Home / Artikel / Membuat Keputusan Yang Benar

Membuat Keputusan Yang Benar

 
Setiap jabatan selalu disertai dengan kewenangan. Diantara kewenangan itu adalah; mengambil keputusan sesuai dengan tingkatan otoritasnya. Makanya, setiap orang yang menduduki suatu jabatan tertentu, harus. Bukan boleh ya, harus mampu mengambil keputusan.
 
Sayangnya, fakta menunjukkan bahwa banyak orang yang tidak berani mengambil keputusan karena takut salah. Sehingga otoritas itu tidak dimanfaatkan secara optimal. Bahkan tak sedikit pejabat yang masih membebani atasannya dengan ketergantungan dalam proses pengambilan keputusan.
 
Memang, keputusan yang diambil itu harus benar. Jika salah, maka akan berdampak buruk pada perusahaan. Namun, hal itu tidak boleh menghalangi proses pengambilan keputusan. Lalu. Bagaimana caranya supaya terhindar dari membuat keputusan yang salah? Ah. Kita ubah pertanyaannya jadi begini: Bagaimana caranya, supaya terampil mengambil keputusan yang benar?
 
Ada 5 hal yang harus kita pahami. Pertama, benar tidaknya keputusan sangat ditentukan oleh standard yang digunakan. Misalnya aspek hukum, budaya dsb. Maka untuk membuat keputusan yang benar, mengaculah kepada standard itu.
 
Misalnya. Peraturan di perusahaan Anda hanya mengijinkan mengadakan dinner dengan klien maksimal senilai Rp. 200 ribu per orang. Apakah informasi ini bisa membantu Anda mengambil keputusan yang benar untuk menentukan di restoran mana entertain dilakukan? Tentu. So understand the standard. And follow trough.
 
Kedua, Tentukan standar apa yang hendak dipakai termasuk standard sendiri, standard perusahaan, atau standard market juga boleh.
 
Contoh. Dalam kasus diatas. Anda punya klien khusus. Di market, untuk klien sekelas itu entertainnya minimal Rp. 400 ribu. Maka standard perusahaan tidak masuk. Kalau dipaksakan ya nggak klop. Malah bisa merusak citra perusahaan. We call this ‘exception’. Oke?
 
Ketiga. Bikin standard baru. Kadang-kadang, kita dihadapkan pada masalah yang sama sekali tidak ada standard acuannya. Maka case ini, bisa sekalian kita jadikan momen untuk belajar membuat standard baru. Jadi kalau kelak muncul lagi case yang sama, nggak bakal pusing lagi. Dalam membuat standad baru, pastikan mencakup aspek kualitatif dan kuantitatif.
 
Keempat. Gunakan matrix system. Khususnya ketika menghadapi masalah yang kompleks dengan berbagai aspek yang harus dipertimbangkan. Setiap aspek itu dikasih bobot berdasarkan dampak, urgensi, atau kepentingannya. Kemudian dikalikan deh. Nanti ketemu skornya. Dari situ kita bakal menemukan the best optionnya.
 
Agak teknis memang. Tapi dalam training ‘Problem Solving & Decion Making” yang saya fasilitasi, kelihatan kalau metodologi ini berguna banget. So you can learn this technique to enhance decision making skills. Nggak rugi kalau Anda menguasai teknik ini.
 
Kelima. Intuisi bolehkah? Silakan. Tapi intuisi tdk berlaku untuk semua orang.
Intuisi itu merupakan ‘bawaan’ pada orang-orang tertentu. Kebanyakan orang, tidak punya bawaan itu. Tapi, semua orang bisa mempertajam intuisinya. Gimana caranya? Begini.
 
Kita tahu bahwa pengetahuan yang luas dan pengalaman yang banyak, berhubungan dengan refleks tubuh. Demikian pula halnya dengan decision making. Maka orang yang sudah banyak makan asam garam sering dianggap lebih tajam intuisinya. Padahal, itu sebenarnya soal proses ‘memanggil’ brain memory (kognitif) and muscle memory (psikomotorik) saja.
 
Maka bagi kaum awam atau orang yang belum banyak nyicipin asam garam (pasti rasanya asem banget dan asin abees) seperti kita, mengambil keputusan berdasarkan intuisi itu tidak dianjurkan. Terlebih lagi jika keputusan itu menyangkut hajat hidup orang lain. Maka follow the step 1, 2, 3, and 4 diatas deh ya. Jadi walaupun ngeyel mau pakai intuisi, ada sainsnya juga. Clear?

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment