Home / Artikel / Menanam Benih Karir Dan Merawatnya

Menanam Benih Karir Dan Merawatnya

 
Kehidupan kita ini seperti petani. Sekalipun profesi kita karyawan, tapi proses kita mendapatkan sesuatu ya seperti petani juga. Makanya, ada peri bahasa yang berbunyi begini; ‘man yazro’u yahshud’. Barang siapa menanam, akan memetik hasilnya.
Apa yang kita dapatkan dari profesi kita hari ini, adalah hasil dari apa yang kita tanam dimasa lalu. Gampangnya, gajian kita ini kan hasil bekerja selama sebulan kebelakang. Bonus kita, adalah imbalan dari kinerja yang sudah kita dedikasikan pada perusahaan. Kan begitu.
Lalu, kenapa ada orang lain yang mendapatkan hasil lebih banyak? Nah. Itu sifat cemburu kita. Kebanyakan manusia memang begitu. Mengira bahwa orang lain mendapat lebih banyak dari kita. Padahal, mungkin iya juga sih. Tapi. Kalau pun memang begitu, bukan mendemotivasi kita harusnya. Justru mesti menambah gairah kita untuk menanam lebih baik lagi.
Hasil yang kita dapatkan itu bergantung pula pada ‘sebaik apa’ benih yang kita tanam. Jika kualitas benihnya sama, kemungkinan hasilnya juga sama. Orang yang mendapatkan lebih banyak itu mungkin memang menanam bibit yang lebih baik, misalnya. Maka kalau hasilnya nggak mau kalah dari mereka, tanamlah bibit dengan kualitas yang sama.
Apa refleksi bibit dalam karir kita? Kesungguhan. Ketulusan. Dedikasi. Itu bibit. Bayangkan, Anda dan kolega. Jabatan sama. Kerjaan sama. Tapi kesungguhan dan ketulusan serta dedikasi Anda berbeda. Mana bisa hasilnya sama?
Ketulusan seseorang dalam bekerja, terpancar di wajahnya. Waktu melayani pelanggan, sumeringah dan cerah. Ketika berinteraksi dengan teman, menyenangkan. Saat menerima penugasan dari atasan, antusias. Beda dengan orang yang tidak tulus. Pelanggan diasemin. Teman dikeselin. Atasan? Dibuatnya menunggu kerjaan yang tidak kelar-kelar.
Pengen hasil panennya di kantor lebih banyak. Tapi sikapnya seperti itu? Pikirannya kurang lempeng tuch. Dalam karir, menjaga sikap itu ibarat benih padi yang ditanam sang petani. Dengan benih yang baik, dia bisa memanen lebih banyak. Dengan sikap yang baik, kita bisa mendapatkan imbalan yang lebih layak.
Sikap sudah baik. Tapi, tetep aja orang lain dibayar lebih besar. Gimana tuch? Baiklah. Sekarang begini. Petani. Kalau sudah menanami sawahnya dengan benih yang terbaik. Dia ngapain? Ditinggalinnya itu tanaman? Tidak.
Ngapain? Dirawatnya setiap hari kan. Tidak ada satu hari pun yang dilewati petani tanpa ‘menengok’ sawahnya. Untuk apa? Untuk memastikan agar benih itu tumbuh menjadi tanaman yang sehat, kuat, dan berbuah lebat.
Kalau ada gulma, dibersihkannya. Kalau ada hama, disingkirkannya. Dijaga itu tanaman sebaik-baiknya. Apa refleksinya dengan profesi kita? Skill. Kompetensi. Alias kemampuan kerja. Itu yang membuat benih ketutulusan dan kesungguhan serta dedikasi kita bertransformasi menjadi kinerja tinggi.
Dua petani. Menanam benih yang sama bagusnya. Tapi petani yang satu kompetensinya lebih tinggi. Jelas hasilnya bakal berbeda. Dua karyawan. Sama-sama tulus dan berdedikasi tinggi pada pekerjaannya. Tapi. Yang satu kompetensinya tinggi sekali. Samakah hasil kerjanya? Beda.
Sama pula kah imbalan yang diterimanya? Harus beda. Makanya. Nggak cocok kalau cuman bisa ngiri kepada orang yang memdapatkan bayaran lebih tinggi di kantor. Tanpa dibarengi dengan cara mikir yang lempeng.
Daripada menghabiskan energi dan baperan nggak karuan, mendingan fokus pada menanam benih yang bagus. Dan merawatnya dengan sebaik-baiknya. Gimana tadi caranya? Benih itu ketulusan, kesungguhan, dan dedikasi. Merawatnya itu Skill, kompetensi, alias kemampuan yang tinggi.
Fokuuuss aja dengan kedua hal itu. Bibit yang terbaik. Dan merawatnya dengan apik. Insya Alloh. Hasil panennya, bakal lebih baik lagi nantinya.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment