Home / Artikel / Perusak Integritas Diri

Perusak Integritas Diri

 
Integritas itu sudah menjadi kosa kata yang melekat dalam hidup kita. Namun, perilaku kita masih sering berlawanan dengannya. Kata, sering bertolak belakang dengan perbuatan. Lalu, bagaimana ya cara menjaganya?
 
Saya rasa, penting untuk mengetahui faktor utama perusaknya. Supaya kita bisa menangkis serangannya. Kalau tidak tahu lawan yang dihadapi, bagaimana kita bisa melindungi diri kan?
 
Baru-baru ini, saya pesan taksi online. Di appsnya tertera tarip 272 ribu rupiah. Saya oke-in saja. Toh bukan uang pribadi saya. Ini urusan pekerjaan. Sudah ada alokasinya.
 
Sering saya perhatikan bahwa order 10 atau 11 ribu rupiah saja diambilnya. Maka orderan 272 ribu tentu signifikan nilainya. Begitulah penilaian saya.
 
Driver yang dapat order itu menelepon saya. Dari GPS kelihatan jika kendaraannya belum bergerak. Setelah konfirmasi lokasi penjemputan, dia berkata;”Bisa nggak pak kalau bapak bayarnya diluar online?”
 
“Maksud Anda?” Saya balik bertanya.
“Saya tetap melayani bapak tapi nggak pake online.” Jawabnya. “Harganya sama pak.” Lanjutnya.
 
“Kenapa harus begitu?” Respon saya.
“Soalnya bapak tahu kan saya kena potong 20% oleh kantor,” jawabnya.
 
‘Ohohoho… menarik nih’, saya pikir. Saya teringat bagaimana orang-orang hebat berjatuhan karena kegagalannya menjaga integritas diri. Di kantor swasta, tidak sedikit menejer dan direktur yang harus kehilangan karirnya.
 
Di instansi pemerintahan? Kita sudah sama-sama tahulah. Toh sudah menjadi rahasia umum juga.
 
Yang menarik adalah; orang-orang yang jatuh karena runtuhnya integritas diri itu sering dikenal publik sebagai orang ‘bersih’. Tak sedikit pula yang menjadi duta ‘kebersihan’. Tapi kemudian, begitulah jadinya. Kenapa bisa begitu ya?
 
Kejadian sopir minta transaksi diluar online itu saya alami berulang kali. Lucunya, hanya terjadi ketika nilai orderannya tinggi. Kalau nilai orderan kecil, nggak pernah terjadi. Padahal, terlepas nilai ordernya besar atau kecil; semua pihak punya bagiannya masing-masing.
 
Sama. Dikantor juga kita sudah punya bagian. Gaji dan bonus, itu bagian kita. Di lembaga pemerintahan, kurang apa lagi coba? Imbalannya bisa bikin iri mereka yang setiap hari banting tulang dan peras keringat kan?
 
Sopir taksi itu mengajari saya bahwa ‘KESERAKAHAN’ merupakan perusak utama integritas seseorang. Sudah dapat bagian masing-masing, tapi ingin mengeruk semuanya untuk dirinya. Seperti itulah orang serakah. Sudah berkelimpahan, masih memeras yang lemah pula. Sudah dikasih gaji dan tunjangan, masih mengambil sendiri lagi.
 
Keserakahan itu membuat manusia gelap mata. Hingga tega mencederai kepercayaan institusi atau perusahaan yang memberinya kesempatan untuk bekerja dan menafkahi keluarga.
 
Sopir taksi itu misalnya. Matanya silau dengan nilai orderan besar. Sehingga dia lupa bahwa sistem online itu telah menjadi jalan mengalirnya rezekinya dari Tuhannya. Hingga dia tega mengkhianatinya.
 
Lalu, apakah sopir itu mendapatkan orderan saya? Maaf, saya memilih mencancelnya. Saya mencari driver lain yang bersedia menghindarkan saya dari persekongkolan semacam itu.
 
Lihat bagaimana keserakahan tidak membawa kita kepada kemenangan. Justru mengiring kita pada kerugian. Rugi reputasi. Juga rugi materi.
 
Saya mendapat driver lain yang saya harapkan. Dia bilang; “Bapak sering menuju ke tempat ini?”
 
“Hanya sekali-sekali saja,” Jawab saya.
“Meeting pak?” Keponya.
“Ya. Meeting.” Saya bilang.
 
“Mau saya tunggu untuk pulangnya pak?” Katanya.
 
Saya? Ya maulah. Nggak usah nyari kendaraan lain kan? Kali ini, sah kalau transaksinya di luar online. Dan perjalanan saya yang berikutnya itu, menuju tempat yang lebih jauh. Tentu lebih mahal lagi bayarnya. Deal.
 
Mungkin memang itu sudah menjadi rezekinya. Tapi coba perhatikan, bagaimana Tuhan memberi orang yang menjaga integritas diri; lebih dari yang dibayangkannya. Sesuai janji Ilahiahnya.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment