Home / Artikel / Menepis Penat Dalam Pekerjaan

Menepis Penat Dalam Pekerjaan

 
Istirahat beberapa saat, bisa menghilangkan rasa penat. Tapi kalau penat itu timbul karena rutinitas kerja yang sudah bertahun-tahun, maka istirahat; tidak bisa memberikan pemulihan. Cuti seminggu pun nggak menyembuhkan. Lalu, bagaimana mengatasinya?
 
Seperti bumi. Jiwa kita perlu disirami. Rutinitias kerja kita, bagaikan kemarau. Yang kalau terlalu lama bersamanya, bisa membuat jiwa kerontang. Seperti ditanah gersang, jarang ada benih yang bisa tumbuh. Maka dalam jiwa kerontang, tidak ada hal yang bisa berkembang menjadi pohon kegembiraan. Hal baik sekalipun.
 
Gaji besar, misalnya. Pasti membuat kita senang. Tapi hanya sebentar saja senangnya, jika jiwa kita terserang penyakit penat. Tetap merasa nggak sepadan. Pekerjaan bagus pun nggak kerasa lagi nikmat. Hambar saja. Walaupun dibandingkan orang lain, kita sudah jauh lebih baik.
 
Ketika hujan turun. Bumi seakan menggeliat, bangkit dari kematiannya. Ditelannya air hujan, laksana hendak memupus rasa haus. Kemudian tanah pun menjadi gembur. Dan lahan kembali subur. Sehingga mudah menumbuhkan benih yang tertimbun.
 
Kepenatan jiwa kita, menandakan sudah terlalu lamanya kita tidak mendapatkan siraman. Maka jiwa yang penat, membutuhkan siraman. Bukan dengan air hujan. Melainkan dengan sesuatu yang turun dari langit. Apakah gerangan jika bukan hujan?
 
Siraman itu bernama ‘ketenteraman hati’. Loh, bukankah ketenteraman hati itu kita sendiri yang menciptakan? BUKAN. Tidak kita menciptakannya. Kita mah hanya membentuk ‘pre condition’ alias keadaan yang memungkinkan  datangnya ketenteraman. Itu saja.
 
Contoh. Jika kita gundah karena tugas belum selesai, maka kita bukan membuat hati tenang. Melainkan menyelesaikan tugas itu dengan sebaik-baiknya secara tepat waktu. Maka ketenteraman hati datang sendiri kan? Kita urusin pekerjaan. Allah menurunkan ketenteraman.
 
Bagaimana bisa begitu? Karena ketenteraman hati itu seperti hujan; diberikan oleh Allah ta’ala dari sisi-Nya. Sebagaimana firman ini;”…Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Lalu menurunkan ketenangan atas mereka…” (Surah Al-Fath ayat 18).
 
Ingatkah Anda pada musim kemarau belum lama ini? Kita memohooon kepada Allah untuk diturunkan hujan. Karena sudah tidak tahan lagi dengan kemarau ini. Lalu, ketika jiwa dilanda kepenatan setelah tenggelam dalam rutinitas kerja sekian lama; kepada siapa meminta obatnya?
 
“Boss, tolong dong naikin gaji saya…” Gak ada jaminan dikabulkan. Boss sendiri juga kepengen naik gaji.
 
“Boss, tolong dong dikurangi ini kerjaan. Kebanyakan…” Dikabulkan? Kagak. Yang ada target makin dinaikkan.
 
Nggak bisa ternyata mencari penyembuhan rasa penat ini kalau dari boss mah. Soalnya, sumber ketenangan itu hanya dari Allah ta’ala saja. Seperti dalam firman-Nya.
 
Lalu, kenapa kok Allah membiarkan kita penat seperti sekarang? Cermati lagi firman itu. (1) Allah melihat kedalam hati kita terlebih dahulu. (2) Menurunkan ketenangan kemudian. Jika hati kita tidak memiliki pre-condition untuk mendapatkan ketenangan, maka nggak bakal diberikan. Percuma diberikan juga. Karena hati bakal menolaknya.
 
Seperti tanah cadas saja. Biar diguyur hujan lebat juga gak bakalan jadi subur kan? Jadi, supaya kepenatan hati ini digantikan ketenangan; kita, perlu menyiapkannya untuk ikhlas pada ketentuan Allah. Coba ikhlas deh. Otomatis hati tenang kan?
 
Boss nyebelin juga. Kalau ikhlas, gak ngaruh. Teman yang nyebelin, gak ngaruh. Kerjaan lagi banyak. Tetep tenang. Kalau Allah melihat hati kita layak untuk disiraminya dengan hujan ketenteraman.
 
Hingga menjadikannya seperti bumi yang subur. Dari dalam hati yang tenteram bermunculan benih-benih gagasan. Usulan. Dan saran-saran untuk kebaikan dalam pekerjaan. Maka bekerja pun semakin menyenangkan. Dan kita, terbebas dari kepenatan.
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Catatan kaki:
Ketika hati tenteram, kita juga menjadi senang dalam menjalani aktivitas kerja sehari-hari. Dan ketika bekerja dengan senang, maka banyak hal dalam pekerjaan yang bisa diselesaikan. Dari situlah munculnya sebuah keunggulan.
 

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment