Home / Artikel / Mengubah Kelemahan Menjadi Keunggulan

Mengubah Kelemahan Menjadi Keunggulan

 
Keunggulan dan kelemahan itu satu paket. Dan kita semua memiliki paket komplit itu. Sudah tahu dari dulu. Tapi. Kenapa ya kita masih agak nggak rela menerima keseluruhan paket itu?
Buktinya, kita sering lebih terbebani oleh kekurangan yang kita miliki dibandingkan dengan menjadi gembira karena keunggulan yang Tuhan anugerahkan.
Andai saja kita lebih banyak memperhatikan dan mendayagunakan. Lalu mensyukuri keunggulan itu. Mungkin hidup kita bisa lebih efektif. Dan terutama. Kita bisa lebih bahagia.
Lihat saja kesusahan-kesusahan kita misalnya. Terjadi bukan semata-mata karena kekurangan yang ada pada diri kita. Toh banyak juga orang yang kekurannya bahkan lebih parah dari kita tapi hidupnya lebih baik dari kita. Soal ini, gue banget.
Bukan. Bukan karena kekurangan itu. Tapi karena kita tidak mampu mendayagunakan keunggulan yang ada pada kita. Dalam banyak situasi, keunggulan itu bahkan sering tidak digunakan justru karena kita membiarkan diri sendiri terhalang oleh kekurangan yang ada.
Contoh. Terbatasnya pengetahuan kita terhadap sesuatu. Kalau kita punya ilmu dan pengetahuan yang sangat terbatas, itu kekurangan atau keunggulan? Kekurangan. Kalau kita fokus pada kurangnya.
Tapi bisa jadi keunggulan juga loh. Bagaimana bisa? Busa. Kalau kita sadar soal itu. Lalu mendorong diri sendiri untuk belajar lebih gigih dari orang lain. Malah banyak orang berilmu yang lipa diri. Mengira ilmunya sudah mumpuni. Sehingga tidak menyadari jika daya saingnya makin berkurang.
Kita yang kurang ilmu ini bisa mengubahnya menjadi keunggulan melalui kegigihan tadi. Karena kegigihan itu, maka pengambil keputusan dikantor kita menilai bahwa kita punya kualitas dan ketangguhan mental yang lebih tinggi dibandingkan karyawan lainnya yang memang ilmunya sudah lebih tinggi.
Melalui kegigihan itu kemudian kita berhasil mengejar ketinggalan ilmu dari orang lain. Dan pada saat yang sama kita juga berhasil menarik hati pengambil keputusan.
Sekarang. Ilmu kita sudah sama dengan orang lain. Tapi selain itu, kita juga sudah membuktikan diri sebagai orang yang memiliki kemauan keras untuk maju dan berkembang terus.
Lantas, kalau pengambil keputusan itu membutuhkan seseorang untuk mensupport tugas-tugasnya; dia akan pilih orang yang sudah lebih dulu berilmu tapi sikap dan perilaku kerjanya biasa-biasa saja?
Ataukah dia akan memilih orang yang telah membuktikan diri mampu menjadikan kekurangan dirinya sebagai kekuatan untuk membangun keunggulan? Jika akal sehat kita sama-sama berfungsi; jelaslah kita bakal sepakat tentang siapa orang yang bakal mendapatkan amanah itu kan?
Kita, baru bicara soal kekurangan ilmu loh. Belum bicara soal keunggulan dan kekurangan lainnya. Intinya sih, dibalik kekurangan kita itu ada keunggulan. Sama seperti dibalik keunggulam sesorang ada juga kekurangannya kan?
Sekarang. Saya sedang belajar memahami diri sendiri khususnya melihat kembali kekurangan-kekurangan yang selama ini sering menghalangi. Saya ingin mengubah kekurangan itu menjadi kekuatan untuk membangun keunggulan. Anda mau ikutan? Ayo sama-sama kita lakukan. Saya disini. Dan Anda disana.
Catatan kaki:
Hebat ya orang yang punya banyak keterbatasan tapi masih bisa menjadi pribadi yang efektif. Saatnya kita belajar kepada mereka.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment