALANI HIDUP.
Ya. Cara pianis itu menjalani hidupnya ikut menentukan pencapaian hidup yang diraihnya. Cara hidup bagian mana yang harus diperbaikinya? Saya tidak tahu. Karena saya tidak paham bagaimana selama ini dia menjalani hidup.
Lalu cara hidup bagian mana yang harus Anda perbaiki supaya bisa meraih pencapain yang lebih tinggi? Saya juga tidak tahu karena tidak ada orang yang lebih paham tentang Anda selain diri Anda sendiri.
Saya. Hanya bisa melihat. Ada  banyak cara hidup saya yang masih harus diperbaiki. Dan kalau kita sama-sama mengoreksi diri. Mungkin prosesnya bisa lebih asyik daripada melakukannya seorang diri. You do it there. I do mine here. So let’s start it. Now.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment