Home / Artikel / Pemimpin Yang Jadi Budak Pekerjaan

Pemimpin Yang Jadi Budak Pekerjaan

 
Mungkin salah judul atau gimana ya. Pemimpin kok malah menjadi budak sih? Tidak. Judul artikelnya memang demikian. Faktanya, tidak sedikit orang yang menduduki suatu jabatan tapi diperbudak oleh pekerjaannya. Makin tinggi jabatannya, makin diperbudak dia oleh pekerjaan. Kenapa demikian?
 
“Yaa… namanya juga pejabat Dang. Wajarlah kalau pekerjaannya makin banyak.” Inilah kalimat yang menjadikan seolah-olah kondisinya harus demikian.
 
Tidak benar jika pekerjaan di posisi yang lebih tinggi itu selalu lebih banyak daripada mereka yang berada dibawahnya. Tanggungjawab iya. Tapi pekerjaan? Tidak selalu demikian. Kadang makin banyak memang. Tapi ‘selalu’, tidak sama dengan ‘kadang’. Maka jika kenaikan jabatan itu menimbulkan semakin banyak pekerjaan, kemungkinan besar kita keliru menyikapinya.
 
Lantas dimana dong letak akar masalahnya? Pokok masalahnya adalah pemahaman kita yang keliru tentang ‘apa peran seorang atasan atau pimpinan’. Mind-set kita. Ketika kita mengira bahwa posisi yang lebih tinggi menuntut untuk bekerja lebih keras, lebih banyak, dan lebih sibuk. Maka kita akan mengikuti pola pikir itu.
 
Seorang pemimpin bekerja bersama orang lain. Bukan mengerjakan semua tugas sendirian. Bukan pula ‘menutupi’ kelemahan anak buahnya dengan turun tangan mengerjakan langsung tugas-tugas yang seharusnya mereka lakukan.
 
Dengan kata lain, pencapaian seorang pemimpin merupakan akumulasi dari pencapaian setiap individu yang dipimpinnya. Oleh karenanya, untuk menjadi pemimpin yang berkinerja tinggi seseorang harus memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan potensi orang-orang yang bekerja dibawah kepemimpinannya.
 
Dan karena potensi kepemimpinan itu sedemikian tingginya, maka seorang pemimpin dituntut untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas kepemimpinannya. Sayangnya, banyak orang yang mengira bahwa promosi merupakan pengakuan atas kemampuan kepemimpinannya untuk jabatan itu.
 
Gimana mau diakui jika baru dipromosi? Kita dipromosi karena menejmen menilai bahwa kita bisa belajar lagi. Mengasah diri lagi. Sehingga bisa menangani tanggungjawab yang lebih tinggi. Menejemen juga tahu kalau kapasitas kepemimpinan kita belum memadai. Makanya musti dikasih training lagi.
 
Bahkan seorang direktur pun harus belajar lagi. Kenapa? Karena kondisi manusia yang dipimpinnya bergerak dinamis sekali. Dirut yang nggak mau belajar lagi? Bakal mentok kapasitas kepemimpinannya. Sehingga cepat atau lambat, cara memimpinnya yang dulu ampuh, bakal tidak sesuai lagi. Itu level direktur loh. Apa lagi kita kan? Dan asal Anda tahu saja, banyak direktur yang jadi budak pekerjaan.
 
Kelak, Anda bakal jadi direktur. Insya Alloh. Dan Anda pasti ingin jadi direktur yang tidak diperbudak oleh pekerjaan. Maka dari sekarang, mesti diperkuat itu ilmu dan teknik kepemimpinan Anda. Kenapa? Karena kalau sudah terlalu tinggi jabatannya, orang lebih sulit menerima ilmu baru. Ada yang karena ego. Dan ada yang karena emang faktor umur bro. Berat belajar teh kalau sudah umur mah.
 
Sekarang. Mumpung masih muda. Banyak-banyak belajar ilmu memimpin. Ilmu loh ya. Bukan sekedar seradak seruduk kayak badak. Artinya, belajar mengelola team itu dengan ilmu, metodologi, dan sistematika. Sehingga sekarang pun, Anda bisa menjadi pemimpin yang efektif. Bukan jadi atasan yang sradak sruduk asal kelar kerjaan.
 
So. Seraplah ilmu kepemimpinan sebanyak-banyaknya my friend. Dan praktekkin ilmu itu, sesering mungkin. Bersama orang-orang yang Anda pimpin. Dan kelak, Anda bisa menduduki posisi yang lebih tinggi. Tanpa harus menjadi budak pekerjaan.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment