Home / Artikel / Menghilangkan Dengki Di Kantor Kita

Menghilangkan Dengki Di Kantor Kita

 
Hubungan antar karyawan merupakan salah satu subyek yang menarik perhatian saya. Mengapa demikian? Karena kualitas hubungan orang-orang dalam suatu organisasi sangat menentukan dinamika yang terjadi disana. Mempengaruhi suasana kerja, dan pada akhirnya berdampak langsung kepada kinerja perusahaan. Makanya, orang pada betah bekerja di perusahaan yang kualitas hubungan antar karyawannya baik. Mereka cenderung lebih mudah untuk bekerjasama dengan temannya. Sehingga, tidak mengherankan jika kinerja perusahaan pun sangat memuaskan.
 
Lantas kenapa tidak semua perusahaan mampu membangun suasana kerja sebagus itu? Mungkin ada banyak aspek yang menjadi penyebabnya. Namun, salah satu aspek terpenting yang dominan adalah; adanya sifat iri antar sesama karyawan. Jika seseorang sudah iri kepada orang lain, sudah deh. Berantakan. Karena sifat iri mendorong tuannya untuk berpikir buruk, berprasangka buruk, bahkan hingga melakukan tindakan-tindakan yang buruk.
 
Kalau sudah di level tersebut, maka iri itu berkembang menjadi dengki. Dimata orang yang dengki, hal baik pun bisa menjadi buruk. Apa sih sifat dengki itu? Gampangnya, perasaan nggak seneng kalau melihat orang lain lebih sukses dari dirinya. Gerah rasanya kalau orang mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Maka tak heran jika para pendengki saling sikut satu sama lain. Saling menjatuhkan. Dan saling mencari-cari kesalahan.
Bagaimana dengan persaingan yang ketat antara kita dengan kolega?  Hey, bersaing itu beda dengan mendengki. Silakan bersaing sekeras-kerasnya. Tapi, jangan nodai persaingan itu dengan sifat dengki. Emangnya bisa bersaing tanpa dengki? Bisa. Asal punya jiwa ksatria. Kalau orang lain yang benar, kita dukung kebenarannya meskipun dia pesaing kita. Kalau orang lain memiliki kelebihan, kita akui kelebihannya secara jantan. Kalau orang lain memiliki kekurangan, kita tidak perlu menyebarkan aib yang dimilikinya. Toh sebagai manusia, tidak ada yang tanpa cela.
Sifat yang seperti itu disebut Rasulullah sebagai ‘Akhlakul Karimah’. Akhlak terpuji. Orang yang memiliki akhlak terpuji, bukan hanya bersih dari dengki. Bahkan dia bersedia untuk memberikan bantuan kepada pesaingnya ketika diperlukan. Bayangkan. Dibantunya pesaingnya. Sekalipun mereka tengah bersaing satu sama lain.
”Aku. Diutus untuk menyempurnakan akhlak….” demikian Rasulullah menegaskan. Makanya, kalau mempelajari kitab-kitab sunnah; kita bakal menemukan begitu banyak tuntunan Rasulullah soal perilaku pribadi berakhlak mulia. Baik akhlak kepada dirinya sendiri, maupun orang lain; termasuk musuhnya sekali pun. Indah, ajarannya. Jangankan sekedar ‘musuh’ dalam persaingan karir. Musuh dalam perang fisik pun dihormati, dimuliakan, dan diperlakukan sangat baik berdasarkan ajaran Rasulullah.
“Ah, itu kan zaman dulu Dang. Ketika persaingan tidak sesengit sekarang!”
Yang namanya persaingan, dulu dan sekarang mungkin sama sengitnya. Hanya beda wujudnya saja.  Namun coba perhatikan. Bukankah orang-orang yang mempunyai akhlak yang baik selalu mendapatkan tempat terhormat dihati orang lain? Meskipun tidak terucapkan, nurani murni manusia manapun cenderung menyukai kebaikan bukan?
Tak sedikit orang keras yang menjadi lembut setelah berhadapan dengan orang berakhlak baik. Banyak orang yang segan kepada seseorang yang memiliki jiwa putih bersih. Karena kebaikan itu merupakan salah satu anugerah Tuhan. Sehingga orang yang memiliki benih kebaikan didalam dirinya, dijagakan Tuhan. Dengan penjagaan terbaiknya.
Lalu, bagaimana dengan orang yang ngotot beternak sifat dengki dalam hatinya? Eits, berhenti dulu menilai orang lain. The first thing first bagi kita adalah; terlebih dahulu membebaskan diri kita sendiri dari sifat dengki itu. Jangan-jangan, bukan orang lain loh yang suka mendengki. Tapi diri kita sendiri. Hati-hati dengan sifat dengki. Karena, pengidapnya tidak selalu menyadari.
Rasulullah SAW menasihatkan; “Hindarilah oleh kalian sifat dengki. Karena dengki itu menghancurkan kebaikan, sebagaimana api memusnahkan kayu bakar.” Duh, ternyata sifat dengki itu; bisa menghapus semua kebaikan yang pernah kita lakukan loh. Karena setiap kedengkian kita kepada seseorang akan menggerogoti tabungan pahala dari ibadah dan amal soleh kita. Bahkan ketika pahala amal kita tidak mencukupi, maka kesalahan orang yang menjadi objek kedengkian kita itu yang harus kita tebus.
Oleh karenanya sahabatku, mari belajar untuk ikut bergembira atas kesuksesan orang lain disekitar kita. Teman yang dipromosi menjadi atasan kita, misalnya. Dukung dia. Dan posisikan diri kita sebagai anak buah yang bisa diandalkan ketika dia menjalankan tugas kepemimpinannya. Insya Allah, kita bakal tenteram bekerja didalam lingkup kepemimpinannya. Dan kita juga bisa menjadi asset berharga baginya. Insya Allah. Karir kita pun bakal baik-baik saja.
Catatan kaki:
Dengki itu tidak hanya terjadi dikantor saja. Di rumah. Di lapangan olah raga. Bahkan sekedar dalam permainan ringan. Hanya orang yang berhati bersih, yang tidak memiliki dengki. Karena melalui hati yang bersih itu, meresap nilai-nilai Ilahi. Yang senantiasa menerangi. Setiap langkah dan tingkahnya.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment