Home / Artikel / Menghadapi Persaingan

Menghadapi Persaingan

 

Dikantor atau pesantren atau sekolah Anda, ada persaingan nggak? Jika ada, maka kantor atau pesantren atau sekolah Anda normal. Lantas kalau tidak ada persaingan berarti kantor atau pesantren atau sekolah -nya tidak normal? Bukan. Bukan tidak normal. Tapi tidak sehat. Nah loh…

 

Bersaing itu merupakan salah satu sifat alami mahluk hidup. Lihat saja, mahluk hidup mana yang tidak saling bersaing?  Semua bersaing kan? Jadi, malah bagus kalau dikantor Anda terjadi persaingan sengit. Karena itulah yang membuat kita lebih sehat. Baik secara fisik, mental, maupun emosi.

 

Sistem tubuh kita, justru semakin efisien ketika menghadapi persaingan. Dan, jadi tidak berfungsi optimal ketika tidak ada pesaing disekitar kita. Mau apa lagi kan? Toh nggak ada yang menyaingi juga. Jadi ya nyantai saja.

 

Tengok misalnya kondisi di perusahaan yang mendapatkan keistimewaan atau hak monopolistik. Ketika tidak ada perusahaan lain yang berkompetisi, maka semua elemen. Dari staf sampai menejmen; lelet.

 

Biar pelanggan butuh layanan handal dan cepat juga mereka ya tetep saja bergaya ‘geboy’. Di negeri kita, masih cukup banyak organisasi dan perusahaan seperti ini. Terutama di industri strategis dan kantor-kantor pelayanan publik.

 

Di industri lain kondisinya agak berbeda. Khususnya perusahaan yang tidak mengandalkan pendapatan dari subsidi negara. Mengapa mereka lebih gesit dan lebih kompetitif? Ya karena mereka harus memperjuangkannya sendiri. Sambil bertempur dengan pesaing tangguh lainnya.

 

Hasilnya? Mereka bukannya menjadi lemah. Justru otot-otot mentalnya terbentuk hingga bisa menjadi perusahaan yang tangguh dan terus berkembang. Sedangkan lembaga atau organisasi manja lainnya masih saja balapan dengan para siput yang sedang tertidur pulas. Siput? Tidur pulas pula? Oh!

 

Di level individu, persaingan menjadikan seseorang; pribadi yang mandiri, tangguh, dan bisa diandalkan. Jika terbiasa berkompetisi, Anda sudah jarang keder lagi. Kepada pesaing pun Anda memandangnya dengan cara positif. Mereka adalah orang-orang yang berjasa menjadikan Anda pribadi yang efektif.

 

Beda dengan orang yang tidak suka bersaing. Kepada para pesaing, dia memandangnya secara negatif. Mengiranya sebagai ancaman. Sehingga layak dicurigai. Disingkirkan jika perlu. Bukannya meningkatkan kualitas diri. Malah aib pesaing yang dicari-cari. Makanya, siput pun enggan balapan dengannya.

 

Kita mesti paham, bahwa para pesaing itu adalah pengawal jalannya fitrah Tuhan. Sebab begitulah mekanisme yang Tuhan rancang. Keunggulan mahluk hidup, antara lain dibangkitkan melalui persaingan.

 

Lalu kenapa sekarang kita jadi keder setiap kali harus bersaing? Takuuut banget kalau kalah. Apalagi tahu pesaingnya tangguh. Belum mulai juga sudah pesimis duluan.

 

Kita, lupa pada proses penciptaan diri kita sendiri jika demikian. Bukankah lahirnya kita juga merupakan hasil dari persaingan hidup mati untuk mendapatkan sel telur dalam rahim? Betapa kuatnya ‘bibit spirit’ persaingan yang ditanam didalam jiwa kita bukan?  Lagi pula, dalam kehidupan saat ini, persaingan tidak lagi beresiko kematian.

 

Ketika sadar makna dari persaingan itu. Dan manfaatnya buat pertumbuhan diri kita. Maka kita tidak lagi alergi dengan persaingan. Justru kita menyambutnya dengan segala persiapan. Dan perhatikanlah. Persiapan itulah yang kemudian menjadikan diri kita lebih baik dari sebelumnya.

 

Persiapan menghadapi persaingan itulah yang mengantarkan diri kita menuju batas tertinggi kapasitas pribadi yang sesungguhnya. Dan dengan itu pula, kita mendayagunakan seoptimal mungkin potensi diri yang Tuhan anugerahkan.

 

Dan melalui persaingan itu, kita membuat Tuhan senang. Tentu, melalui cara bersaing yang sesuai dengan kaidah Tuhan. Insya Allah. Aamiin…


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment