Home / Artikel / Ngapain Aja Yang Sebelumnya?

Ngapain Aja Yang Sebelumnya?

 
Jika Anda bukan perintis perusahaan itu, maka artinya Anda adalah generasi penerusnya. Setuju ya? Tentu. Dan Anda, tidak perlu tersinggung disebut sebagai ‘generasi penerus’ kan? Iya.
 
Jika Anda sudah menduduki suatu jabatan pun, maka Anda adalah penerus pejabat sebelumnya. Betul? Betul. Maka apa yang Anda lakukan, merupakan bagian dari mata rantai kepemimpinan itu. Logis. Sesuai nalar.
 
Menyadari fakta itu merupakan pengantar pada salah satu akhlak seorang pemimpin. Apakah akhlak yang dimaksud? Menghormati pengabdian. Dan menghargai buah karya pemimpin sebelumnya.
 
Ingatlah bahwa bagaimana pun juga; kenikmatan, reputasi, dan kemudahan yang Anda rasakan sekarang merupakan bagian dari peninggalan pendahulu Anda. Bahkan banyak diantara proyek keren yang Anda jalankan merupakan terusan, dari pemimpin yang Anda gantikan. Bukan ide aseli Anda.
 
Coba cek, apakah semua pekerjaan Anda saat ini dimulai dari nol? Nggak. Cuman satu dua aja yang original hasil pemikiran Anda sendiri right from the scratch. Diantaranya bahkan ada yang tinggal meresmikan. Pendahulu Anda mempeloporinya. Mengerjakannya. Menyelesaikannya. Anda tinggal terima bersihnya saja.
 
Termasuk akhlak seorang pemimpin antara lain adalah tidak menghujat pendahulunya. Emang ada yang menghujat? Hmmh, perhatikan saja. Betapa sekarang sedang tren orang yang mengatakan;”Pemimpin yang sebelumnya ngapain aja?!”
 
Anda, jangan meniru yang begitu. Karena Anda merupakan bagian dari estafeta kepemimpinan itu. Entah dalam tatanan berbangsa dan bernegara. Bekerja dan berkarya. Bahkan amanah di tingkat RW dan RT sekalipun.
 
Merasa diri telah bekerja sambil mendiskreditkan orang lain, merupakan ciri takaburnya seseorang. Padahal jabatan dan kedudukan kita, hanyalah titipan yang maha kuasa. Jangan kira bakal langgeng sesuka-suka kita. Sudah banyak kok CEO yang dicopot. Direktur yang diretur. Menteri yang diperintah brenti. Menejer yang dijewer. Supervisor yang divonis lengser. Banyak.
 
Kelak kalau Anda sudah digantikan orang lain, Anda pun tidak ingin dihina seperti itu. Betul? Anda tidak ingin generasi penerus Anda berkata begitu tentang Anda. Karena Anda percaya bahwa; Anda sudah bekerja keras. Dan Anda, sudah mengabdikan diri Anda sepenuh jiwa dan raga.
 
Kata siapa? Kata Anda. Bahkan sekali pun Anda nggak kerja. Walau pun Anda tidak menghasilkan buah karya yang bermakna. Anda, merasa sudah berbuat maksimal. Sah. Wajar. Dan bisa diterima akal. Makanya, penerus Anda kelak; tidak pantas mempertanyakan “Eh, Elu dulu ngapain aje!?” Kalau sekarang Anda begitu pada pendahulu Anda, mengapa penerus Anda tidak boleh begitu kepada Anda?
 
Sebenarnya, ada yang lebih mengerikan daripada sekedar ‘karma’ semacam itu. Yaitu, marahnya Tuhan terhadap sikap belagu dan sok bener kita. Dan marahnya Tuhan, bukan soal kecil. Khususnya bagi orang yang percaya bahwa kedudukan atau jabatan itu adalah amanah.
 
Rasulullah bahkan mewanti-wanti agar tidak mengejar jabatan. Kenapa? Beraaat pertanggungjawabannya. Kalau mempertanggungjawabkan jabatan sendiri saja belum tentu sanggup, apalah lagi sampai menghakimi kepemimpinan para pendahulu?
 
Mind your business. Persiapkan bekal ‘sidang’ dirimu sendiri dihadapan Ilahi nanti. Begitulah sikap seorang pemimpin yang berakhlak tinggi. Dengan akhlak itu, dia bakal sibuuuk menjalankan amanah kepemimpinannya dengan sebaik-baiknya. Sibuk dia menyiapkan jawaban sidang Tuhan.
 
Saking sibuknya, pemimpin yang berkahlak mulia tidak lagi sempat mikirin kepentingan diri sendiri. Karena kepentingan orang-orang yang dipimpinnya telah menjadi prioritasnya. Apalagi buat menghujat pendahulunya. Nggak sempat.
 
Walaupun dia masih punya sisa tenaga, dia tak gunakan untuk itu. Karena dia tahu bahwa; “Setiap pemimpin, akan dimintai pertanggungjawaban. Atas kepemimpinannya….”
 
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment