Home / Artikel / Menabur Kebaikan

Menabur Kebaikan

 
Setiap kebaikan, selalu menghasilkan kebaikan pula. Dan bagi orang yang percaya, Tuhan melipat gandakan hasilnya bagi yang melakukan kebaikan itu.
 
Sayangnya, kita sering tidak punya waktu untuk berbuat kebaikan. Karena, setiap hari kita tenggelan dalam kesibukan dikantor. Betul begitu? Betul. Soalnya, pekerjaan kita banyak. Jadi, tidak ada waktu untuk hal lain di luar pekerjaan.
 
Tapi ternyata, nggak perlu tambahan waktu untuk menabur kebaikan dikantor. Kok bisa? Bisa. Bukankah pekerjaan kita juga merupakan sebuah kebaikan? Coba perhatikan. Betapa pentingnya hal yang Anda kerjakan itu bagi orang lain. Jika itu bukan kebaikan, apa namanya?
 
Jika Anda kerja di pabrik genteng misalnya. Bukankah genteng itu penting? Maka bekerja disana pada hakekatnya adalah menabur kebaikan kan? Oleh karenanya, kita bisa menebarkan kebaikan tanpa menambah kesibukan. Cukup melalui pekerjaan kita saja.
 
Syaratnya, ada dua. Pertama, niatkan jika bekerja ini bukan sekedar mencari duwit. Atau sekedar memenuhi kewajiban. Jangan cuman itu. Tapi niatkan untuk melakukannya demi kebaikan orang lain.
 
Siapa orang lain itu? Bisa pelanggan. Kolega. Atasan atau bahkan anak buah kita. Siapa saja yang hidupnya bersentuhan dengan hasil kerja kita.
 
Kenapa harus diniatkan? Karena apakah dihadapan Tuhan pekerjaan kita bernilai atau tidak, itu ditentukan oleh niat kita dalam menjalaninya. Kalau niatnya cuman cari duwit, ya duwitnya aja yang kita dapat.
 
Tapi jika diniatkan untuk menolong orang lain, memudahkan urusan orang lain, atau memberi jalan keluar buat masalah orang lain misalnya. Maka pekerjaan kita bernilai ibadah dihadapan Alloh. Duwitnya dapet nggak? Otomatis itu mah kan?
 
Adakah hal lain yang bisa didapat dari pekerjaan ini selain duwit itu? Nggak ada, kalau niatnya cuman duwit. Tapi dengan niat yang tadi, maka  kita juga mendapatkan nilai kebaikan dihadapan Tuhan.
 
Yang kedua, mencurahkan kemampuan terbaik kita untuk menjalankannya. Kalau niatnya sudah lempeng. Yaitu untuk kebaikan orang lain, maka jadi aneh kalau kita melakukannya asal-asalan kan?  Persembahkan sebaik mungkin. Melalui proses, maupun hasilnya. Maka Insya Alloh, hasil kerja kita; bakal berbobot tinggi.
 
Nasib seperti apa sih yang bakal didapat oleh kaum profesional yang lurus niatnya dalam bekerja dan bersungguh-sungguh dirinya dalam mengerjakan tugas-tugasnya? Tentu nasib yang baik kan?
 
Minimal dia akan puas karena orang lain juga puas dengan hasil kerjanya. Coba perhatikan, kalau kita sudah bekerja ternyata klien kita puas dengan hasil kerja kita. Terasa enak banget kan didalam dada? Minimal perasaan seperti itu yang kita dapat sebagai buah dari niat yang lurus dengan kesungguhan dalam bekerja.
 
Maksimalnya? Masya Alloh. Tidak bisa kita ukur. Karena, bahkan Alloh pun mendeklarasikan bahwa setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang lebih banyak. Sebanyak apa? Tidak ada yang tahu pasti. Terserah Alloh saja.
 
Jika kita sudah menyerahkan seluruhnya kepada Alloh, maka kita menjadi pasrah saja. Dan buat orang pasrah itu, nothing to loose. Nggak rugi apa-apa. Kan duwit udah didapat. Mau apa lagi?
 
Jadinya jarang kecewa. Karena, segala sesuatu terjadi atas ijin dari Alloh ta’ala. Termasuk misalnya ketika dihadapkan pada situasi pekerjaan yang tidak sesuai dengan harapan. Bukan berarti diam saja. Tapi, tetap tenteram walaupun tidak menyukai suatu keadaan.
 
Oleh karenanya, selama menjalani pekerjaan itu akan terasa nikmat. Sekalipun atasan jarang memuji. Anak buah jarang mengapresiasi. Dan kolega jarang menghargai. Karena hakekat kita bekerja, untuk menabur kebaikan dikantor. Sebagai ungkapan rasa syukur.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment