Home / Artikel / Modal Kejujuran

Modal Kejujuran

 
Di kampung saya, ada pernikahan unik. Karena yang menikah bukanlah manusia. Melainkan kata ‘Modal’ dan ‘Jujur’. Sehingga jadilah frase ‘Modal Jujur’. Itu terjadi dulu sekali. Ketika masih kecil.
Sekarang, hampir tidak pernah lagi saya mendengar hasil pernikahan itu disebut orang. Paling juga disebut terpisah-pisah. Modal. Atau jujur. Kata modal, paling sering disebut. Sedangkan kata jujur, jarang terdengar lagi.
‘Modal jujur’ itu merupakan fondasi bagi karir apapun, tinggal dimana pun, bernisnis di bidang apapun, berinteraksi dengan siapapun. Itu dimata orang kampung. Dimana orang berorientasi pada kejujuran. Bukan semata-mata pada uang.
Makanya, kalau jualan terong dan mentimun cukup simpan saja di pinggir jalan. Sediakan baskom kosong. Tidak usah ditungguin. Karena modal yang digunakan adalah kejujuran. Nanti sore, sayur mayur kami habis. Digantikan segunduk uang dalam baskom. Itu dulu.
Bagaimana dengan sekarang? Kampung sudah bergaya seperti kota. Orientasinya mulai condong kepada uang. Sehingga kejujuran, sering tergusur hingga luntur. Bahkan uang, bisa membeli kejujuran. Makanya mungkin, banyak orang yang tidak lagi memiliki kejujuran. Karena sudah habis terjual atau tergadaikan.
Bisa dibayangkan jika kita hidup di lingkungan yang nilai-nilai kejujurannya sudah habis. Kita akan merasakan zaman dimana orang melakukan apa saja demi uang. Tanpa peduli hak, atau batil. Sudah sampaikah zaman itu sekarang?
Kalau sektor-sektor publik dikuasai oleh orang-orang yang tidak jujur, efeknya lebih parah lagi. Karena, ketidakjujurannya berkaitan dengan kepentingan orang banyak. Sekalipun tidak dalam bentuk mengambil yang bukan haknya. Tetap saja berdampak buruk.
Soal data yang dimanipulasi, misalnya. Atau informasi yang dipelitir. Survey abal-abal. Fakta yang dibolak balik. Dan sebagainya. Berapa banyak persetruan yang ditimbulkan oleh opini yang dibangun dan digiring kesana kemari kan? Maka timbullah fitnah.
Makna fitnah itu, tidak selalu berarti orang dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya. Juga tidak hanya adu domba antar kelompok. Makna fitnah yang lebih serius adalah; ‘terjadinya berbagai kejadian buruk yang menimpa penduduk suatu negeri’.
Banyak nasihat dan tuntunan Rasulullah soal ini. Bahwa ketidakjujuran itu menimbulkan berbagai mala petaka. Baik berupa rusaknya tatanan sosial suatu masyarakat. Maupun bertubi-tubinya masalah yang melanda suatu bangsa. Termasuk bencana juga loh.
Manusia boleh percaya atau tidak. Tetapi, Tuhan sudah mengingatkan untuk menjadikan kejujuran sebagai modal menjalani kehidupan. Baik sebagai karyawan. Pebisnis. Atau aparat negara.
Umat Nabi Syu’aib misalnya. Dihukum karena para pebisnisnya menipu pelanggan dengan mengurangi timbangan. Banyak pula kisah lainnya dipaparkan dalam Al-Qur’an dan hadits nabi.
Memang. Keadaan sedang serba berat. Kondisi ekonomi khususnya. Seperti juga sudah secara jujur diakui oleh Bu Menteri SMI. Tetapi, semoga saja kita masih diberi kekuatan oleh Allah ta’ala untuk terus menjaga dan mengamalkan nilai-nilai kejujuran.
Walaupun mungkin agak berat. Tapi insya Alloh, akan ada saja jalan keluar atas setiap persoalan. Dan yakinlah, bahwa akan datang pertolongan Tuhan bagi orang-orang yang mencukupkan Alloh sebagai pelindung dan penjaganya.
Yaitu, orang-orang yang memegang teguh nilai-nilai kejujuran yang diperintahkan Tuhannya. Walaupun berbagai cobaan menerpa dan beragam godaan mengerubunginya. Karena kejujuran itu, merupakan modal utama untuk mendapatkan rido dan kasih sayangnya.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment