Home / Artikel / Mengapa Ide Baru Sulit Diimplementasikan

Mengapa Ide Baru Sulit Diimplementasikan

 
Sejauh yang saya ketahui, tidak ada perusahaan yang menutup mata terhadap ide baru yang muncul dikalangan internalnya. Kalau ide itu bisa memberi manfaat kepada perusahaan, pasti menejemen akan menyambut baik.
 
Bahkan tidak sedikit perusahaan yang dalam ‘Core Values’-nya mencantumkan kata INOVASI’ sebagai bukti bahwa mereka terbuka dengan gagasan-gagasan yang bisa membawa perubahan.
 
Namun, kita memiliki bukti yang valid bahwa; banyak sekali ide baru yang diterima dan disetujui oleh menejemen, namun tidak jadi diimplementasikan. Ketika saya bekerja dulu misalnya, berapa banyak gagasan baru yang di approve tapi kemudian kandas di tengah jalan. Kalau di kantor Anda, bagaimana?
 
Ada pertanyaan; memangnya kalau tidak menerapkan gagasan baru masalah buat elo?
 
Letak masalahnya bukanlah buat gue atau elo sih sebenarnya. Pada tahap awal, dampaknya bakal kelihatan berupa fenomena ‘Business As Usual’. BAU banget. Coba perhatikan, dalam setiap Business Review Meeting, apakah top management suka dengan sesuatu yang BAU? Tidak.
 
Bahkan dulu boss besar saya sering gusar ketika melihat para manager presentasi program kerja yang itu lagi, itu lagi, dan itu lagi. You know, semacam copy paste program tahun lalu. So where the hell your new programs?
 
Ada program baru. Tapi ya itu tadi. Dijalankan sebatas iseng-iseng berhadiah. Kalau bagus diterusin. Kalau nggak bagus ya di drop aja. Bahaya, kalau kita memperlakukan ide baru seperti itu. Dijamin tidak akan jalan. Dan garansi, ide yang sebenarnya sangat potensial sekalipun bakal menemui kegagalan. Why? You don’t put bold commitment. Itu yang pertama.
 
Kedua, kita sering memperlakukan ide baru sama seperti ide lama yang harus cepat-cepat menghasilkan profit. Ketika ide baru diterapkan, pasti menelan duwit. Padahal, yang kita cari adalah profit. Ya nggak nyambung. Makanya, ketika penerapan ide baru tidak menghasilkan profit secepat yang diinginkan; menejemen pun memutuskan untuk ‘Lets kill this project’.
 
Tidaklah fair untuk mengukur profitabilitas suatu gagasan baru, dalam waktu yang pendek. Suatu ide, kadang butuh bertahun-tahun untuk menghasilkan keuntungan. Itu masa kultivasi. Kenapa para BAU langsung menghasilkan laba? Ya karena BAU itu sudah melewati ‘masa bertahun-tahun’ kultivasinya dimasa lalu.
 
Kita sering lupa bahwa BAU kita itu lama kelamaan akan menjadi ‘bau’ beneran. Bakal tidak fit lagi dengan situasi dan tuntutan zaman. Anda tentu ingat dengan kurva life-cycle kan? Kalau saat ini kita puas dengan kinerja tinggi BAU, itu karena dia sedang berada dalam fase growth. Maka wajar jika tumbuh terus kinerja yang dihasilkannya.
 
Anda merayakan sukses besar perusahaan yang tengah berada di puncak prestasi? Memimpin industry dengan gagah perkasa? Tak ada pesaing yang sanggup menggoyahkan dominasinya? Itu karena sang BAU tengah berada dalam fase mature. Lantas apa yang Anda persiapkan untuk mengantisipasi fase decline sang BAU?
 
Ide baru itu, bakal tampil menjadi penyelamat bisnis perusahaan ketika efek BAU memudar. Kalau sekarang tidak memberi ruang untuk berkembang pada ide baru; kapan kita siapkan masa depan perusahaan?
 
Kalau nunggu ‘nanti’ ya akan sangat terlambat. Karena, kalau ide baru itu baru diimplementasikan ‘nanti’, maka pada waktu ‘nanti’ itu tiba; dia belum bisa menghasilkan efek yang bermakna.
 
Tapi kalau kita sudah membiasakan untuk mengimplementasikan ide baru ‘sekarang’, maka ketika ‘nanti’ itu datang, sang ide baru sudah menjadi mesin yang mampu mengkompensasi pudarnya kinerja yang dihasilkan oleh BAU.
 
Jadi. Mengapa ide baru itu sulit diimplementasikan? Karena kita tidak sungguh-sungguh mempersiapkan masa depan perusahaan. Itu saja sih sebenarnya.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment