Home / Artikel / Memilih Anak Buah Yang….

Memilih Anak Buah Yang….

 
Akhir pekan kemarin saya bersama para leader sebuah perusahaan di kelas training. Tantangannya cukup berat. Performa perusahaan sedang jatuh. Padahal “Kita sudah melakukan semua usaha secara maksimal,” katanya.
 
Saya mengajak mereka melakukan analisis situasi. Khususnya terkait bagaimana para leader mengembangkan anak buahnya.
 
“Jika ada anak buah yang kurang bagus, dan ada yang bagus,” demikian saya katakan. “Anak buah yang mana yang harus Anda coaching paling intensif?”
 
“Yang kurang bagus pak.” Demikian jawaban seragam yang saya dapatkan. Sekarang saya paham. Kenapa kinerja perusahaan bermasalah.
 
Keliru, jika Anda mendahulukan anak buah yang kurang bagus. Anda justru harus memprioritaskan waktu, energi, dan sumber daya yang ada untuk terlebih dahulu mengembangkan anak buah yang bagus.
 
Jika Anda mengira saya kebalik, saya tidak menyalahkan Anda. Mungkin selama ini kita dicekoki dengan pemahaman yang keliru. Mari kita perbaiki kekeliruan itu.
 
Anak buah yang bagus itu layaknya benih unggul. Anak buah yang bermasalah sebaliknya. Jika Anda punya 2 pohon. Satu dari bibit unggul, satu lagi biasa saja. Lalu Anda habis-habisan memupuk, merawat, memelihara bibit biasa itu. Maka kelak Anda akan menemukan bahwa bibit yang Anda sudah lelah-lelah rawat itu hanya menghasilkan alakadarnya saja. Mentok.
 
Celakanya. Pohon dari bibit unggul Anda juga hanya menghasilkan sedikit saja. Karena sumberdaya Anda sudah dikuras untuk yang lainnya. Sehingga bibit yang bagus tidak bisa tumbuh secara optimal.
 
Anak buah Anda. Seperti itu. Kalau Anda mengalokasikan lebih banyak sumber daya pada yang jelek. Anda hanya kebagian capeknya. Mentok. Bin bantet. Mulai sekarang. Prioritaskan anak buah Anda yang bagus. Pilih dari jenis bibit unggul. Lalu dedikasikan diri Anda untuk mengembangkannya secara optimal. Insya Alloh. Anda bakal punya orang yang bisa diandalkan.
 
“Bukankah itu bisa menimbulkan ketimpangan, Dang?” Mungkin Anda ingin menyanggah begitu.
 
Jika Anda mempunyai anak buah dengan kapasitas yang sama, maka ketimpangan bisa dihindari. Faktanya, anak buah Anda: punya talenta dan potensi yang berbeda kan?
 
Tugas seorang leader itu my friend, bukan untuk menyamaratakan kinerja anak buah kita. Melainkan untuk membantu mereka berkembang sesuai dengan kapasitas dirinya masing-masing.
 
Bahwa setiap orang akan mencapai ‘puncak’ yang berbeda, itu adalah fitrah manusia. Bahkan target pun Anda share secara berbeda kan? Maka beda hasil itu wajar. Bukan sebuah ketimpangan.
 
Mulai sekarang. Ubah cara pandang Anda. Jika ada anak buah Anda yang sudah bagus, itu bukan pertanda bahwa dia boleh dilepas lalu Anda fokus pada anak buah yang kurang bagus. Justru itu indikasi bahwa Anda harus menantang dan mengembangkannya lebih jauh lagi. Kenapa?
 
Karena. Walau pun sudah bagus. Anak buah Anda itu masih berupa benih. Belum jadi pohon besar. Atasan sering keliru mengira jika anak buahnya yang bagus sudah bekerja secara optimal. Bersama para leader di kelas itu saya membuktikan bahwa pandangan itu tidak benar.
 
Asah terus anak buah Anda yang bagus. Sampai kapan? Sampai Anda tahu persis bahwa semua potensi dirinya dikasih jalan untuk muncul kepermukaan. Setelah itu, Anda boleh lepaskan secara perlahan.
 
Lantas. Sambil memonitornya dari jarak yang tepat, Anda bisa mulai menambah alokasi perhatian kepada anak buah Anda yang lainnya. Sehingga walaupun waktu dan sumber daya Anda serba terbatas, Anda masih bisa memanfaatkan keserbaterbatasan itu untuk membangun team berkinerja tinggi.
 
Itu ‘antara lain’ kegiatan yang saya lakukan bersama para leader di kelas training tersebut. Semoga tulisan ini bermanfaat juga buat Anda.
 
N.B.: Leadership Skills dibangun melalui pengalaman, latihan, dan ilmu yang memadai. Maka jangan berhenti belajar. Lewat buku, diskusi, atau pelatihan. Bicarakan dengan pimpinan agar perusahaan membantu Anda dan para leader lainnya untuk mendapatkan semua fasilitas itu.
 
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, And Public Speaker

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment