Home / Artikel / Pentingnya Mata Orang Lain

Pentingnya Mata Orang Lain

 
Kalau ada orang bertanya; Apakah Anda sudah melakukan hal terbaik dalam pekerjaan? “Woh, swuudah dwong.” Begitu kan  jawabannya? Anda yakin dalam hatinya orang itu nggak bilang;”Ooo yeeaaah…?”
Di bus Trans Jakarta secara tak sengaja saya melihat kancing baju orang didepan saya ‘nyengsol’. Nyengsol teh apa ya? Kancingnya masuk ke lubang yang bukan jatahnya. Salah kamarlah. Maka bajunya jadi tergulung. Itu nyengsol namanya.
Menurut Anda, orang itu sengaja? Tentu tidak. Orang itu tahu? Tidak juga. Beliau tidak menyadarinya. Makanya berpakaian seperti itu. Lalu siapa yang tahu? Orang lain yang memperhatikan dirinya.
Di kantor. Pasti kita berusaha melakukan yang terbaik. Kantor kan sumber nafkah kita. Mana mungkin kita menyia-nyiakannya kan? Makanya kita suka bilang “Saya sudah melakukan yang terbaik buat pekerjaan ini. Tapi….”
Sama seperti penumpang didepan saya itu. Beliau merasa sudah mengenakan kemeja dengan cara terbaiknya. Walaupun kenyataannya berbanding terbalik.
Maka klaim kita sudah mengerjakan yang terbaik itu mungkin tidak sepenuhnya benar. Sebab pandangan kita terhadap diri sendiri belum tentu benar. Sedangkan atasan kita, bawahan kita, kolega kita, pelanggan kita; berada pada sudut yang memungkinkan mereka memandang lebih jelas ke arah kita.
Jadi. Kalau hendak memastikan apakah sikap kita, perilaku kita, dan cara kita menjalani pekerjaan ini sudah benar-benar yang terbaik; mesti mau mendengar feedback dari mereka. Walaupun mungkin tidak cukup merdu seperti halnya lagu-lagu sendu.
Masalahnya, sikap defensif kita sering tampil lebih dulu. Makanya, feedback dari orang lain jadi sekedar angin lalu. Karena kita ‘tahu’ bahwa; soal diri kita mah, kita sendiri yang lebih tahu. Orang lain, hanya sok tahu.
Bayangkan apa yang terjadi jika orang itu menyangkal informasi tentang kancing bajunya hanya karena merasa lebih tahu tentang caranya memakai baju. Maka beliau tidak akan berkesempatan membenahi pakaiannya.
Banyak karyawan yang tidak menyadari hal kurang pas dalam sikap dan perilaku kerjanya. Hanya karena tidak bersedia mendengar masukan dari orang lain.
Tapi selama ini nggak ada orang ngasih tahu gue Dang. Everyone sibuk dengan dirinya sendiri.
Orang bilang, jaman now mah pada nafsi-nafsi. Cuek ke orang lain teh. Ah, tidak sepenuhnya benar juga sih. Kalau dikantor mah orang masih butuh saling mengoreksi. Karena pekerjaan mereka terkait dan terkoneksi dengan pekerjaan orang lainnya.
Jadi kalau membiarkan kolega lain tidak bagus di tempat kerjanya, maka itu bakal berdampak pula pada pekerjaannya. Jadi. Kita butuh untuk saling memberi masukan.
Kenapa orang jadi apatis walau sadar pekerjaannya saling berkaitan? Bisa disebabkan beberapa hal.
Pertama, kita bersikap defensif kalau dikasih masukan. Makanya orang lain ogah ngasih masukan lagi. “Percuma dikasih tahu juga. Paling cari-cari pembenaran lagi,” begitu orang mikirnya. Makanya jangan suka bela diri kalau diberi masukan. Terima. Lalu renungkan.
Kedua. Kita tidak cukup dekat satu sama lain. Orang yang secara batiniah ada jarak, bakal sungkan memberi masukan. Makanya, penting juga untuk membangun kedekatan hubungan emosional dengan teman, atasan, maupun bawahan. Bergaulnya jangan sekedar karena rutinitas pekerjaan.
Ketiga. Kitanya nggak minta. Contoh waktu di rumah. Setelah menatap cermin pun Anda masih tanya suaminya: “Pah, kalau pake baju yang ini bagus nggak?”. Gitu kan. Padahal sudah bercermin. Masih juga nanya orang lain.
Kalau itu diterapkan dikantor, bagus tuch. Benar, kita yakin sudah melakukan hal terbaik untuk pekerjaan. Namun bertanya kepada orang lain mengenai aspek apa yang masih bisa diperbaiki; itu keren!
Minta masukan kolega. Biasakan melakukannya secara bergantian. Maka insya Allah. Suasana kerja di kantor kita, bakal makin kondusif dan produktif.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment