Home / Artikel / Para Profesional Jenuh

Para Profesional Jenuh

 
Pernahkah Anda merasa jenuh di kantor? Jika tidak, nanti Anda akan paham apa yang saya maksudkan. Bukan berarti jenuh itu normal. Namun kejenuhan merupakan bagian dari dinamika karir. Sehingga kita mesti paham penyebabnya. Dan dicarikan solusinya.
Akhir-akhir ini beberapa tanaman dalam pot dihalaman terlihat layu. Meski kemarau, kami rajin sirami. Tapi tanaman itu seperti hidup segan mati tak mau. Persis seperti para profesional yang jenuh dikantornya.
Setelah berkonsultasi dengan ahlinya, saya jadi tahu bahwa pohon-pohon itu bukannya sekarat. Melainkan pot tempat tumbuhnya sudah tidak dapat menampung akarnya. Dan benar. Setelah di bongkar, pot itu penuh dengan akar. Bahkan hampir tak ada lagi tanahnya.
Persis seperti para profesional jenuh itu. Merana karena ‘pot’ tempat tumbuhnya tidak lagi mampu menampung akal-akalnya. Eh, akarnya. Eh…akarlnya.
Lalu bagaimana mengatasinya? Sang ahli tanaman menyarankan untuk memindahkan tanaman itu ke tanah. Sehingga dia punya ruang tumbuh yang lebih besar. Sama seperti para profesional jenuh itu. Berikan kepadanya ruang tumbuh yang lebih besar. Anda, langsung setuju kan? Yo-i.
“Tapi tidak semua tanaman harus dibegitukan…” katanya. Oh, cocok dong. Nggak semua profesional jenuh harus diberi ruang lebih besar.
 “Hanya tanaman yang bisa besar aja yang dipindahkan…” demikian nasihatnya. Dan hanya profesional yang memiliki potensi dan gairah untuk terus tumbuh saja; yang layak diberi ruang lebih besar. Mereka yang biasa-biasa mah, cukup dalam pot saja. Sesuai porsinya masing-masing
“Tapi kalau di pot kan dia terbukti nggak tumbuh bagus, Mas.” Demikian saya protes. “Tenang saja,” katanya. Sambil meneruskan tugasnya. Mengoprek-oprek tanaman merana itu.
Sekitar seminggu kemudian. Saya terpana melihat dampaknya. Pohon yang ditanah sumeringah. Karena sekarang dia berada di tempat yang seharusnya. Dan yang tetap di pot kembali hot. Dua-duanya kembali tumbuh dengan subur.
Lalu tahukah Anda, bagaimana cara tukang kebun itu mengembalikan gairah tanaman yang tetap dipot? Bukankah sebelumnya di pot itu mereka merana? Rupanya, dia memangkas akar-akarnya. Kenapa?
Tanaman kecil sering membatasi pertumbuhannya dengan menghasilkan terlalu banyak akar yang tidak perlu. Padahal dia tidak butuh akar sebanyak itu untuk tumbuh optimal. Justru terlalu banyak akar itu menyusahkan hidupnya.
Para profesional kerdil sering meribetkan kehidupan karirnya dengan ‘akar’ yang tidak perlu. Berupa gagasan, perkataan, dan perilaku-perilaku tidak perlu atau tidak relevan dengan situasi maupun kondisi perusahaan.
“Potong akar-akar tak perlu seperti itu!” Demikian nasihat ahlinya. Sadis? Kelihatannya saja. Padahal itulah yang terbaik bagi mereka.
“Tapi kan kita meski kreatif Dang!” Iya. Namun kreativitas kita mesti relevan. Apa artinya gagasan atau pemikiran yang bertabrakan dengan nilai-nilai dan spirit perusahaan? Bukan jadi baik. Malah jadi masalah buat semua.
“Tapi masak sih kamu ngajarin kita jadi orang kecil Dang!” Hey. Size doesn’t matter. Peran dan fungsi atau kontribusi kitalah yang paling penting. Baut juga kecil. Tapi berperan penting dalam banyak hal besar.
Tidak semua karyawan harus punya jabatan tinggi kan? Jadi pegawai biasa juga tidak kurang bahagia. Bahkan mungkin bisa lebih bahagia dari yang lainnya. Faktanya demikian. Namun fakta itu sering ditutupi gengsi dan materi.
Intinya sih, perlu paham apakah kita ini pohon besar berkayu. Atau tanaman hias imut nan lucu. Lalu berperanlah sebagaimana layaknya diri kita yang sesungguhnya itu. Kemudian menyesuaikan diri dengan tempat dimana kita berada. Insya Allah. Segalanya akan baik-baik aja.
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKADARUS – Dadang Kadarusman

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment