Home / Artikel / Menjadi Orang Yang Selalu Beruntung

Menjadi Orang Yang Selalu Beruntung

 
Apakah Anda selalu beruntung? Kata pedagang, kalau nggak untung ngapain dagang? Kata pebisnis; rugi disini, tapi untung disana yang penting cash flow lancar. Kata penjudi, namanya juga untung-untungan.
 
Saat baru punya motor. Kita bilang, beruntung ya yang punya mobil. Nggak kehujanan, nggak kepanasan. Padahal disosmed, kita sering membaca betapa para pengguna mobil sering menganggap beruntung mereka yang pakai motor karena terbebas dari kemacetan.
 
Jadi hakekat untung rugi itu apa sebenarnya? Ternyata kita lebih sering mengukurnya dari materi saja. Atau hal-hal lain yang bersifat fisikal. Jarang melihat keberuntungan dalam hal yang lebih fundamental.
 
Konsekuensinya, sosok pribadi beruntung dalam pandangan kita adalah; orang yang berhasil meraih pencapaian material dan finansial fenomenal. Orang miskin, disebut kurang beruntung. Orang sederhana divonis hidup alakadarnya.
 
Padahal. Keberuntungan immaterial yang kita dapatkan jauh lebih banyak dari pada yang sifatnya material. Kesehatan misalnya. Mana bisa menikmati harta melimpah itu jika sakit. Tapi walaupun sehat, kita masih menganggap orang kaya lebih beruntung walaupun sebenarnya mereka tidak dapat menikmati kekayaannya.
 
Sehat itu tidak bermakna jasmani saja. Sehat mental, lebih dari sehatnya badan kita. Tengoklah. Betapa banyak sekarang orang yang jasmaninya sehat tapi mentalnya rusak. Bukan orang gila yang saya maksudkan. Melainkan. Orang yang sosok fisiknya sempurna. Tapi pola pikir dan tabiatnya sangat cacat.
 
Contoh. Banyak kan orang kaya yang saking kayanya sehingga mengira orang lain layaknya binatang. Penghinaan kepada gubernur NTB merupakan salah satu contoh paling aktual. Hanya karena kaya, merasa boleh menghina orang lain sesuka hatinya. Dimatanya orang lain seperti binatang.
 
Ini contoh nihilnya kesehatan mental dalam diri seseorang. Sehingga orang seperti itu, tidak termasuk yang beruntung. Walaupun dimata kebanyakan manusia yang silau oleh harta dan penghobi belanja kekuasaan, dia adalah orang yang paling beruntung didunia ini.
 
Tidak sedikit juga orang yang sukses dalam karirnya. Dalam bisnisnya. Dalam profesinya. Tapi kesuksesan itu, diraihnya dengan cara apa saja. Tidak lagi peduli halal haram. Baik buruk. Mulia atau nista. Yang penting tujuanya tercapai saja.
 
Tentu mereka beruntung dalam pandangan orang-orang yang mengutamakan materi dan fisik. Namun orang seperti itu, rugi dalam pandangan keberuntungan hakiki. Mari kita ulangi lagi pertanyaan tadi; Jadi hakekat untung rugi itu apa sebenarnya?
 
Jika kita mau bicara hakikat. Maka kita harus mengacu pada referensi yang berisikan nasihat tentang hakikat kehidupan manusia. Bukan sembarang buku menejmen, keuangan, dan strategi pemenangan berbagai jenis persaingan. Bagi saya, buku referensi tentang hakikat kehidupan itu utamanya adalah Al-Qur’an.
 
Maka dari Al-Qur’an kemudian kita bisa menemukan panduan tentang “Seperti apa sih orang yang beruntung itu?” Dan saya. Termasuk orang yang beruntung. Karena. Saya dikasih Alloh kesempatan untuk boleh membaca Al-Qur’an. Kapan saja. Dimana saja.
 
Ada begiiitu banyak catatan Al-Qur’an tentang hakekat keberuntungan. Salah satunya tertera dalam surah Al-‘Ashr. Maaf ya. Ternyata, bukan banyak uang hingga bisa membeli apapun termasuk hukum sekalipun yang menjadi ciri keberuntungan itu.
 
Beriman. Itu adalah kriteria pertama keberuntungan hakiki. Sehingga sehebat apapun seseorang, kalau tidak beriman mah, tidak termasuk orang beruntung. Jika Anda beriman, maka Anda loh orang yang beruntung itu. Alhamdulillah.
 
Kedua, berbuat amal sholeh. Artinya amal yang dilakukan dengan kesolehan. Dia orang yang beruntung. Bukan yang beramal sambil ngarep pujian. Bukan pula yang ngarep dukungan.
 
Ketiga. Orang yang saling mengingatkan dalam kebenaran. Dia pun orang beruntung. Dan keempat. Orang yang saling mengingatkan dalam kesabaran. Itulah orang-orang yang beruntung itu.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment