Home / Artikel / Nyonya Meneer Dan Rendahnya Sense Of Crisis Kita

Nyonya Meneer Dan Rendahnya Sense Of Crisis Kita

 
siapa-nyonya-meneer-wanita-terkuat-di-dunia-logoPailitnya pabrik Jamu Nyonya Meneer merupakan pukulan telak bagi industri Indonesia. Hal itu mengindikasikan bahwa kondisi ekonomi di negeri ini benar-benar mengkhawatirkan. Sayangnya, sebagian orang lebih suka otak-atik data tentang ‘keberhasilan’ pembangunan. Lalu menampilkannya dalam sosok yang meninabobokan.
 
Dan sebagian lagi, menjadikan nasib Nyonya Meneer itu sebagai guyonan. Lihat bagaimana simbol potret perusahaan itu dijadikan olok-olok oleh sekelompok orang. Seolah derita sesama anak bangsa itu bahan candaan dan tertawaan semata. Sampai lalai pada situasi sebenarnya yang tengah dihadapi bangsa dan negara. Betapa rendahnya sense of crisis kita.
 
Di zaman ketika ilmu digadaikan, dan kebijaksanaan diperjualbelikan; kondisi sesungguhnya tentang penurunan daya beli masyarakat lebih cocok ditanyakan kepada emak-emak dan ibu-ibu rumah tangga, dari pada menuruti kicauan para politisi maupun analisis ‘ahli’ ekonomi bergelar profesor sekalipun.
 
Kenapa? Karena yang benar-benar paham tentang kondisi ekonomi, bukanlah para politisi atau akademisi. Melainkan para pelaku ekonomi itu sendiri. Siapa pelaku ekonomi yang sesungguhnya itu? Satu, ibu-ibu yang mesti cerdas mengelola uang belanja yang terbatas. Dan dua, para pengusaha yang harus berjibaku mengendalikan bahtera perusahaan agar tidak sampai karam.
 
Nyonya Meneer, mewakili emak-emak lainnya yang semakin sesak dadanya ketika uang belanja yang tahun lalu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, kini hanya bisa membeli sebagiannya saja. Nyonya Meneer juga mewakili para pengusaha yang semakin hari semakin merasakan berkurangnya jumlah barang yang dibeli emak-emak. Mesin produksinya melambat. Dan cash flownya pun tersumbat.
 
Tidak banyak yang bisa dilakukan emak-emak selain menghemat. Kodratnya emak-emak, memang menjaga gawang kestabilan pasokan makanan dan kebutuhan anak dan suami tercinta. Walau mungkin harus kombinasi dengan kuli nyuci atau usaha kecil-kecilan lainnya untuk sekedar mencari tambahan penghasilan.
 
Bagaimana dengan pengusaha? Bagi mereka yang tidak memperoleh keistimewaan perlakuan dari pemegang kebijakan, ya harus berjuang sendirian. Dari mana mulainya? Dari mengubah mindset tentang bisnisnya. Supaya tidak terpenjara pola dan kebiasaan lama yang walaupun dimasa lalu ampuh, tapi saat ini susah tidak cocok lagi.
 
Dunia sudah berubah. Dan akan terus berubah. Begitulah faktanya. Maka absurd jadinya jika tata kelola dan proses bisnisnya masih berpola lama. Jangan sampai kinerja perusahaan hanya berpijak pada kejayaan masa lalu. Karena masa depan hanyalah milik mereka yang bisa dan bersedia menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman.
 
Walaupun kinerja sekarang masih memuaskan? Ya. Kenapa? Karena mereka yang hari ini pailit pun, sebelumnya pernah merasakan kejayaan dalam bisnisnya seperti yang saat ini Anda rasakan. Maka menerapkan mindset perubahan merupakan upaya pencegahan. Supaya dimasa depan, tidak mengalami nasib yang sama seperti mereka.
 
Apakah perubahan mindset itu akan mencukupi? Tentu tidak. Karena mindset, baru langkah awalnya saja. Yang harus diikuti oleh komitmen tingkat tinggi dalam mengesekusi. Khususnya untuk berinovasi. Inovasi seperti apa yang mesti kita lakukan? Nah. Itu yang mesti kita terus pelajari.
 
Jika tidak demikian, maka sense of crisis kita sama rendahnya dengan mereka yang gemar memoles data dan parameter perekonomian agar tampak elok didepan media. Dan sama rendahnya pula dengan mereka yang menganggap bahwa situasi ekonomi ini hanya sekedar guyonan saja. Semoga kita tidak demikian.
 

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment