Home / Artikel / Membangun Team Berkinerja Tinggi

Membangun Team Berkinerja Tinggi

 
Team yang berkinerja tinggi merupakan dambaan semua perusahaan. Setiap atasan, dituntut mampu membawa teamnya untuk menghasilkan kinerja tinggi. Tapi. Itu tidak mudah.
 
Boleh dibilang, hanya sedikit pemimpin yang berhasil. Selebihnya, hanya menjadi pemimpin biasa-biasa saja. Yang terbelenggu tugas-tugas rutin dan keadministrasian.
 
Bahkan tak jarang yang meragukan bahwa benar kita bisa membangun team yang berkinerja tinggi. Diajak kerja bener aja susah. Bagaimana pula mengajak anak buah menghasilkan kinerja diatas rata-rata?
 
Saya akan ceritakan kepada Anda sebuah contoh nyata. Bahwa gagasan membangun team yang berkinerja tinggi itu bukan utopia.
 
Beberapa hari lalu, saya menikmati dinner dengan seorang GM di sebuah PLTU. Setelah sebelumnya saya memfasilitasi training selama 4 hari untuk para karyawannya. Disela-sela makan, laporan, dan obrolan itu; kami kemudian bercerita tentang kehidupan profesional masing-masing.
 
Beliau antara lain bercerita tentang keberhasilannya dalam memperpendek masa overhaull. Tidak tanggung-tangung. Dari 50 hari kerja. Menjadi 27 hari. Buat saya. Itu merupakan sebuah pencapaian yang sangat mengagumkan.
 
Secara konsepsi, mudah. Anda yang mempelajari business process improvement methodologies pasti paham apa yang saya maksudkan. Gampang kok. Dalam ranah konsepsi. Tapi. Dalam tataran implementasi, kita suka kedodoran.
 
“Bagaimana Bapak melakukannya?” Demikian saya bertanya. Diskusi seperti ini sangat menarik hati saya. Karena dinner menjadi lebih dari sekedar rasa lezat di lidah dan kenyang di perut. Melainkan momen memanen ilmu yang melimpah ruah.
 
“Setiap hari. Saya pulang paling belakangan. Dan datang ke kantor paling pagi,” demikian katanya. Ah, tidak istimewa. Anda juga kalau bekerja seperti itu ya? Kalau belum, hmmh…
 
“Lalu saya siapkan arahan dan sasaran kerja anak buah saya untuk hari itu…” lanjutnya. Nah. Anda begitu juga tidak? Untuk hal yang satu ini, tidak banyak leader yang melakukannya.
 
“Kemudian saya monitor pelaksanaannya.” Katanya. “Saya awasi ketat sekali,” lanjutnya. Kontrol atau pengawasan merupakan salah satu fungsi fundamental dalam kepemimpinan. Tapi kita tahu bahwa, banyak yang tidak melakukannya…
 
“Saya lakukan itu terus menerus setiap hari,” tambahnya. Kita memang sudah melakukan pekerjaan dan tugas sebagai pimpinan dengan baik. Tapi. Sering tidak konsisten.
 
“Sampai suatu hari,” tambahnya. Anak buah saya bilang ‘Lho, kok sudah selesai ya’. Padahal baru 27 hari. Padahal, biasanya kami selesaikan dalam waktu 50 hari.”
 
Sejak saat itu, pencapaian mereka menjadi standar baru bagi perusahaan.
 
Perhatikan bagaimana seorang true leader menjadikan teamnya unit kerja berkinerja tinggi.
 
Setelah saya cermati,  ketemulah 6 kualitas langka berikut ini:
 
Pertama, disiplin diri. Bukan anak buah yang paling duluan harus didisiplinkan. Kita dulu sebagai atasannya. Disiplin kita bagus. Anak buah kita mengikutinya.
 
Kedua. Membuat peta arahan yang jelas buat anak buahnya. Pekerja, pada umumnya hanya menjalankan apa yang ditugaskan kepada mereka. Nggak mikir komprehensif. Pokoknya kerjakan saja. Selesai. Kitalah yang mesti membangun konstruksi besarnya. Anak buah kita mengerjakan bagiannya.
 
Ketiga. Memonitor proses dan dampaknya dari waktu ke waktu. Atasan kan bukan petugas di garis start dan garis finish. Kita ini, bertugas di sepanjang lintasannya. Jadi kita paham bagaimana prosesnya. Apa yang terjadi didalamnya. Bagaimana mengatasi permasalahannya. Langkah demi langkah. Hingga mencapa garis akhir.
 
Keempat. Konsisten. Berapa banyak sih proyek yang berhenti di tengah jalan? Nggak usah nunjuk hidung pemerintah. Di kantor Anda saja. Kinerja tinggi dihasilkan dari konsistensi yang dimulai pemimpinnya.
 
Kelima. Mengapresiasi anak buah. Orang tak bakal bekerja dengan baik jika tidak merasakan apresiasi atasan. Team yang berkinerja tinggi dibangun oleh orang-orang yang merasa dihargai.
Keenam. “Make It Fun”. Satu yg paling mudah dan paling penting yaitu “make it fun” sehingga saat pekerjaan selesai mereka puas dan “ingin lagi”.

Lalu bagaimana caranya ?  salah satunya sudah disinggung yaitu apresiasi setiap langkah dalam pekerjaan mereka.  Support sepenuhnya dan memberi solusi dalam masalah yg mereka alami. Personal touch pada SETIAP individu. Yakinkan “they are not alone and they are moving together”. Dan yg paling penting Celebrate TOGETHER.  Mudah mudahan ada manfaatnya.
 
Sebagai seorang leader sudahkah Anda miliki ke-6 kualitas langka itu?

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment