Home / Artikel / Menugasi Atau Menyuruh Anak Buah?

Menugasi Atau Menyuruh Anak Buah?

 
Memberi penugasan kepada anak buah merupakan bagian dari proses memimpin. Sayangnya, masih banyak atasan yang terjebak dalam peran itu sehingga akhirnya memposisikan diri sebagai tukang ‘nyuruh’. Hal itu tidak selalu karena mereka merupakan atasan yang buruk. Melainkan karena keterbatasan pemahaman dan pengalamannya dalam memimpin. Hal sederhana ini misalnya:”Apa sih bedanya menugasi anak buah dengan menyuruh?”. Nggak selalu mudah menjawabnya kan?
 
Saya tidak akan mengajak Anda untuk membuat definisi antara ‘menugasi’ dan ‘menyuruh’. Bakal ribet soal tepat atau tidaknya definisi itu nantinya. Mending saya ajak Anda untuk mengenali kriteria suatu penugasan saja ya. Penugasan yang baik, ditandai dengan pemenuhannya terhadap 5 kriteria berikut ini:
 
Pertama, instruksi atasan berhubungan dengan pekerjaan. Bayangkan seorang atasan berkata begini kepada anak buahnya; “Ton, bisa tolong belikan aku nasi goreng buat makan siang?” Itu penugasan atau menyuruh? Jelas menyuruh. Meskipun pake kata ‘tolong’. Mudah bagi kita untuk menentukannya, karena; isntruksi yang diberikannya tidak berhubungan dengan pekerjaan. Yang namanya penugasan, wajib berhubungan dengan pekerjaan. Diluar itu, bisa dipastikan bukan penugasan.
 
Kedua, instruksi atasan berhubungan dengan peran individu dalam team. Fungsi leader antara lain adalah melakukan koordinasi agar pekerjaan unit kerja yang dipimpinnya bisa selesai dengan pembagian peran setiap orang dalam team.  Si A tugasnya ini, si B itu, si C bla bla bla. Instruksi atasan diberikan supaya setiap orang berhasil berkontribusi sesuai porsi dan perannya masing-masing. Dalam sebuah team, tidak ada anggota yang sibuk sendiri dengan urusannya. Karena, tidak ada pekerjaan dalam team yang terlepas satu sama lain. Semua, saling berhubungan satu dengan lainnya.
 
Ketiga, instruksi itu dipahami juga oleh sang atasan. Absurd memang, tapi banyak atasan yang nggak paham proses dan konsekuensi dari instruksi yang diberikan kepada anak buahnya. Ketika anak buah menghadapi kesulitan, dia tidak bisa membantunya menemukan solusi. Ketika ada masalah ditengah jalan, atasan itu juga bingung bagaimana mengatasinya. Atasan, memang tidak harus serba bisa. Tapi dia mesti menjadi ‘akar’ bagi terselesaikannya setiap penugasan yang diberikan. Jika atasan sendiri nggak paham, bagaimana anak buahnya bisa menyelesaikan penugasan itu kan?
 
Keempat, instruksi disesuaikan dengan kemampuan anak buahnya. Memberi instruksi kepada anak buah tanpa mempertimbangkan kemampuan anak buah itu sama sekali tidak oke. Kalau penugasan yang diberikan terlalu tinggi, maka itu akan berbahaya. Bagi perusahaan dan bagi yang bersangkutan. Kalau penugasannya terlalu rendah, maka perusahaan rugi akibat inefisiensi dan anak buah juga rugi karena sia-sia dia punya potensi diri.
 
Kelima, atasan punya kemampuan menjalankan instruksi itu. Ada atasan yang menginstruksikan anak buahnya ini itu, tapi dia sendiri tidak sanggup melakukannya. Lalu bisanya apa atasan itu? Nyuruh-nyuruh doang.  Siap-siap disebelin anak buah deh kalau jadi atasan begini mah. Oleh pelanggan pun bakal diremehin. Bukankah banyak pelanggan yang bilang;”Mana atasan kamu? Saya mau bicara sama dia!”? Tidak berarti harus selalu atasan yang melakukan, memang. Tapi jika diperlukan, atasan pun siap melaksanakan. Selain hal itu bisa menjadi contoh bagi anak buah, juga bisa menjadi penyelamat pada situasi sulit ketika terjadi hal yang diluar perkiraan.
Catatan kaki:
Bedanya menyuruh dan menugasi itu tipis, kalau dilihat dari aspek ‘bunyi’ instruksinya. Tapi ditinjau dari aspek ‘perilaku’ sang pemberi instruksi, maka kita bisa membedakan; apakah seseorang memberi penugasan, atau sekedar nyuruh-nyuruh doang.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment