Home / Artikel / Menolak Update, Siap-Siap Obsolet

Menolak Update, Siap-Siap Obsolet

 
Kapan terakhir kali Anda meng-update ilmu kepemimpinan Anda? Kalau sudah lama menjadi atasan, tentu kita sudah semakin mumpuni ya? Idealnya sih begitu. Nyatanya? E-ehm. Banyak orang yang diposisi sebelumnya bagus banget. Tapi begitu naik ke level yang lebih tinggi; jadi memble.  Kenapa ya?
 
Di Jl MH. Thamrin setelah Bunderan HI sebelah kiri ada mall elit 4 lantai. Itu tahun lalu. Sekarang sudah tidak lagi. Tahu kenapa? Mall itu diruntuhkan hingga rata dengan tanah. Hanya tabir seng saja yang bisa kita lihat disekelilingnya sekarang.
 
Saya, baru paham yang sesungguhnya pada hari Rabu lalu. Dari gedung tinggi disampingnya, saya bisa melihat keadaan dibalik dinding seng itu. Ternyata, disana sedang dibangun gedung baru.
 
Menurut salah seorang menejernya, mereka sudah mendapatkan ijin membangun menara tertinggi di kawasan Ring-1 itu. Waktu itu pas ada training yang mereka percayakan kepada saya. Sehingga saya bisa berbincang dengannya.
 
“Iya. Tapi kenapa dirobohin? Kan gedung lama juga masih keren banget.” Kalau orang awam, mikirnya begitu. Tapi bagi para engineer, merobohkannya dan membangun dari awal lagi merupakan pilihan terbaik. Kenapa?
 
Gedung yang tinggi hanya bisa dibangun diatas fondasi yang kokoh. Sama dengan karir kita. Kesuksesan karir yang tinggi butuh fondasi kokoh. Kalau gedung sebelumnya dibongkar, bukan berarti jelek. Tapi fondasinya tidak akan mampu menopang gedung yang belasan kali lebih tinggi dari sebelumnya. Fondasi karir kita, mampu menopang perkembangan karir dimasa depan?
 
Karir baik kita sekarang, tidak otomatis menunjukkan kesiapan kita untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar dikemudian hari. Mall 4 lantai itu juga keren. Tapi dirobohkan demi membangun fondasi baru yang lebih kokoh. Untuk menara yang lebih tinggi.
 
Ada kalanya, kita mesti membuang banyak hal dalam diri kita. Bukan hanya hal-hal buruk. Hal baik pun mungkin ada yang mesti dibuang. Loh kok begitu? Begini.
 
Dalam proses pengembangan, kita mengenal prinsip “Learn – Unlearn – Relearn”. Kita belajar dan berlatih ini itu waktu pertama kerja dulu (Learn). Membuang pengetahuan dan keterampilan yang sudah tidak lagi relevan (Unlearn). Dan mempelajari atau mengadopsi keterampilan baru yang lebih sesuai dengan keadaan (Relearn).
 
“Kerja gini saja sudah bisa jadi menejer kok Dang! Kenapa mesti relearn segala? Lagian, bukankah ngebuang ‘sesuatu’ itu malah bikin hilang ‘kesaktian’?” Pikiran yang wajar ya? Tapi tidak tepat.
 
Prinsip-prinsip kerja kita, tidak semuanya masih layak dipertahankan. Bahkan boleh jadi, sebagian besar sudah harus ditinggalkan dan digantikan yang lebih baik.
 
Cara kita memimpin, misalnya. Banyak yang masih mengacu kepada teksbuk jadul. Tidak berarti yang lama selalu buruk. Tapi ilmu dalam bidang itu berkembang dengan pesat. Sehingga menolak update, membuat kita jadi pemimpin obsolet. Gak relevan lagi. Intinya sih, agar nggak jadi pimpinan obsolet; kita mesti terus update. Biar tetap up to date.
 
Lalu, bagaimana kita melakukannya? Prinsip sederhananya; terus belajar. Prosesnya, bisa meminta penugasan baru. Bisa magang. Bisa rolling jabatan. Bisa mengadakan kelas training. Macam-macam cara. Dan mungkin, cara-cara itu saling menopang satu sama lain.
Catatan kaki:
Software pada gadget saja mesti selalu update. Masa sih sama keterampilan kepemimpinan kita males ng-update?

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment