Home / Artikel / Menumbuhkan Benih Kejujuran

Menumbuhkan Benih Kejujuran

 
Orang jujur itu susah dicari. Begitu pendapat beberapa kalangan. Mungkin karena kurang gigih saja mencarinya barangkali. Atau, mencari tidak pada tempatnya. Makanya agak susah mencari orang jujur. Apa lagi tayangan televisi kita dipenuhi adegan-adegan yang bertolak belakang dengan nilai-nilai kejujuran. Orang yang ’kepergok’ saja tetap ngotot mengelak telah melakukannya. Atau, setidaknya ada justifikasi yang membuat mereka yakin jika kesalahannya itu layak untuk dimaklumi. Dan harus diakui sih, akhir-akhir ini; ‘Pinokio’ bebas wara wiri kesana kemari. Digadang-gadang pula oleh media-media ternama. Lalu, dimana dong generasi muda kita bisa belajar tentang kejujuran ini?
 
Ikut bermain dengan skenario anak-anak merupakan salah satu kegiatan yang mengasyikan. Siang itu, bersama anak lelaki saya yang berusia 8 tahun kami bermain monster-monsteran. Ceritanya, dia adalah monsternya. Sedangkan saya adalah buruannya yang harus menyelamatkan diri dari terkaman monster itu. Untuk mengetahui dimana monster itu, saya harus selalu memanggilnya; “Abaaaaang…..” Lalu dia yang sudah menjadi monster itu akan mengeluarkan suara yang sangat menyeramkan. Teorinya, saya harus melarikan diri supaya bisa menjauh darinya.
 
Setelah beberapa suara seram itu, saya merasakan kejanggalan. Monster itu tidak berpindah tempat. Padahal teorinya; dia harus mengejar saya. Karena penasaran, saya mengintipnya. Ternyata monster itu bersembunyi di jok belakang mobil kami. Kegarangannya terselubungi oleh sesuatu yang dirahasiakannya. Setelah menempelkan mata dikaca mobil, saya tahu bahwa ternyata; monster itu sedang mengunyah permen. Mengapa dia takut ketahuan? Karena pada saat itu, kami semua sedang berpuasa!
 
“Alhamdulillah, monsternya sudah hilang,” begitu saya bilang. “Kalau begitu, Ayah mau pergi ke masjid saja,” lalu saya mengendarai mobil itu.
 
Di perjalanan, saya memanggilnya. Lalu dialog kami pun terjadi. Tentu pada awalnya timbul pembelaan darinya. Sambil bersikeras bahwa anak lelaki kecil saya ini tidak memakan permen itu. Lalu saya katakan; “Abang tahu nggak, mengapa ayah bisa tahu soal itu?”
 
 Monster kecil itu menggeleng.
“Karena Allah memberitahu Ayah….” Kata saya.
 
“Abang bisa sembunyi sih dari Ayah. Dan Ayah pasti nggak bakal tahu semuanya.” Saya melanjutkan. “Tapi, apakah Abang bisa bersembunyi dari Allah?”
 
Sang monster kecil tertunduk lalu katanya; “Tidak…..” Suara polosnya terdengar lirih sekali.
 
Saya bersyukur sekali anak saya melakukan tindakan sembunyi-sembunyi itu. Dan lebih bersyukur lagi karena Allah memberi saya kesempatan untuk mengetahuinya. Kapan lagi kita mendapatkan momen yang sempurna untuk memberi anak kita pemahaman tentang sebuah kejujuran? Jika tidak dimasa kecil, belum tentu kita punya kesempatan lainnya. Jika sudah terlanjur dewasa, apalagi berkuasa – lebih berkuasa dari orang tuanya – nyaris mustahil untuk menumbuhkan nilai-nilai kejujuran itu pada jiwa anak-anak kita.
 
Kita, sudah sulit diajak bener jika sudah terlanjur keblinger. Makanya, kejujuran itu perlu dipelajari sejak dini. Jika sudah keburu tua seperti kita; terlampau banyak rintangannya. Rintangan itu mungkin berbentuk kesempatan. Mungkin berupa kursi basah. Mungkin juga berupa kebiasaan lingkungan. Atau tuntutan yang datangnya dari pihak-pihak yang tidak selalu bisa kita tolak.
 
“Ayah sih nggak marah Bang,” saya mulai menghiburnya. “Tapi Ayah kasihan aja sama Abang.”
 
“Kenapa?” tanyanya.
“Kalau puasa, Abang haus nggak?”
Dia mengangguk.
 
“Lapar?”
“Iya,” katanya.
“Lemes?”
“He-emh….”
“Ngantuk?”
Dia kembali mengangguk.
 
“Terus, apa lagi?” Sekarang saya yang memancingnya bicara.
“Mulut jadi terasa tawar…” jawabnya.
“Terus?” Saya kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Dan meluncurkan beragam ‘perjuangan’ yang dilaluinya selama belajar berpuasa itu.
 
“Bang Zufar Jonnathana Walidain!” saya memangil namanya. “Abang kan sudah melakukan semua ibadah itu selama puasa. Kan sayang kalau nggak dapat pahala hanya karena Abang melakukan seperti yang tadi itu…,” saya berhenti sejenak. “Abang mau puasanya sia-sia?”
 
Monster kecil itu kembali tertunduk. “Nggak…”
“Mau puasanya mendapat pahala?”
“Mau…..”
“Nah, kalau begitu jauhi tindakan seperti tadi ya…. “
“Iya…” jawabnya.
 
“Kenapa?” Saya balik bertanya kepadanya.
“Allah melihat aku…” katanya.
“Allah melihat kita semua Bang…” saya bilang. “Ayah juga sama. Kalau curang, pasti Allah tahu kecurangan Ayah…”
 
Masih ingatkah Anda bahwa ketika kenikmatan yang dihasilkan dari ketidakjujuran itu terlanjur menggelantung dipelupuk mata kita, maka kita sering lupa jika Mata Tuhan selalu mengawasi kita? Ketika pertama kali melakukan kecurangan itu, kita takuuut sekali pada Tuhan. Lalu tidak jadi kita melakukannya. Kemudian godaan itu datang lagi. Ingat lagi mata Tuhan mengawasi. Kita hampir berhenti. Namun, ada bisikan dari kanan dan kiri; “Ayolah… hanya sekali ini saja…..”
 
Niatnya hanya sekali. Namun, kemudian bisikan itu mengatakan; “Percuma elo berhenti sekarang, kan kemarin sudah pernah. Nggak usah sok suci lu!” Maka, sekali terjerumus, kita pun kebablasan terus.
 
Lantas, kemana nilai ibadah dari semua pekerjaan yang selama ini kita kerjakan? Jika Anda abdi masyarakat, kita semua tahu bahwa mengabdikan diri kepada masyarakat itu merupakan pekerjaan mulia. Jika Anda abdi Negara, kita juga tahu bahwa menjadi abdi Negara itu banyak sekali tantangannya. Persis seperti beratnya lapar, dahaga, kantuk, dan lelah yang dialami anak saya yang sedang latihan berpuasa itu. Semua nilai ibdahnya sirna ketika dia berubah menjadi monster yang melakukan keburukan tersembunyi. Sungguh sia-sialah semua pekerjaan dan pengabdian kita selama ini hingga akhir nanti. Karena dimata Allah, tidak memiliki nilai ibadah sama sekali.
 
Bagaimana dengan para profesional di sektor swasta? Soal kejujuran itu, tidak memandang sektor atau industry. Dimana kita bekerja, selalu dituntut untuk jujur. Itulah sebabnya mengapa di perusahaan swasta dikenal sebuah nilai yang disebut ‘integrity’. Maknanya, semua tindakan kita itu memang bisa disembunyikan dari orang lain. Tapi, dimata Tuhan; semua tetap kelihatan. Vendor kita. Kas kantor kita. Barang-barang milik perusahaan. Semuanya. Ada terekam dan tercatat dalam buku laporan yang dibuat dua malaikat.
 
“Abang,” saya memanggilnya lagi. “Emangnya Abang pengen buka puasa dengan permen itu?”Pembicaraan dilanjutkan lagi dalam perjalanan pulang dari masjid.
 
“Nggak…” jawabnya.
“Boleh kok, kalau memang Abang kepengen….” 
Dia tetap bersikeras bahwa sebenarnya dirinya tidak harus memakan permen itu. Hanya tergoda saja ketika sedang bermain sembunyi-sembunyian.
 
Orang dewasa seperti kita juga sama. Sebenarnya, kita tidak sangat butuh amat dengan apa yang kita ambil tanpa hak itu. Kita hanya tergoda oleh nafsu. Tidak lebih dari itu.
 
“Boleh kok, kalau memang Abang kepengen buka sama permen itu….” Saya bilang. “Tapi, sebaiknya Abang buka puasa saja. Makan nasi. Minum susu. Lalu puasa lagi.”
Monster kecil itu kembali menggeleng. Luluh hati sanubari saya melihatnya. Dan meleleeeh air mata saya tanpa diketahuinya. Ya Allah, terimakasih telah memberi saya momen yang sangat indah ini…..Alhamdulillah.
 
Mari perhatikan. Betapa orang dewasa banyak yang mengambil bukan karena mereka butuh. Mereka, mengambil karena serakah. Sebenarnya, harta dan kekayaannya sudah melimpah ruah. Tetapi, masih saja mengeruk apa pun selagi ada kesempatan. Mengapa? Karena setiap suap nafkah tidak berkah yang kita santap menyebabkan kelaparan emosi yang berkepanjangan. Setiap teguk minuman tak berkah yang kita telan, menimbulkan dahaga jiwa dan haus ruhani tak tersembuhkan. Sehingga kita, terjebak dalam ketidakjujuran secara berkelanjutan.
 
“Allah, lebih menghargai orang yang jujur berbuka puasa karena memang sudah tidak kuat lagi Bang.” Saya bilang. “Biarpun tidak tamat, tapi karena jujur dia tetap dapat pahala. Jadi, boleh aja kok Abang kalau mau buka puasa.”
 
Kami sudah kembali ke rumah. Lalu masuk kedalam kamar. Pintu ditutup sehingga tidak seorang pun bisa mengintip apa yang kami bicarakan selanjutnya. Monster kecil itu berbaring ditempat tidur sekarang. Saya berada disampingnya dengan posisi yang sama. Lalu…. ”Abang…” saya bilang.
 
“Hmmh…?” balasnya. Ada nada lemas dalam jawabannya. Trenyuh luluh sanubari ini…
“Ayah mau kasih tahu sesuatu ya.”
Dia terdiam. Wajahnya tetap saja murung.
“Tapi, ini rahasia kita berdua. Oke?”
Sekarang matanya melihat kearah saya. Lalu… ”Apa?” katanya.
 
Ini adalah momen confession yang sangat penting buat saya. Dihadapan anak lelaki kecil saya itu, saya membuat sebuah pengakuan. Tentang masa lalu saya ketika masih seusia dirinya. “Waktu Ayah masih kecil seperti Abang… emh… A-Ayah sembunyi, makan kue bikinan Mama didalam lemari…..”
Tiba-tiba saja lelaki kecil itu tertawa.
“Kirain Ayah sudah aman,” saya melanjutkan. “Eh, ternyata ketahuan sama Kakek…..”Sekarang wajahnya berubah menjadi sumeringah.
 
“Tolong, jangan kasih tahu siapa-siapa ya….!!!” Pinta saya. Dia mengangguk. Lalu saya membeberkan banyak hal rahasia yang terjadi ketika saya belajar berpuasa diusia sedini dirinya.
 
“Jadi, nggak apa-apa kok, kalau Abang melakukan kesalahan seperti tadi. Ayah juga dulu begitu kok, Bang. Eh…sssst jangan bilang siapa-siapa ya…pleaaaaase…”
Dia mengangguk lagi. “Tapi Bang.” Sekarang saya menghadap kearahnya. Hingga kami berbaring berhadapan. “Setelah ketahuan sama Kakek. Ayah jadi malu.” Saya bilang. “Kakek aja bisa tahu Ayah sembunyi sambil makan kue. Apa lagi Allah.” Saya berhenti sebentar. Mengusap air mata yang tanpa terasa meleleh dipipi saya. Oh, sudah lama saya tidak merasakan basah seperti itu.
 
“Ayah nggak mau lagi melakukan yang nggak baik, Bang.” Lanjut saya kemudian. “Soalnya, Allah selalu tahu dimana pun kita bersembunyi…..”
 
Saya menyodorkan jari kelingking. Anak lelaki kecil saya menyambut dengan jari kelingking mungilnya. Lalu, kami sama-sama berjanji untuk selalu menjaga puasa ini. Menjaga kejujuran ini. Dan selalu mengingat. Bahwa Allah ‘azza wajalla. Tidak sedetikpun berhenti mengawasi kami.
 
N.B: Spiritualitas itu bukan urusan agama semata. Nilai-nilai agama itu, Religiousness atau Faithfulness terminologinya. Dan hanya bisa diterima oleh penganutnya saja. Sedangkan spirituality, adalah ‘the calling’ yang mempengaruhi setiap tindakan kita; termasuk dalam urusan pekerjaan. Sifatnya universal. Berlaku pada siapapun dengan latar belakang agama apapun.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment