Home / Artikel / Perjalanan Pion Menjadi Menteri

Perjalanan Pion Menjadi Menteri

 
Berapa banyak dari kita yang pertama kerja langsung mendapatkan tempat enak? Sejauh saya tahu, hanya sedikit. Jarang banget orang kerja langsung jadi supervisor atau menejer. Hampir tidak ada malah. Kita, umumnya memulai pekerjaan dari posisi yang rendah. Dengan bayaran tak seberapa. Setelah itu, pelan-pelan menanjak naik. Hingga mencapai posisi yang lebih baik.
Tapi, fakta itu tidak selalu sanggup memberi berita gembira kepada kebanyakan pegawai. Mereka tetap saja merasa madesu alias masa depan suram. Ada yang mengucapkannya secara verbal. Ada pula yang mengisyaratkannya lewat tatapan mata. Raut wajah. Serta gestur tubuh ketika menjalani pekerjaannya sehari-hari. Orang yang terjangkit deman madesu berkeyakinan bahwa; ‘Tidaklah mungkin karirnya bisa membaik, dari kondisi kerja yang buruk ini’.
Tidak selalu mudah untuk mengubah paradigma itu. Tetapi, kisah yang akan saya ceritakan ini mungkin bisa menjadi referensi. Sudah sekitar seminggu ini anak lelaki saya mengajukan sebuah tantangan. Main catur. Saya sendiri sudah puluhan tahun tidak memainkannya lagi. Tapi masih ingat langkah-langkahnya. Untuk sekedar menyambut tantangan anak SD mah, masih bisa mengimbangilah.
Dan benar. Dalam beberapa langkah saja saya sudah berhasil melumpuhkan meteri miliknya. Saya kira, dia akan segera menyerah. Tetapi, ternyata saya salah. “Aku harus mengembalikan menteriku,” katanya. Saya mengira dia cuman menggertak saja. Namun melalui kegigihannya, dia berhasil mendapatkan menterinya kembali. Anda tahu bagaimana caranya? Benar. Mempromosikan pion.
Dalam catur, pion menduduki hirarki yang paling rendah. Memiliki kemampuan serta otoritas yang sangat terbatas. Apa bedanya dengan karyawan biasa? Hampir sama. Kita ini, prajurit yang mesti siap disuruh-suruh. Kadang bahkan dikorbankan. Seperti sang pion. Para supervisor, menejer, GM, dan Direktur; semua diwakili benteng, gajah, kuda, dan menteri. Tapi dalam catur, sebuah pion bisa dipromosi menjadi apa saja. Dan dalam karir, seorang staff; bisa dipromosi hingga menduduki posisi apa pun.
Iyya, tapi kan nggak semudah itu Dang!
Lha iyya dong. Kalau mudah mah, dimana letak gengsinya kan? Anda mengejar jabatan tinggi itu karena gengsinya kan? Karena imbalannya besar. Maka wajar, kalau untuk mendapatkannya butuh kegigihan dan perjuangan luar biasa.
Sebuah pion, tidak bisa begitu saja dipromosi. Untuk menjadi menteri, dia harus sanggup menempuh berbagai rintangan yang menghadang. Menantang resiko dimakan oleh bidak lain. Sehingga dia terancam keluar dari papan permainan. Tapi jika MAMPU menembus garis pertahanan lawan, maka dia berhak untuk mendapatkan kehormatan menduduki posisi paling tinggi yang diinginkannya.
Apa bedanya dengan pegawai seperti kita? Hampir sama. Kalau kita benar-benar MAMPU bertahan dalam arena persaingan sengit itu, maka kita akan bertahan. Dan kalau kita MAMPU untuk ‘mencapai’ kotak terakhir diujung perjalanan itu, maka kita bakal punya kesempatan untuk menduduki posisi apapun yang kita inginkan.
Tidak ada istilah madesu dipikiran para pion. Mestinya, demikian pula halnya dalam benak kita. Karena seburuk apapun situasi yang saat ini kita hadapi, selalu ada peluang dan harapan. Tapi, seperti yang Anda bilang tadi; tidak semudah itu. Sehingga orang yang sanggup mengapainya hanya sedikit. Memang yang berhasil itu sedikit. Namun, jika saya dan Anda termasuk yang sedikit itu; kenapa tidak kan? Insya Allah. Aamiin.
Catatan kaki:
Kalau dengan segala kemampuan dan anugerah yang dimiliki itu masih pesimistis juga, maka kita kalah sama pion diatas papan catur. Setiap kali hantu madesu menakut-nakuti, ingatlah bahwa; bahkan sebuah pion pun bisa menjadi menteri.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment