Home / Artikel / Mengatasi Atasan Tak Kompeten

Mengatasi Atasan Tak Kompeten

 
Maaf, siapa yang tidak kompeten? Atasan Anda? Oh, baiklah. Memang, banyak anak buah yang menganggap atasannya tidak kompeten. Ada yang menilainya secara obyektif. Dan ada pula yang sekedar penilaian subyektif belaka. Lantas, jika benar atasan Anda tidak kompeten; bagaimana mengatasinya?
Begini. Pertama, perlu disadari bahwa kehadiran kita sebagai bawahan adalah untuk menjadi penyokong kinerja atasan. Betul? Betul. Maka ketika sadar bahwa atasan Anda tidak kompeten, seharusnya; Anda memperkuat peran itu.
Faktanya, tidak ada kok atasan yang bisa mengerjakan semua hal sendirian. Apa lagi jika dia tidak punya background bidang yang kita kuasai. Makanya, nggak tepat kalau menuntut atasan bisa segalanya. Lagian, kita juga nggak serba bisa kan?
Anda jago di bidang Anda. Atasan Anda bukan bidang itu keahliannya. So what? Nggak perlu mempermasalahkan itu. Justru sudah menjadi tugas Anda untuk menyokongnya dari aspek keahlian yang Anda miliki.
Dari pada fokus pada kekurangannya, mendingan bantu dia dengan peran penting Anda. Sambil memberi kesempatan kepadanya untuk menampilkan sisi terbaiknya. Demi kebaikan kita bersama.
Ketiga. Kalau Anda sama sekali tidak suka sama dia sekalipun. Tetap saja bekerja dengan sebaik-baiknya. Tidak usah terlalu mengumbar rasa tidak suka Anda. Kenapa? Karena, hal itu tidak akan mengubah fakta bahwa dia atasan Anda. Dan Anda, anak buahnya. Bahaya buat Anda malah. Nanti bisa terhambat karir Anda. Minimal, berkurang kenikmatan Anda dalam bekerja.
Ketiga. Kembangkan attitude Anda. Skill dan attitude itu dua mahluk yang berbeda. Jika sudah punya skill alias keahlian, maka pastikan juga punya attitude yang bagus. Ciri attitude yang bagus antara lain, menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk mensupport orang lain dalam team. Baik kolega, maupun atasan.
Mengungkit-ungkit kekurangan orang lain bisa menjadi indikasi buruknya attitude kita. Ingatlah bahwa banyak orang yang skillnya bagus namun karirnya terhambat oleh attitudenya yang buruk.
Jika Anda punya skill yang bagus, dan dengan sabar menunjukkan attitude yang bagus walaupun atasan Anda banyak kekurangannya, maka Anda akan mendapatkan kredit poin yang bagus. Cepat atau lambat, orang juga bakal tahu siapa true leadernya. Masih ingat tentang leader de jure dan leader de facto?
Banyak orang yang kecewa dengan kompetensi atasannya. Wajar, sebenarnya. Tapi apakah itu jadi baik atau buruk, bergantung cara kita menyikapinya. Jika karena kecewa pada atasan itu kita jadi kerja asal-asalan. Doyan bergunjing sama teman. Mengikuti irama dan pola kerja buruk orang lain, dampaknya bakal buruk.
Tapi jika karena kecewa dengan atasan yang tidak kompeten itu Anda semakin menunjukkan kompetensi Anda dalam menunjang kinerja team, maka Insya Allah; efeknya menjadi baik.
Tapi kan cape Dang kalau mesti nambalin bolong-bolongnya peran atasan?! Salah, kalau kita merasa nambalin. Yang bemar adalah, menjadikan kondisi itu momentum untuk bereksperimen; gimana caranya menjadi atasan yang bagus. Mumpung belum jadi atasan.
Memang benar, punya atasan yang kompeten itu enak sekali. Tapi kalau atasan kita kurang kompeten juga nggak bakal kalah enak kok. Kalau kita melihatnya sebagai peluang untuk mengembangkan diri.
Ketahuilah bahwa, semakin tidak kompeten atasan kita; makin dibutuhkannya dukungan anak buah yang kompeten. Sekarang, tinggal Andanya saja. Mampu menunjukkan kompetensi itu atau tidak. Memang, lebih mudah menonjolkan kelemahan atasan. Dari pada meminimalkannya dengan kompetensi kita. Tapi cara yang saya sarankan ini jelas lebih banyak manfaatnya, kan?

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment