Home / Artikel / Pekerjaan Lahir Dan Batin

Pekerjaan Lahir Dan Batin

 
Lemes ya. Demikian kita membayangkan jika sedang menjalankan ibadah shaum. Lalu bayangan itu menjadi semakin menyeramkan ketika memikirkan pekerjaan. Duh gusti, bagaimana menangani pekerjaan sebanyak ini di bulan Ramadhan? Sedangkan di bulan-bulan lain aja rasanya hampir keteteran.
 
Kenyataannya, apakah pekerjaan kita di bulan Ramadhan memang lebih berat dibandingkan bulan-bulan lainnya?
 
“Nggak juga kaleee,” kalau saya langsung bilang begitu, Anda bakal langsung protes. Makanya, lebih baik kita lihat secara obyektif 5 aspek berikut ini:
 
Pertama, bobot pekerjaan. Selama Ramadhan, pekerjaan kita bertambah nggak? Bergantung jenis bisnisnya.  Di jaringan Restoran yang menjadi klien training saya, misalnya; di bulan Ramadhan justru terjadi peningkatan kesibukan.
 
Demikian pula dengan klien di bisnis pakaian jadi. Kesibukan bahkan sudah terjadi pada 2 atau 3 bulan sebelum Ramadhan. Dan menjelang lebaran nanti, mereka bisa lembur sampai jam 2 pagi.
 
Ada kantor-kantor tertentu yang makin sibuk. Tapi, di kebanyakan kantor lainnya tidak ada penambahan bobot pekerjaan.  Di kantor lainnya lagi bahkan mungkin saja Ramadhan itu jadi lebih relax. Anda, bekerja di bidang apa?
 
Kedua. Secara fisik memang kita perlu penyesuaian. Biasanya jam 5 baru bangun misalnya. Sekarang jam 4 harus sudah melek. Tapi, jika Anda laki-laki; timbanglah apa yang harus dilakukan oleh ibu-ibu. Selain ngantor, mereka juga harus menyiapkan sahur untuk suami dan anak-anak tercinta.
 
Namun. Seringkali, ini berkaitan dengan kebiasaan. Mereka yang sebelum Ramadhan terbiasa sholat tahajud, akan relatif lebih cepat menyesuaikan diri. Bulan ini, kita sedang melatih diri. Bangun lebih pagi. Produktif lebih awal. Dan kelak setelah selesai Ramadhan, insya Alloh menjadi kebiasaan baru.
 
Ketiga. Asupan air. Saya khususkan air. Bukan makanan. Karena, tubuh kita lebih sensitif terhadap rasa haus dari pada lapar. Dan rasa haus ini, bukan ilusi. Rasa haus merupakan reaksi tubuh ketika membutuhkan cairan.
 
Maka, pada saat sahur minum yang cukup. Agak lebih banyak dari biasanya. Memang jadi lebih sering pipis, tapi justru detoksifikasi pada ginjal berjalan lebih intens. Ambillah hikmahnya.
 
Selain itu, upayakan seminimal mungkin terpapar dari suhu tinggi atau terik matahari. Jika Anda bekerja di gedung perkantoran keren, mestinya tidak terlampau jadi masalah. Bagi mereka yang bekerja di lapangan, ini bisa menjadi latihan gimana caranya membuat tempat kerja lebih nyaman.
 
Keempat. Mengerahkan kemampuan. Akui sajalah, kita tidak pernah benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan kalau tidak dipaksa kan? Normal. Karena kita kan pengen serba gampang. Padahal, serba nyaman itu membuat potensi diri kita tidak terdayagunakan. Selama Ramadhan, kita dilatih untuk tetap produktif dengan asupan yang serba terbatas.
 
Can you do that? Of course we can. Kenapa? Karena Alloh sudah menegaskan bahwa; “Laaa yukallifulllaahu nafsan illaa wus’ahaa…” Tidak mungkin Alloh memerintahkan shaum Ramadhan ini jika Dia tahu bahwa kita tidak akan mampu melakukannya. YES I CAN! Demikianlah sikap mental yang diajarkan Islam melalui firman Tuhan itu.
 
Kelima. Empati. Kapan terakhir kali Anda melihat orang lain yang pekerjaannya lebih berat dari Anda? Sudah lama banget kan. Atau, bahkan mungkin nggak pernah memikirkan betapa sulitnya orang lain bekerja. Sesekali perlu loh. Nanti kita akan makin merasakan betapa beruntungnya kita dengan pekerjaan ini.
 
Dengan memahami kelima hal diatas, maka kita akan lebih paham bahwa bekerja di bulan Ramadhan ini merupakan latihan untuk lebih menyadari bahwa apa yang selama ini Anda kerjakan di kantor, merupakan pekerjaan lahir dan batin. Sebuah kesadaran yang jarang kita miliki dibulan-bulan lainnya kan

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment