Home / Artikel / Menyikapi Anak Buah Buangan

Menyikapi Anak Buah Buangan

 

Idealnya, kita mendapatkan anak buah yang merupakan karyawan pilihan. Sehingga kita punya team yang tangguh. Tapi kenyataannya tidak selalu demikian. Bahkan kadang kita mendapatkan anak buah hasil ‘buangan’ dari departemen lain. Sudah tidak kepake disana. Lalu dipindah ke tempat kita. Apa yang akan Anda lakukan?

 

Kebanyakan atasan, menganggap anak buah buangan itu useless. Nggak berguna. Jadi sejak awal pun mereka memandangnya secara negatif. Walhasil, tingkat kepercayaannya rendah. Sehingga tidak terbangun hubungan atasan-bawahan yang sehat.

 

Itu. Bukanlah sikap yang tepat. Kenapa? Karena, anak buah yang dibuang dari departemen lain itu belum tentu benar-benar buruk. Bisa jadi malah sebenarnya dia punya potensi yang bagus. Tetapi karena hubungannya dengan atasan sebelumnya buruk, maka potensinya tidak terdaya gunakan.

 

Sudah bukan rahasia pula jika dalam memimpin, kita masih sering menggunakan prinsip like and dislike. Mengedepankan perasaan. Gampang tersinggung. Suka memasukan hal-hal sepele kedalam hati. Makanya, anak buah yang tidak sejalan dengan perasaan disingkirkan.

 

Kemungkinan lainnya. Atasan sebelumnya cuma kepingin anak buah yang sudah ‘mateng’. Tapi males membangunnya dari ‘bahan baku’ yang masih mentah. Maka saat mendapati anak buahnya tidak kompeten, langsung dibuang. Padahal, tidak semua orang sudah jadi. Justru tugas atasanlah mengembangkan mereka.

 

Jadi intinya begini. Kalau Anda mendapatkan anak buah buangan dari departemen lain. Jangan mudah menilai anak buah itu sebagai sampah yang tidak berguna. Pandanglah dia sebagai bahan baku yang perlu Anda olah dan poles hingga menjadi ‘barang bagus’.

 

Ingatlah selalu bahwa, kualitas anak buah; merupakan gambaran atas kualitas atasannya. Jadi, kalau Anda memang atasan yang bagus. Maka anak buah Anda, insya Allah juga bagus. Walaupun asalnya dari hasil buangan? Iya.

 

Banyak kejadian anak buah yang dibuang oleh atasannya. Lalu masuk ke departemen yang dipimpin oleh atasan yang bagus. Eh, dia malah jadi bagus. Bayangkanlah. Betapa bahagianya Anda nanti. Kalau berhasil mendidik dan mengembangkan anak buah buangan itu. Menjadi profesional handal.

 

Oh. Nikmat banget rasanya. Anda merasa bahwa jerih payah Anda membuahkan hasil. Dan lebih dari itu, Anda punya bekal untuk mempertanggungjawabkan amanah kepemimpinan yang Anda sandang. Baik dihadapan atasan Anda. Dihadapan kolega Anda. Dihadapan anak buah Anda. Dan lebih utama lagi, dihadapan Allah ta’ala. Insya Allah.

 

Catatan kaki:

Manusia itu punya sisi baik dan sisi buruk. Prinsip itu, juga berlaku pada aspek kompetensi. Semua anak buah Anda, memiliki kemampuan yang sangat berguna sekali. Baik bagi dirinya sendiri. Bagi unit kerja Anda. Juga bagi perusahaan tempatnya bekerja. Tinggal Andanya saja. Bersediakah membantunya untuk menggali dan mendaya gunakannya?


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment