Home / Artikel / Menjual Diri Kepada Bawahan

Menjual Diri Kepada Bawahan

 
Kita tahu bahwa karyawan tidak selalu leluasa untuk memilih siapa atasannya. Tetapi, mereka memiliki ‘cara’ untuk mengganti atasan. Tahukah Anda bagaiamana caranya? Pindah ke perusahaan lain. Penelitian tingkat global menunjukkan bahwa perilaku atau perlakuan atasan yang tidak tepat merupakan salah satu penyebab utama mengapa banyak karyawan pindah. Oleh karenanya, setiap atasan mesti mampu untuk membuat anak buahnya betah bersamanya.
 
Dengan kata lain, atasan harus bisa ‘menjual dirinya’ kepada anak buahnya. Agar mereka selalu dapat menjaga anggota-anggota team terbaiknya untuk tetap berada di team kerjanya. Jangan sampai ‘merasa’ segalanya baik-baik saja, padahal tidak. Lalu, bagaimana caranya?
 
The Voice merupakan salah satu reality show terbaik di dunia entertainment. Bukan sekedar mendapatkan hiburan proses pencarian bakat, tapi dari acara itu kita bisa belajar bagaimana seorang atasan seharusnya ‘menjual dirinya’ kepada bawahan. Adam, Cee Lo, Chistina, dan Blake; berlomba menarik simpati talenta-talenta bagus agar mau bergabung dengan teamnya.
 
Dalam konteks kepemimpinan, ‘atasan’ sering berada ‘diatas menara gading’. Namanya juga atasan. Kedudukannya tinggi hingga tidak mudah tersentuh. Padahal – seperti diajarkan dalam The Voice – kitalah yang paling membutuhkan talenta-talenta itu. Maka kitalah yang harus pandai menjual diri kepada mereka, agar talenta-talenta hebat bersedia menjadi bagian dari the winning team yang sedang kita bangun. 
 
Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjual diri kepada bawahan, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™)berikut ini:  
 
1.      Menjaga talenta yang sudah ada. Kita semuanya sudah sadar, kalau kinerja kita sebagai pemimpin tidak bisa bagus kalau anak buah kita tidak bagus. Maka, memilih dan mempertahankan talenta-talenta yang bagus menjadi keharusan yang tidak bisa dianggap remeh temeh. Sayangnya, kita sering baru sadar betapa berartinya anak buah kita itu setelah mereka pergi meninggalkan kita. Makanya, sangat penting untuk selalu mengingat bahwa kinerja kita ini bukan kita sendiri yang buat.
 
Tanpa mereka, tugas ini menjadi terlalu berat untuk kita pikul sendiri. Sekalipun kita sudah berpengalaman, senior, dan mahir. Tentu, para bahawan kita membutuhkan kita. Namun, kita jauh lebih membutuhkan mereka daripada mereka membutuhkan kita. Makanya, setiap saat, kita mesti terus menerus berupaya menjaga mereka. Agar mereka tetap kerasan dan senang hati berada dalam team yang kita pimpin. Percaya atau tidak; cara kita memperlakukan telenta yang sudah ada, merupakan daya tarik bagi talenta lain untuk bergabung dengan kita.
 
2.      Tugas atasan memimpin, bukan sekedar mengelola. Kita cenderung memforsir team kerja untuk merealisasikan target-target kinerja yang dibebankan oleh perusahaan. Jika target itu tercapai, maka ‘mission accomplished’. Kita dinilai bagus. Sehingga berhak menerima bonus. Selesai. Bagus? Biasa saja. Kenapa? Karena, setiap perusahaan menggaji seorang atasan agar teamnya bisa mencapai target perusahaan. Itu management. Maka jika hanya bisa mencapai target mah, hanya layak disebut manager saja.
 
Tapi management beda dengan leadership. Karena dalam kepemimpinan, fungsi atasan bukan sekedar mencapai target. Melainkan memfasilitasi proses belajar agar anak buahnya bisa mengoptimalkan daya diri mereka. Kita mesti membangun kesadaran anak buah bahwa mencapai target bukanlah tujuan tertingginya. Jadi meski telah berhasil mencapai target, kita tidak berhenti untuk terus mengembangkan diri. Itu, baru leadership.
 
3.      Memiliki bukti keberhasilan dalam memimpin. Mari ingat kembali hal ini; berhasil mencapai target adalah bukti keberhasilan dalam mengelola alias managemet. Bukan leadership atau kepemimpinan. Padahal, kita selalu ingin disebut sebagai pemimpin. Bukan sekedar manager atau atasan. Jadi apa dong buktinya jika kita layak disebut sebagai seorang pemimpin? Sederhana saja. Yaitu; ketika kita bisa membantu anak buah di team kerja kita agar bisa menjadi atasan berkualitas berikutnya.
 
Artinya, kemampuan kita memimpin akan teruji ketika berhasil memfasilitasi proses belajar anak buah kita agar bisa mencapai kualitas tinggi. Minimal dalam 3 aspek ini: kedisiplinannya, komitmennya kepada pekerjaan, dan kegairahannya untuk terus mengembangkan diri. Kenapa begitu? Karena dengan ketiga kualitas itu, mereka bisa berkembang terus untuk menjadi eksekutif masa depan yang bagus. Dan Anda, bisa mendapatkan kinerja bagus. Tanpa mengawasinya terus menerus.
 
4.      Memberi ruang bagi keunikan bawahan. Jika pernah menjadi bawahan yang hebat dimasa lalu, kita cenderung bernostalgia secara keliru. Makanya, ketika sering menuntut anak buah untuk beperilaku seperti kita zaman dahulu. Hey. Selain zaman mungkin sudah banyak berubah, setiap pribadi pun tidak harus seragam. Bukankah untuk sukses dulu Anda pun tidak harus meniru atasan Anda habis-habisan? Jika dahulu Anda bisa sukses dengan cara Anda sendiri, maka boleh dong anak buah Anda menemukan cara dan gaya berbeda untuk merajut keberhasilannya sendiri.
 
Tugas sebagai atasan adalah membantu mereka agar bisa menemukan cara yang paling efektif bagi dirinya untuk mengerahkan seluruh daya diri dengan tetap berpegang teguh pada etika bisnis yang berlaku. Dengan begitu, mereka pasti bisa menemukan teknik dan pendekatan yang cocok untuk dirinya. Mungkin, mereka bisa menemukan sesuatu yang bahkan kita sendiri pun tidak memikirkannya. Bukankah itu yang biasa kita sebut sebagai empowerment?
 
5.      Mendidik dan mempertanggungjawabkannya. Di kantor, kita menuntut setiap anggota team untuk memberikan hasil terbaiknya. Kita memberikan penugasan. Lalu mengharapkan anak buah segera menyesuaikan diri, menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan kita terima hasil akhirnya berupa sales atau terselesaikannya pekerjaan yang kita berikan. Dalam The Voice, beda sekali.
 
Setiap leader, tentu menuntut anggota teamnya agar bisa kompetitif. Tapi caranya bukan memberi penugasan lalu ditinggalkan pusing seperti yang sering kita dapati dikantor-kantor. Adam – Cee Lo – Christina dan Blake; terus melatih talenta-talenta yang mereka miliki untuk mengeksplorasi potensi yang belum terasah. Sampai mereka benar-benar berkilau. Setelah itu, barulah mereka di terjunkan diarena kontes sebenarnya. Dan mereka, menerima hasil akhirnya sebagai bagian dari tanggungjawab bersama antara dirinya dan talentanya.
 
Dalam The Voice, kita tidak pernah mendengar cercaan dari juri. Meskipun ada kekurangan yang mereka kritisi, namun disampaikan dengan kalimat-kalimat yang tetap memotivasi. Sekedar bermulut manis? Bukan. Melainkan karena mereka percaya bahwa setiap pribadi memiliki potensi. Beda dengan keadaan di kebanyakan team kerja. Jika anak buah berbuat salah, maka atasan sering malah berancang-ancang untuk mengambil posisi yang paling aman. Menyelamatkan muka, sekaligus melindungi reputasinya sebagai boss yang tidak pernah gagal.
 
Tentu, hal itu tidak akan terjadi jika sebagai atasan kita memiliki kualitas-kualitas kepemimpinan. Karena seorang pemimpin menyadari, bahwa; kitalah yang paling bertanggungjawab atas baik buruknya kualitas orang-orang yang kita pimpin. Sehingga kitalah yang mesti berperan paling aktif, untuk memastikan mereka bertumbuh kembang hingga di kapasitas pribadinya yang paling tinggi. Sikap seperti itulah, yang bisa menjaga talenta-talenta hebat untuk terus bergabung dengan team kerja kita. Siap menjual diri pada bawahan? Mari mulai sekarang.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment