Home / Artikel / Menjunjung Tinggi Integritas sebagai Core Value (Nilai Luhur)

Menjunjung Tinggi Integritas sebagai Core Value (Nilai Luhur)

 
Semua perusahaan yang bagus, menjunjung tinggi integritas. Bahkan banyak yang menjadikannya sebagai bagian dari nilai luhur atau core value yang dianutnya.
Sebagai karyawan, kita wajib menjalankan pekerjaan dengan penuh integritas. Jika tidak, maka bisa kena sanksi. Bahkan ada yang hingga di PHK segala. Lantas, apakah sama makna integritas yang dianut oleh sebuah perusahaan dengan perusahaan lainnya? Mari kita cari tahu.
Kalau meeting, saya kadang membawa buku yang saya tulis. Lalu dihadiahkan kepada klien dengan tulisan dihalaman depan seperti ini: “Property Perpustakaan PT. Titiketitik.” Lalu saya tanda tangani.
Ada yang menerima. Dan ada pula yang menolaknya. Yang menolak itu berpendapat bahwa hadiah buku itu berindikasi bribery alias penyuapan. Walau pun saya jelaskan bahwa itu bukan buat individu. Melainkan didedikasikan kepada seluruh karyawan karena bisa membacanya secara bergantian. Jadi order training saya atau tidak, bukanlah masalah. Minimal, teman-teman saya disana bisa membaca beberapa hal yang bermanfaat didalamnya.
Dari peristiwa seperti itu saya menjadi semakin paham bahwa, ternyata tidak sama makna yang dikandung oleh nilai “Integritas” itu antara satu perusahaan dan perusahaan lainnya. Sama-sama menjunjung tinggi integritas. Tapi beda sekali penerapannya. Sama prinsip. Beda implementasinya.
Di tempat saya bekerja dulu, seseorang bisa di PHK kalau terbukti menerima pemberian atau melakukan penyuapan. Kalau menerima sesuatu harus declare. Dan dinikmati bersama semua karyawan. Tapi di perusahaan pesaing yang juga menganut nilai integritas, hal itu tidak dianggap sebagai pelanggaran.
Fenomena ini tak jarang membuat karyawan bingung. Khususnya mereka yang bertangungjawab terhadap penjualan. Karena kesannya, perusahaan yang rigid atau saklek dinilai lebih susah jualan daripada perusahaan yang agak longgar. Jadi karyawan harus bagaimana?
Sebenarnya mudah saja menyikapinya. Sebagai karyawan, cukup mengikuti aturan main yang ditentukan oleh perusahaan. Baik yang rigid maupun yang fleksibel. Adapun timbul ketidaksesuaian dengan hati nurani, maka tinggal direnungkan; bisakah saya menyesuaikan diri?
Jika bisa, maka tidak lagi menjadi persoalan. Dan kita, bisa fokus kepada penyelesaian atas semua pekerjaan. Tapi kalau tidak bisa menyesuaikan diri bagaimana?
Anda, tentu tidak akan bisa bekerja secara maksimal. Jadi jika memang nggaaak bisa menyesuaikan diri. Persiapkan diri untuk hijrah. Toh setiap orang memiliki hak untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya.
Bagaimana hijrahnya? Sesuaikan dengan kondisi kita saja. Ada orang yang bisa langsung berhenti. Masa depan gimana nanti. Ada juga yang pelan-pelan. Nggak masalah. Setiap orang beda cara melakukannya. Oke aja.
Intinya, integritas itu penting. Baik secara esensi. Maupun implementasi. Namun didalam integritas itu ada norma umum yang mencerminkan kesamaan pandangan publik. Dan, ada juga norma organisasi. Yang boleh jadi berbeda satu sama lainnya.
Sebagai karyawan, prinsip pertama yang harus dipegang teguh adalah; menyesuaikan diri dengan norma organisasi. Namun jika tidak memungkinkan untuk menyesuaikan diri, sebar CV kembali. Itu boleh banget. Sekalipun begitu, sebaiknya ini merupakan langkah terakhir setelah ‘semua’ ikhtiar ditempuh.
Yang tidak boleh itu, tidak mau menyesuaikan diri dengan tata nilai dan norma organisasi. Tapi mendem disana terus. Pasti bakal banyak pertentangan dan menjalankan pekerjaan. Apa lagi kalau mengeluh dan kasak-kusuk juga doyan. Ribet kan? Makanya. Jangan.
Jika ingin tetap bekerja di perusahaan itu, maka suka atau tidak; kita harus belajar menyesuaikan diri dengan maka nilai integritas yang diterapkan oleh perusahaan. Supaya, hasil kerjanya maksimal. Dan tentu, hasil ‘dibawa pulangnya’ juga lumayan kan.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment