Home / Artikel / Otomasi Dan Terancamnya Pekerjaan Manusia

Otomasi Dan Terancamnya Pekerjaan Manusia

 

Masyarakat dilanda keresahan ketika merebak berita tentang pemberlakuan system pembayaran elektronik secara menyeluruh pada layanan jalan tol. Bukan semata soal uangnya yang berubah jadi e-money. Tapi efeknya terhadap hilangnya lapangan kerja. Itu yang bikin ngeri.

Keresahan yang tidak hanya melanda pegawai pintu tol itu bukan semata-mata karena empati. Melainkan gambaran kagalauan publik tentang akankah profesi lainnya juga tergusur oleh teknologi dan otomasi?

Runtuhnya perusahaan taksi yang dimasa lalu merajai transportasi. Bergugurannya toko-toko swalayan yang dulu menjadi pusat belanja masyarakat. Dan rontoknya sejumlah merk terkenal seolah menegaskam bahwa; hey, pekerjaanmu sedang terancam.

Sempat pula diberitakan bahwa bank-bank di Eropa sudah mengurangi jumlah karyawannya secara signifikan kan? Bahkah kurir pun sekarang sudah mulai ditangani oleh drone.

Orang sales selalu mengatakan; kalau perusahaan tutup, maka orang terakhir yang kehilangan pekerjaan adalah sales. Sekarang, itu tidak berlaku lagi. Perusahaan profitable jualannya justru tidak lewat salesman. Kalau pun ada, jumlahnya sedikit. Dan statusnya kerja temporer. Do you realize that?

Terus, Apa profesi Anda? Mungkin nanti nggak ada lagi loh. Ini bukan nakut-nakutin. Tapi precaution.

Apakah profesi trainer seperti saya juga akan tergusur oleh kecanggihan teknologi? Begini. Ada 3 kategori pelatihan. Pelatihan yang meningkatkan pengetahuan (knowledge). Seminar, biasanya ada di level ini. Sudah lebih dari 10 tahun lalu training di bidang ini tergusur oleh teknologi.

Tidak ada lagi yang tertarik dengan seminar. Kalau ada seminar yang banyak pengunjungnya, biasanya mencakup 2 ini saja; 1. tentang bagaimana (katanya) menjadi orang kaya, dan 2. Gimana memulai bisnis yang – katanya juga – cepet dapet duwit.

Pelatihan keterampilan (Skill). Sekarang, bukan hanya astronot dan pilot yang dilatih dengan simulator. Latihan bedah tubuh manusia juga. VR Technology memungkinkan skill ‘apapun’ bisa dikuasai tanpa trainer.

Tinggal training attitude dan soft skills yang masih butuh sosok trainer. Bukan karena tidak tergantikan, belum saja kita temukan teknologi interaktif yang bisa berpikir dan merasa seperti manusia.

Prediksi saya, orang-orang yang mampu mengisi kekosongan spiritual manusia di zaman serba otomatis bakal dicari. Karena pada zaman itu, manusia butuh penyembuh atas kewarasan yang dikooptasi aura mesin dan robot. Sebelum manusia juga ikut berubah menjadi robot.

Otomasi hanya soal waktu. Manusia menciptakan teknologi. Kemudian teknologi mengambil alih pekerjaan manusia. Semakin canggih teknologi, semakin terancam eksistensi pekerjaan manusia.

Lantas, bagaimana nasib kita? Jika zaman serba canggih itu tiba, manusia justru tinggal menikmatinya saja. Yang akan berat adalah perjalanan menuju kesana. Sayangnya, kita tepat berada di era itu. Anak cucu kita, mungkin yang menikmati asyiknya jaman baru itu.

What then? Kangen-kangenan sama pekerjaan kita sekarang. Mumpung masih kita pegang tuch kerjaan. Love it. Do it. Perfect it.

Gimana kalau beneran nggak ada lapangan kerja sama sekali? Tenang saja. Ketika semua orang tak punya pekerjaan, maka semua orang tak punya penghasilan. Maka pelayanan yang kita butuhkan, tidak harus dibeli dengan uang. Dan di zaman itu, kita mungkin tidak kenal lagi apa itu uang.

Dunia akan membentuk kesetimbangan yang baru ketika memasuki situasi baru. Jadi, tak perlu terlalu dikuatirkan. Enjoy aja. Dan all out, pada profesi yang kita tekuni sekarang.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment