Home / Artikel / Mencari Penghasilan Tambahan

Mencari Penghasilan Tambahan

 
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Salah satu keluhan yang umum kita dengar dikalangan pegawai adalah; ”Gaji yang tak kunjung memadai.” Setiap bulan antara tanggal 25 sampai 31, kita hanya mengalami periode ’terima kasih’. Begitu terima gaji, langsung deh dikasih kesana-sini. Entah pos belanja bulanan, tagihan listrik, cicilan rumah, dan kadang nyaur utang. Setelah itu, dompet kembali lepet. Bersih tidak bersisa lagi selain ’remah-remahnya’ saja. Makanya setiap hari kita semakin yakin jika gaji kita tidak cukup. Jadi bagaimana dong jalan keluarnya?
 
Pertanyaan ’bagaimana dong jalan keluarnya’ itulah yang kemudian membuat kita memutar otak. Mencari cara agar bisa mendapatkan tambahan. Boleh dibilang, sebagian besar orang merasa penghasilannya harus ditunjang oleh berbagai tambahan. Termasuk mereka yang sudah menerima puluhan bahkan ratusan juta sebulan. Mengapa? Karena materi mempunyai efek adiktif. Lho, memangnya salah jika kita mencari tambahan? Tidak salah. Jika cara yang kita tempuh tetap mengindahkan nilai-nilai kepatutan.
 
Soal cara yang tidak patut itu seperti apa, tidak perlu dibahas lagi. Isi media masa sekarang pun sudah nyaris dimonopoli oleh contoh-cotohnya. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah bagaimana caranya supaya kita bisa menjaga diri dari perilaku dan tindakan mencari tambahan yang buruk itu. Sebagian orang mengatakan; ”Jadilah pengusaha!” Mungkin memang ini bisa menjadi salah satu jalan keluar. Namun pasti bukanlah satu-satunya.
 
Dan yang jelas, itu bukan jawaban atas pertanyaan; bagaimana kita bisa mendapatkan tambahan penghasilan dengan tetap menjaga nilai-nilai kebaikan? Faktanya, pengusaha pun banyak yang curang. ”Halah, jaman sekarang mah. Cari yang haram saja susah. Apa lagi cari yang halal!” Pernah mendengar orang mengatakan demikian?
 
Dulu saya mengira jika kalimat itu merupakan tingkatan yang paling tinggi dari sebuah pembangkangan terhadap nilai-nilai kebenaran. Ternyata saya keliru. Sekarang orang sudah lebih berani lagi. Mereka bilang”Sembahyang saja lebih baik berjamaah, apa lagi korupsi….”
 
Duh, sedih sekali ya mendengarnya.
Mungkin Anda tidak mendengar perkataan itu secara vulgar. Tapi, coba lihat berita di tivi. Mengapa sedemikian sulitnya untuk memberantas korupsi? Mengapa sedemikian rumitnya prosedur penumpasan korupsi? Dan mengapa, janji sang pemimpin untuk memberantas korupsi hanya sekedar basa-basi? Karena korupsi, sudah menjadi kemunkaran berjamaah dimana tak satu pun pihak berwenang yang sungguh-sungguh mengatasinya.
 
Jika kita bicara soal korupsi, hendaknya tidak lantas memikirkan hanya pegawai negeri. Di sektor swasta pun tidak sedikit terjadi. Makanya, hati-hati dengan telunjuk kita sendiri. Gampang menunjuk orang lain, padahal mungkin praktek-praktek yang kita lakukan dalam mencari uang tambahan tidak ada bedanya.
 
”Oh, kalau ini sih lain. Kita kan win-win solution,” mungkin begitu kita mengelak. Kita benar ketika mengatakan win-win solution. Para koruptor juga berprinsip win-win solution. Tapi kita sering lupa, bahwa ada pihak lain selain kita dengan penyedia jasa. Yaitu perusahaan yang kita wakili. Atau negara yang kita layani. Kita dan mitra kerja memang sama-sama win. Tapi apakah perusahaan dan negara (a.k.a. rakyat) juga win? Ini yang sering kita abaikan.
 
”Tapi kan….”
Nah, kalimat yang dimulai dengan ’tapi kan’ itu yang sering dijadikan alat pembelaan. Dan pasti pembelaan itu mengandung pembenaran. Kita yakin benar bahwa tindakan kita itu benar. Makanya, sudah salah pun kita masih saja punya argumen. Lihat di pengadilan. Selalu ada argumen untuk setiap kesalahan, bukan?
 
Hati-hati loh, kita pun mungkin melakukan hal yang sama. Tapi kita tidak merasa salah karena memiliki argumen dan penjelasan valid. Meskipun kita salah, tapi kita menganggapnya benar. Lho, kok bisa begitu? Bisa. Kita bisa mengatakan sesuatu yang salah namun tetap merasa benar. Dan itu adalah fisiologi alami tubuh. Sudah tahu mekanismenya? Begini:
 
Setiap nafkah tidak halal yang kita ambil, kemudian kita makan. Nafkah itu kita kunyah, lalu masuk kedalam saluran pencernaan. Setelah dicerna, sari patinya diserap melalui usus halus. Lalu masuk kedalam pembuluh darah. Lantas bercampur dengan aliran darah menuju ke jantung. Dari jantung, nutrisi itu disebarkan ke seluruh tubuh. Di jaringan tubuh, proses metabolisme mengubahnya menjadi energi yang digunakan untuk melakukan regenerasi sel tubuh. Apa yang terjadi kemudian?
 
Sel-sel tubuh yang sudah mati digantikan oleh sel tubuh baru yang dibangun dari saripati makanan yang tidak berkah. Kira-kira, apakah sel tubuh itu akan menegur kita ketika lidah kita ngotot membela diri? Tidak. Sel tubuh kita sama buruknya dengan pernyataan kita. Maka sel-sel tubuh itu akan memihak pada keburukan kita.
 
Darah yang mengangkut saripati makanan yang tidak halal itu juga masuk kedalam hati. Dan kita tahu bahwa fungsi hati, adalah mendetoksifikasi atau menyaring. Bayangkan jika darah yang disaringnya itu berisi makanan yang tidak berkah. Sekarang, setiap lobus dalam hati kita dipenuhi oleh jenis makanan seperti itu.
 
Maka wajar, jika hati kita pun bisa diajak kongkalikong. Hasil akhirnya? Hati kita tidak takut lagi ketika kita mengambil harta yang bukan hak kita untuk kedua kalinya, dan seterusnya.
 
Akhirnya, kompaklah seluruh bagian tubuh kita untuk melakukan keburukan secara berjamaah. Coba ingat-ingat kembali; ketika pertama kalinya melakukan keburukan itu, hati pasti memberontak. Menolak. Meronta. Mengatakan kepada kita; ”Jangan! Jangan lakukan itu.
 
Tapi ketika melakukannya untuk yang kedua kali, hati kita sudah beda lagi teriakannya:”Sudahlah ambil aja. Semua orang juga melakukan hal itu…..” Begitu loh, mekanismenya; mengapa kita bisa berubah dari orang baik menjadi pribadi buruk hanya dengan sekali memakan nafkah yang tidak berkah.
 
Bagaimana dengan anak-anak kita yang memakan nafkah itu?
Sejak kecil, mereka memakannya. Artinya, sejak kecil seluruh sel didalam tubuhnya dibangun dengan nafkah tidak berkah itu. Maka bisa dibayangkan, kualitas ’konstruksi’ tubuhnya seperti apa? Lebih parahnya lagi.
 
Pada manusia dewasa, sel-sel didalam hati tidak mengalami perubahan. Sel hati tidak mengalami regenerasi seperti sel tubuh lainnya. Jadi, hati orang dewasa hanya dicemari oleh hasil saringannya saja. Sedangkan pada anak kecil, hati sedang bertumbuh kembang. Sehingga jika anak kecil memakan nafkah tak berkah; maka hati mereka bukan hanya kotor karena menyaringnya, melainkan karena sel-sel hatinya sendiri dibangun dan disusun oleh nafkah buruk itu.
 
Makanya, tidak mengherankan jika anak-anak itu bisa lebih nista dari orang tuanya sendiri; jika mereka dinafkahi dengan harta yang tidak halal. Mengapa? Hati mereka. Seluruh selnya dibuat dari; nafkah yang tidak berkah.
 
Makanya, mari berhati-hati menafkahi anak-anak kita. Sebab, seperti yang senantiasa dinasihatkan oleh Rasulullah bahwa; ”Baik dan buruknya seorang manusia ditentukan oleh hatinya.”
 
Tentu kita ingin menjadi orang baik. Dan kita lebih ingin lagi untuk mempunyai anak-anak yang lebih baik dari diri kita sendiri. Oleh karena itu saudaraku, ayo sama-sama belajar untuk terus menafkahi mereka dengan harta dan perolehan yang halal.
 
Memang, dada kita sering sesak karena gaji yang tak kunjung cukup ini. Jika Anda begitu, saya juga sama. Mari kita terus memikirkan bagaimana caranya. Lalu istiqomah dengan hanya memilih jalur yang baik saja. Meskipun disekitar kita banyak orang yang tidak malu lagi untuk mendapatkan tambahan tanpa memperdulikan kepatutan caranya.
 
Jika  belum sanggup mencari tambahan dengan cara yang baik, mari bersabar sambil mengelola gaya hidup kita agar tidak melampaui apa yang kita punya. Jika sudah menemukan cara-caranya, mari konsisten hanya memilih cara yang pantas saja. Agar anak-anak kita hatinya tetap murni.
 
Dimana lagi jiwa kita bersemayam jika bukan didalam hati? Jika gigih menjaga hati anak-anak kita tetap murni, maka kita bisa berharap kehidupan yang baik buat masa depan mereka. Kita bisa berharap mereka akan menjadi orang yang beruntung kelak. Seperti firman Allah dalam surah 91 ayat 9-10; ”Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan jiwanya. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya….”
 
Kemarin, mungkin kita pernah tergoda mencari tambahan dengan cara apa saja. Mulai sekarang, kita perhatikan praktek-praktek bisnis kita. Kita pastikan bahwa kekurangan gaji itu kita atasi dengan mengusahakan tambahan pendapatan melalui cara-cara yang memungkinkan hati kita, dan hati anak-anak kita tetap bersih. Bisa?
 
Insya Allah. Bisa. Karena Allah, pasti memberi jalan keluar bagi setiap hambanya yang gigih, dalam mempertahankan nilai-nilai Ilahiah didalam dirinya.  
 

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment