Home / Artikel / Pemimpin Yang Handal Itu Anak Buah Yang Patuh

Pemimpin Yang Handal Itu Anak Buah Yang Patuh

 
Hubungan antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya selalu menyiratkan kisah menarik. Banyak contoh hubungan baik yang layak kita teladani. Banyak juga contoh hubungan buruk yang juga patut dijadikan pelajaran. Tanpa perlu membandingkan lebih banyak contoh yang mana disekitar kita – contoh yang baik atau yang buruk – kita punya begitu banyak kesempatan menyimak, mempelajarinya, lalu menggunakan semua temuan itu untuk meningkatkan kualitas pribadi kita. Baik sebagai seorang pemimpin sekaligus juga sebagai orang yang dipimpin. Sebab, bukankah setiap pribadi itu pemimpin? Dan bukankah setiap pemimpin adalah juga orang yang dipimpin?
 
Ketika berada pada posisi, memimpin kita ingin sekali agar semua orang yang kita pimpin itu patuh kepada kita. Kepatuhan anak buah membuat pekerjaan kita sebagai pemimpin menjadi semakin mudah, bukan? Sungguh sangat menyebalkan jika ada satu orang yang yang nyeleneh, apalagi sampai membangkang. Sekedar tidak menyimak pengarahan kita saja sudah bikin gerah. Jika kita tidak menyukai anak buah yang bikin susah, maka pertanyaannya sekarang adalah; sebagai anak buah bagi orang yang memimpin kita, apakah kita juga sudah menjadi seorang anak buah yang benar-benar baik bagi atasan kita?
 
Ada sebuah hukum sederhana dalam kepemimpinan. Bunyinya begini; “Jika ingin menjadi pemimpin yang baik bagi anak buah Anda, maka Anda harus belajar menjadi anak buah yang baik bagi pemimpin Anda.” Kalau Anda tidak bisa menjadi anak buah yang baik bagi pemimpin Anda, mengapa Anda menuntut orang-orang yang Anda pimpin untuk menjadi anak buah yang baik bagi Anda?
 
“Masalahnya, pemimpin saya itu tidak layak berada pada posisinya,” mungkin kita bisa berkilah begitu. Well, banyak juga kok orang yang berpendapat demikian. Boleh jadi Anda pun menilai atasan Anda seperti itu bukan?
 
Baiklah. Jika demikian keberatan Anda, maka sederhana saja jawabannya; “Apakah Anda mengira jika semua orang yang Anda pimpin itu berpendapat bahwa Anda layak memegang jabatan yang sedang Anda sandang itu?” Hmmh…. Belum tentu juga.
 
Saya yakin Anda masih ingat kisah Nabi Sulaiman. Anda boleh menyebutnya King Solomon, kalau mau. Siapa sih yang tidak mengenal beliau? Jangankan manusia. Angin, hewan, bahkan jin sekalipun tunduk patuh kepadanya. Dizaman beliau, ada penguasa lain yang tidak kalah termasyhurnya. Beliau adalah Ratu Balqis yang tidak tunduk kepada pemimpin manapun karena kehandalan, kemakmuran, dan kedaulatan yang dimilikinya.
 
Memangnya apa sih yang diserukan oleh Sang Nabi? Dalam suratnya beliau mengajak Ratu Balqis untuk hanya menyembah Tuhan satu-satunya penguasa semesta alam. Ternyata beliau tidak mengajaknya untuk patuh kepada dirinya. Melainkan kepada atasannya lagi. Yaitu sang pemimpin kerajaan mutlak. Sang Maha Kuasa. Sang Maha Besar. The Almighty.
 
Jelas sekali jika Nabi suci itu adalah raja bagi sedemikian banyaknya mahluk. Tak ada yang meragukan kekuasaan King Solomon. Bahkan tidak ada raja setelah masa kerajaannya berakhir memiliki kekuasaan sebesar yang Alloh anugerahkan kepadanya. Namun, beliau sadar betul bahwa dirinya adalah hamba bagi atasannya yang lebih tinggi. Maka kepatuhannya kepada Maha Rajanya itulah yang membuat dirinya layak untuk diikuti dan dipatuhi.
 
King Sulaiman mencontohkan kepada rakyatnya, bagaimana mematuhi pemimpinnya. Dalam memimpin, dia tidak sedang menumpuk-numpuk kepatuhan untuk dirinya sendiri. Dia meneruskan kepatuhan semua orang yang dipimpinnya itu kepada penguasa multak diatasnya. Alloh Subhanahu Wata’ala.
 
Sungguh, Nabi Sulaiman telah memberikan contoh yang sedemikian indahnya bahwa; “Jika ingin menjadi pemimpin yang dipatuhi, maka kita mesti menunjukkan kepatuhan kepada pemimpin kita”.
 
Sudahkah Anda mencontohkan kepada anak buah Anda, bagaimana caranya menunjukkan kepatuhan kepada pemimpin Anda?  Jika belum, inilah saatnya untuk menunjukkan bahwa kita adalah anak buah yang bisa diandalkan oleh pemimpin kita.  Jika kita berhasil menunjukkan itu, maka kita pun memberikan keteladanan kepada anak buah kita, tentang bagaimana caranya menjadikan diri mereka sendiri anak buah yang bisa kita andalkan.
 
Dan jangan lupa. Bahwa; walaupun atasan kita seorang manusia, namun pada hakikatnya kita semua adalah bawahan bagi Alloh ta’ala. Maka elok sekali jika cara-cara kita memimpin, merujuk kepada hukum-hukum, aturan- aturan, dan petunjuk Alloh. Dengan begitu, maka rangkaian kepemimpinan kita akan tersambung langsung dengan hirarki kepemimpinan Ilahi. Insya Allah, ya.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment