Home / Artikel / Memahami Yang Kita Benci dan Sukai

Memahami Yang Kita Benci dan Sukai

 
Manusia, cenderung berpihak kepada segala sesuatu yang dikaguminya. Betul ya?  Itu, berlaku dalam banyak aspek kehidupan. Dalam olah raga, misalnya. Ada kesebelasan favorit. Di arena balapan juga ada pembalap idaman. Dikampus, ada guru atau dosen yang kita kagumi. Dalam masyarakat, kita menggandrungi tokoh-tokoh idola. Tak penting bagaimana sepak terjangnya. Atau siapa sesungguhnya dia. Dibelaaaa mati-matian. Tak jarang kita sampai berantem karenanya. Bukankah konflik yang terjadi di muka bumi saat ini terkait dengan hal-hal begitu? Kita menyukai sesuatu, dan membenci yang lainnya.
Salah satu episode CSI (Crime Scene Investigation) menceritakan tentang peristiwa pembunuhan. Dari hasil olah TKP ditemukan adanya hubungan antara kejahatan itu dengan lukisan berharga jutaan dollar. Hal itu, menuntun polisi menuju ke rumah seorang miliarder pemilik koleksi lukisan-lukisan mahal. Setelah melalui lika-liku panjang, akhirnya terpecahkanlah kasus itu. Pelaku kejahatan itu melibatkan anak sang kolektor. Memang bukan dia pembunuhnya. Melainkan temannya yang memperalat dirinya.
Sebelum pamit, agen CSI menyerahkan sebuah bungkusan kepada sang kolektor. Setelah dibuka, isinya lukisan seharga jutaan dollar. Tetapi orang itu memastikan bahwa koleksi miliknya tersimpan ditempat aman. “Coba Anda perhatikan baik-baik lukisan milik Anda itu,” demikian kata sang agen. “It’s fine,” jawabnya. Dia tidak menemukan ada yang aneh padanya. Lalu, agen CSI memintanya untuk membandingkan kedua lukisan itu. Dia tetap tidak menemukan perbedaannya. Sampai akhirnya dia bertanya dengan ragu:”Maksudmu…., lukisan yang selama ini saya kagumi ini… palsu?”  Dan yang membuatnya semakin terkejut adalah; ternyata anaknya sendiri yang memalsukannya.
Ini memang hanya kisah dalam film. Tapi sarat dengan nasihat. Bahwa ternyata, kita sering terjebak pada kekaguman dan keberpihakkan membabi buta. Kita diingatkan untuk tetap kritis terhadap segala sesuatu yang kita kagumi. Kita disadarkan untuk terus mempelajari segala sesuatu secara mendalam hingga benar-benar paham. Supaya tidak terjebak kepada kekaguman yang menyesatkan. Biar tidak semakin jauh dari kebenaran. Agar tidak alergi terhadap sesuatu yang lebih baik dari segala hal yang selama ini kita kira baik. Apakah itu berupa benda-benda, kelompok, atau ketokohan seseorang.
Hal ini sejalan dengan firman Allah ta’ala dalam surah 2 (Al-Baqoroh) ayat 216 ini;”….Boleh jadi kamu membenci sesuatu. Padahal dia amat baik bagimu.  Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui. Sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Maka ada 2 aspek penting yang layak kita renungkan. Pertama, fanatisme yang berlebihan. Tak jarang kita mempertengkarkan sesuatu hanya karena fanatisme. Kita membela atau mempertahankan sesuatu bukan karena layak untuk dipertahankan. Melainkan karena ego. Karena loyalitas pada kelompok. Karena kesamaan keberpihakkan.  Sehingga siapapun yang berbeda dengannya, harus berhadapan dengan gua!
Kedua, menutup mata dari informasi yang komprehensif. Tentu, kita tahu apa atau siapa yang kita kagumi itu. Tapi cukup komprehensifkah pengetahuan kita tentangnya? Ataukah hanya tahu kulit-kulitnya saja. Sehingga kita tidak tahu jika keyakinan kita itu sudah dipalsukan oleh orang-orang yang paham kebodohan kita? Seperti lukisan yang kita kira aseli. Tapi ternyata sempurna dalam kepalsuannya. Sampai kita tidak mengenali lagi mana yang aseli, dan mana yang palsu itu.
Saat kita terus terbuka dengan informasi, maka kita akan semakin tahu. Sehingga keberpihakan kita. Atau kekaguman kita, bukan didasarkan pada ego, emosi, atau atribut korps semata. Melainkan karena kita memahaminya. Boleh jadi, setelah paham yang sesungguhnya, kita meninggalkannya kan? Ketika akhirnya kita tahu yang sesungguhnya. Namun, boleh jadi juga kita tahu bahwa memang itu benar-benar aseli. Maka akan semakin kokoh keyakinan kita kepadanya. Tanpa harus taklid lagi pada kepercayaan dan kekaguman yang tidak dilandasi dengan pengetahuan dan pemahaman.
Catatan kaki:
Fanatisme yang tidak didukung oleh pengetahuan itu seperti kekaguman kepada lukisan abstrak. Kita tidak begitu yakin apa artinya. Tapi, kita memaksa diri mengaguminya. Bahkan kita sendiri pun tidak mengerti apakah fanatisme itu asli? Atau sudah dipalsukan.
 
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKADARUS – Dadang Kadarusman

Artikel
 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment