Home / Artikel / MOMENTUM YANG HILANG

MOMENTUM YANG HILANG

 

Sayang sekali. Sebenarnya Indonesia memiliki kesempatan untuk semakin menjunjung tinggi kebhinnekaan. Sayang. Sendi-sendinya mulai hancur kini. Oleh noda yang dicemarkan 1 mahluk arogan.

Jangan menuntut para tetanggamu untuk tidak sensi jika kamu tidak menjaga lisanmu hingga terjaga perasaan mereka. Latihlah lidahmu. Supaya tak tersinggung orang dengan kata-katamu. Maka hidup rukun, bukanlah utopia bagi dunia kita.

Kita, sudah bisa membaur selama ini. Ego kelompok, kesukuan, dan agama pun semakin meluntur. Kita semua, sudah bisa saling menerima satu sama lain. Saya, bahkan mewujudkannya dalam bentuk pernikahan. Tidak ada sekat diantara kita. Walau Tuhan menciptakan kita berbeda.

Tapi satu mulut lancang telah membuat segalanya berguncang. Lalu keindahan padu padan dalam keragaman itu dipertaruhkan. Demi kekuasaan. Uang. Dan jabatan. Serupa syahwat rendahan manusia yang lupa, untuk apa dirinya diciptakan. Atau, mungkin tak tahu soal itu.

Lalu. Para pengambil keputusan pada berdiam diri. Padahal, dipundak mereka kewenangan dilegitimasi. Diam saja. Bagai kerbau dicocok hidungnya. Sambil berdalih lewat argumen yang bertolak belakang dengan akal sehat dan kewarasan. Lantas menuntut kaumnya tunduk pada bualan lagu nina bobo yang nadanya sumbang.

Tak takut lagi akhirat. Sesiapa saja yang terhadap dunia hatinya terikat. Tak gentar lagi murka Tuhan. Sesiapa yang terjerat derma bersyarat. Terkurung hutang budi. Dan tergadai berbagai macam pemberian. Tumpul. Lumpuh. Gagu. Pikirannya. Nuraninya. Tindakannya.

Kaum intelektual. Bertekuk lutut pada keberpihakannya terhadap ego. Akibat terlalu tertambat kenikmatan hidup yang diraupnya. Ketakutan akan kehilangan kenyamanannya. Atau, fantisme buta terhadap para idolanya. Lantas daya pikirnya yang kritis, mulai terkikis.

Kita kehilangan momentum. Terbangunnya keindonesiaan yang lebih indah dan beragam. Oleh satu mulut lancang. Yang dipelihara bak pualam. Dilindungi bagai kuning telur. Walau pun harga diri dan keutuhan bermasyarakat di negara ini dipertaruhkan.

Entah apa lagi yang berikutnya menjadi taruhan. Apakah ongkos sosial yang selama ini tercecer-cecer itu masih dianggap senilai uang recehan yang boleh diabaikan. Sehingga yang lebih mahal dari itu pun tega-teganya bakal ditumbalkan? Jangan.

Indonesia telah kehilangan momentum. Untuk membangun harmonisnya hubungan antar insan di negeri sendiri. Tanpa intervensi bangsa lain. Dalam penentuan kebijakannya. Dalam pengendalian tata kelola ekonominya. Dalam penetapam ideologinya. Sehingga sepertinya. Sekarang. Menjadi negeri yang. Gamang.

Kemanakah identitas. Integritas. Dan loyalitasmu pergi. Wahai para pengurus negeri? Bukankah ditanganmu kini momentum untuk menyatukan seluruh kekuatan agar negeri ini bisa meraih kejayaannya kembali?

Indonesia Raya, 26 Oktober 2016. Menjelang peringatan Hari Soempah Pemoeda. Untuk Indonesia yang satu.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment