Home / Artikel / Membangun Corporate Alignment

Membangun Corporate Alignment

 
Salah satu tantangan paling pelik yang di hadapi banyak perusahaan adalah; bagaimana membangun alignment antar departemen dan semua unit kerja dalam perusahaan.
 
Para CEO tahu persis bahwa hal itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Managers terkesan lebih mementingkan urusan masing-masing. Sekalipun mereka paham bahwa roda bisnis hanya akan berjalan secara efektif jika setiap elemen bahu membahu untuk mewujudkan tujuan perusahaan.
 
Apakah fenomena itu menunjukkan buruknya sikap unit leaders? Tidak. Ini bukan soal bad attitude mereka. Saya melihatnya sebagai dampak dari ketidakpahaman mereka terhadapan kesaling terhubungan (alignment) antar setiap elemen dalam perusahaan.
 
Saya bisa memahami jika sering terjadi perbedaan cara pandang CEO dengan para manager. Karena, CEO memandang dari posisi yang lebih tinggi; sehingga saling berkaitannya setiap elemen perusahaan secara jelas kelihatan. Sedangkan para unit leaders hanya berkutat dengan divisi atau departemen atau unit kerja yang dipimpinnya saja. Mereka tidak melihat bagaimana unit bisnisnya terhubungan dengan unit lainnya. Mereka memandang bisnis, dari level yang berbeda.
 
Sales Manager misalnya, hanya melihat aspek ‘penjualan’ saja. Urusan manufacturing? E-ehm. Sebaliknya, Production Manager hanya berkutat dengan urusan penyediaan produk saja. Mereka jarang berkomunikasi. Dan ekspektasi keduanya, sering tidak singkron.
 
Bagaimana dengan manager keuangan, SDM, pergudangan, logistik, dan unit leaders lainnya? Beti saja situasinya. Beda tipis. Semuanya, memandang bisnis dari kacamata sendiri-sendiri. Sedangkan CEO, memelototi semuanya.
 
Mereka bagus secara individu. Tapi pola pikir dan cara kerja yang terkotak-kotak itu mengurangi organizational effectiveness di level perusahaan. Itu yang sering membuat CEO pusying tujuh kewliwling. Masing-masing leader merasa sudah bekerja keras, tapi tidak terbangun alignment antar elemen. Sehingga kerja keras mereka, tidak selaras. Akibatnya, banyak masalah yang timbul.
 
Bukankah sering terjadi team sales kesal pada team produksi karena item yang dipesan customer tidak tersedia? Team produksi juga kesal kepada team sales karena item yang sudah diproduksi malah menumpuk di warehouse karena serapan pasarnya rendah sekali. Lihat bagaimana kekacauan terjadi. Dan kejadian itu, dialami banyak perusahaan.
 
Dari kursi CEO, kekacauan itu mudah dikenali. Karena by nature, CEO menggunakan helicopter view. Tapi dari kursi masing-masing manager unit, pemandangan yang ada hanya seputar kepentingan unit kerjanya saja. Tidak aneh jika hubungan CEO dengan Managers sering agak tegang.
 
Lalu, bagaimana solusinya?  Sejauh pengalaman saya, semua unit leader itu harus mulai dilatih menggunakan helicopter view juga. Yes but how? Make them comprehend the business process dong.
 
Tidak cukup memahami proses di unit bisnisnya saja. Mereka harus paham proses bisnis perusahaan secara keseluruhan. Sehingga bisa melihat kesalingterkaitan antar elemen.
 
Terus gimana caranya supaya para unit leader itu paham the whole business process perusahaan?
 
Mungkin ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh para CEO untuk meningkatkan pemahaman para leadernya terhadap business process and alignment. Tapi kalau saya, melatih dan mengkomunikasikannya melalui simulasi. Saya mengembangkan sebuah simulasi bisnis yang memungkinkan para unit leaders memahami fundamental Business Process perusahaan secara komprehensif. Kenapa harus melalui simulasi?
 
Karena simulasi, merupakan sarana yang sangat ampuh untuk membantu kita memahami suatu hal yang kompleks. Simulasi, jauh lebih efektif dibandingkan dengan mendengar ceramah atau kuliah kan? Selain itu, simulasi memungkinkan kita untuk having fun juga. Sehingga selama pembelajarannya itu, suasananya asyik, syeru, dan menyenangkan.
 
Dari situ kemudian muncul kesadaran dan komitmen para leader untuk meningkatkan allignment dan collaboration antar unit bisnis atau departemen dalam perusahaan. Saya menyebutnya S-TEDServing The Emperor’s Dinner simulation.
 
Hari Rabu kemarin, simulasi S-TED yang saya rancang ini dimainkan lagi di Jakarta untuk kesekian kalinya. Melalui simulasi itu, kita belajar memahami proses bisnis dan kesalingterkaitan antar elemen. Dan yang terpenting adalah; membangun alignment antar departemen di perusahaan.
 
Semua peserta memberikan feedback positif terhadap simulasi itu. Insightful, dan sarat dengan pembelajaran. Insya Allah, hari Rabu besok kita akan mainkan lagi simulasi tersebut di Jakarta untuk group lainnya.
 
Jika Anda memiliki cara atau mekanisme sendiri untuk melatih para leader Anda mengenai subyek ini, lakukan saja. Jangan biarkan mereka hanya terkungkung oleh ruang dan skala kerja yang hanya sebatas departemennya saja. Broaden their awareness. Lalu bangun pemahaman dan kesadaran mereka terhadap pentingnya membangun corporate and organizational alignment.

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment