Home / Artikel / Mengejar Jabatan – Boleh ? Atau Harus ?

Mengejar Jabatan – Boleh ? Atau Harus ?

 

Apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar frase ‘jabatan’ atau ‘naik jabatan’? Saya tidak tahu jawaban Anda. Namun, mungkin beberapa pernyataan ini termasuk kedalamnya; bergengsi, boss, orang penting, gaji besar, mobil mewah, fasilitas wah, keren, bangga, seneng banget, bonus besar, dihormati orang, enak sekali, berkuasa, sukses, ruang kerja bagus.

Bagaimana dengan yang ini: tanggungjawab, amanah, rendah hati, anak buah, kerja keras, kesederhanaan, pengabdian, pengorbanan, melayani, memberi, mengayomi, membela. Adakah yang cocok dengan jawaban Anda?

Ada teman yang pandai sekali sehingga sebelum menjawab pertanyaan tadi, beliau bertanya dulu. Katanya; “jabatan apa dulu?” Buat saya, pertanyaan itu sangat masuk akal. Karena, memang ada berbagai jenis jabatan yang tidak ikut diperebutkan. Jabatan sebagai Walikota atau Bupati. Gubernur sampai Presiden. Orang pada berebut untuk mendapatkannya kan?

Di kantor juga begitu. Staff berlomba untuk menjadi supervisor. Para supervisor bersaing untuk menjadi manager. Dan mereka yang sudah menjadi manager, berjibaku untuk memperebutkan kursi direktur. Lalu, mari kita lihat sisi lain jabatan dalam kehidupan kita. Ketua RT itu kan jabatan juga. Tapi, sangat sulit sekali loh menemukan orang yang bersedia menjadi Ketua RT.

Secara tidak langsung, fenomena ini menunjukkan ‘kira-kira’ apa jawaban kita untuk pertanyaan tadi. Kemungkinan besar, kita mengaitkan ‘jabatan’ dengan segala hal material atau kenikmatan yang bisa kita dapatkan kalau menduduki jabatan tinggi. ‘Gengsi’ mendalui ‘amanah’. ‘Gaji besar’ mendahului ‘tanggungjawab’. ‘Dihormati orang lain’ mendahului ‘melayani mereka’.

Makanya, hanya untuk posisi atau jabatan yang menjanjikan semua kenikmatan itu saja kita berebutan. Sedangkan untuk jabatan yang ‘kering’, kita serahkan saja kepada orang lain. Memangnya salah? Sama sekali tidak. Sah-sah saja kok kalau kita bersemangat untuk mengejar jabatan.

Dengan semangat itu kita bersedia bekerja keras untuk menunjukkan jika kita memang pantas menerima jabatan itu. Soal mengharapkan imbalan dan pendapatan yang tinggi, itu merupakan konsekuensi dari kepercayaan dan penugasan yang kita dapatkan. Maka tidak perlu ragu untuk mengejar jabatan. Tidak usah takut juga disebut ambisius. Toh semua orang juga pada dasarnya ambisius kok.

Hanya saja, ketika melakukan pengejaran itu, sebaiknya kita lakukan dengan mengindahkan nilai-nilai dan kepatutan. Menemukan orang yang ambisius sih gampang. Kita pun begitu kan? Tapi mencari orang yang lurus dalam memperjuangkan ambisinya, mungkin cukup langka. Tantangannya adalah; apakah kita bisa menjadi pribadi yang langka itu?

Sebelum memulai perebutan itu, alangkah baiknya jika kita mengetahui apa saja yang akan kita dapatkan kelak kalau berhasil menduduki jabatan sebagai pemimpin itu. Supaya kita lebih bersemangat memperjuangkannya. Materi, gengsi dan kehormatan, jelas bakal kita dapatkan ketika kita berhasil menduduki jabatan tinggi. Kejar. Tidak perlu malu. Apalagi pura-pura tidak butuh. Kejar!

Masih kurang semangat? Baiklah, ijinkan saya menyampaikan kembali pelajaran dari guru kehidupan saya. Beliau mengisahkan sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa; “Salah satu golongan orang yang dimudahkan persidangannya di akhirat adalah pemimpin yang adil.”

Bayangkan. Jika mendapatkan jabatan tinggi itu, maka didunia Anda akan mendapatkan berbagai macam keberlimpahan dan fasilitas yang menyenangkan. Diakhirat? Anda akan mendapatkan kemudahan proses perhitungan amal baik dan buruknya. Sehingga boleh jadi, Anda termasuk orang yang paling disegerakan untuk masuk sorga. Jadi tunggu apa lagi? Kejar deh jabatan tinggi itu. Kerahkan semua kemampuan agar Anda bisa membuktikan kelayakannya.

Namun, perlu kita sadari juga jika Rasulullah pun mengingatkan bahwa: “Tidaklah ada seseorang hamba yang Allah beri kepercayaan untuk memimpin, kemudian pada saat matinya dia berada dalam keadaan melakukan penipuan terhadap rakyatnya, kecuali akan diharamkan atasnya untuk masuk surga.” Hnnah… apa lagi ini? Sebuah peringatan yang sangat keras untuk mewanti-wanti siapapun yang sedang sibuk mengejar jabatan. Kelak, jika berhasil meraihnya tetaplah mengingat ajaran Nabi ini.

Ternyata, jabatan yang kita kejar-kejar itu seperti pisau bermata dua. Mata pisau pertama berupa kekuatan yang bisa membawa kita menuju keridoan Tuhan hingga berkesempatan mendapatkan sorganya. Mata pisau kedua berupa ancaman yang bisa membawa kita kepada kebencian Tuhan hingga kehilangan kesempatan mendapat tempat terbaik disisiNya.

Masih berani mengejar jabatan? Masih. Baguslah jika begitu. Tinggal pandai-pandai saja menjalankan amanah itu kan? Yang penting kita paham konsekuensinya sejak awal. Sehingga nanti jika berhasil meraihnya, kita tidak menggunakan kekuasaan itu secara semena-mena. Mengapa? Berat konsekuensinya boss. Dibenci sama Tuhan.

Kejarlah jabatan. Lalu, kalau berhasil meraihnya; mari pastikan jika kita menunaikan amanah itu untuk mengabdi, melayani dan mengayomi orang-orang yang kita pimpin. Hingga Tuhan benar-benar rido dengan cara kita menjalani masa jabatan itu. Hingga kita bisa mendengar firmanNya seperti tertera dalam surah 89 (Al-Fajr) ayat 27-30; “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhamu dengan hati yang rido lagi diridoiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu”.


Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment